Cerpen Haldi Patra (Haluan, 15 Oktober 2017)

Pasar Malam di Pasir Putih ilustrasi Haluan.jpg
Pasar Malam di Pasir Putih ilustrasi Haluan

Menyusuri daerah Selatan. Lautan biru tarhampar luas di sebelah kanan dan perbukitan hijau menjulang di kiri. Ombak sangat bersemangat berpacu-pacu disaksikan rayuan pohon kelapa yang dengan malas diterpa angin pesisir. Perjalanan yang tidak seberapa jauh, memakan waktu tempuh lebih lama karena seakan merugi jika hanya melalui daerah indah ini tanpa melihat kiri dan kanan. Laut seakan mengajak untuk berhenti sejenak untuk dinikmati keindahannya, melepas lelah setelah berjam-jam perjalanan.

Sore hari ini jalanan lengang. Tetapi perkampungan selalu saja ramai menjelang senja. Tiap-tiap kedai kopi selalu dikunjungi sekumpulan orang yang bersantai menikmati petang. Laut biru dengan pasir putih, mengantarkan angin sepoi-sepoi memupus pahit getir hidup karena dirundung kemiskinan. Satu atau dua gelas kopi menghilangkan ketegangan selepas menghadang marabahaya laut atau remuk redam tubuh sepulang dari ladang di tengah rimba.

Memasuki suatu kampung, jalanan yang tadinya lengang berubah menjadi kemacetan memuakkan seperti yang biasa terjadi di kota besar. Ratusan kendaraan berjejal di tengah jalanan aspal berlubang. Terhenti untuk beberapa saat, beringsut menjejaki meter demi meter. Pengendara sepeda motor harus jeli untuk menjejal ruang kosong selebar cukup satu meter untuk bisa tetap melaju. Tidak ada polisi lalu lintas dengan rompi warna stabilo yang berusaha membuat lalu lintas kembali normal. Meskipun bisa ditemui, polisi hanya berjaga di depan polsek, menyaksikan kemacetan di jalan menuju Selatan.

Apa gerangan yang menyebabkan kemacetan pada sebuah kampung di Selatan ini? Ternyata bukan karena jalanan kecil yang berlubang. Bukan pula karena ada sapi yang ditabrak oleh sebuah mobil. Tidak juga karena sebuah truk yang mengalami pecah ban beberapa kilometer di depan. Pastinya polisi dengan rompi warna stabilo hijau tidak hanya akan berdiri di depan polsek jika memang ada insiden.

“Ada apa di depan sana, uda?”

“Ada pasar malam,” kata seorang lelaki muda sambil tersenyum.

“Pasar malam?”

Daerah Selatan, daerah yang sedikit terlupakan modernisasi. Ekonomi masyarakat di sini mayoritasnya, kalau tidak ke laut menangkap ikan, maka ke rimba membuka ladang. Beberapa lainnya berdagang. Sedang sedikit sekali mereka yang bekerja sebagai pegawai pemerintah yang dijanjikan dana pensiun. Namun, lebih banyak yang mencoba peruntungan nasib di rantau orang. Dari seorang kawan yang juga berasal dari Selatan, aku diberi tahu bahwa orang di sini banyak yang tidak benar-benar tahu apa artinya kaya. Sedangkan bagi yang tahu, tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa kaya. Kemiskinan di sini adalah kebersahajaan yang dirayakan bersama-sama. Upah ratusan ribu per bulan cukuplah untuk membuat mereka tetap hidup dari tahun ke tahun.

Puluhan ribu yang didapat di siang hari tidaklah masalah untuk dihabisan pada malam nanti untuk mencicipi hiburan di pasar malam. Buayan Kaliang digelar di sebuah lapangan. Roda-roda maut memekakkan telinga dengan desingan knalpot yang menderu. Asap dari sate dan mie ayam mengepul menggugah selera di panasnya udara malam pesisir. Gerai lempar gelang berhadiah rokok dan kebutuhan pokok berjejer dari timur ke barat.

Puluhan orang antri menunggu giliran mereka untuk menaiki Buayan Kaliang. Beberapa pemudi muntah setelah menaikinya. Remaja belasan tahun memakai topi berkaca mata hitam di malam hari menikmati semangkok mie ayam bersama para gadis. Seorang pria setengah baya tertawa menerima hadiah sebungkus rokok, tiga buah sabun mandi, dan lima botol minyak goreng setelah memenangkan permainan bowling ajaib. Seorang lainnya terpaku setelah merogoh kantongnya, tidak lagi menemukan selembar pun uang. Dia terlalu asyik melempar-lempar gelang, sehingga tidak menyadari lemparan terakhirnya adalah uang terakhir yang ia miliki malam itu.

Para pemuda, menikmati minuman sambil berdendang ria di kafe sepanjang pantai. Sebuah speaker besar disediakan oleh tiap kafe untuk menarik pengunjung. Lama tidak berjalan-jalan ke Selatan, aku tidak tahu bahwa teknologi karaoke telah membudaya di sini. Kaca mata hitam dan topi tetap tidak tinggal dikenakan oleh para pemuda ini.

Pasar malam di Selatan, lebih semarak dari pada pasar malam di Ibukota negara. Para pengunjung datang untuk menikmati hiburan yang tersedia. Bukan untuk duduk-duduk mengambil gambar dari ponsel dan sekadar chatting dengan handai taulan (entah di mana handai taulan itu berada). Bukan pula untuk memamerkan pakaian bagus yang mereka kenakan.

Semua orang tidak begitu peduli dengan apa yang kau pakai. Ponsel apa yang kau gunakan. Apakah tasmu asli seharga puluhan juta atau bajakan seharga enam puluh lima ribu. Orang-orang hanya memedulikan bagaimana untuk bisa menikmati sensasi diputar-putar buayan kaliang. Ikut merasakan keseruan melihat para pengendara motor memilin tali gas di dinding tong maut. Seberapa tepat lemparan gelangmu sehingga kau berhak membawa pulang hadiah yang disediakan. Dan menikmati suguhan pertunjukan musik dangdut oleh artis lokal.

Teman seperjalanan memarkir kendaraan untuk ikut menikmati kemeriahan pasar malam di Pasir Putih.

“Di mana lagi kau bisa menemukan hiburan seperti ini?” katanya.

Tetapi, tidaklah cocok bagi seorang lelaki muda tinggi dengan potongan rambut pompadour, brewokan, dan memakai celana Louis berjalanan di tengah masyarakat yang berjalan sepuluh kilometer menuju pasar malam ini. Sepatu kulit coklat mahalnya tidak akan cocok dipijakkan pada lapangan rumput berlumpur yang puluhan tahun terbiasa diinjak oleh sandal jepit.

Dengan segera lelaki muda itu kikuk. Pada sebuah festival di ibukota, dia akan dilirik oleh perempuan muda dan berakhir dengan sebuah kencan di sebuah kafe di pusat kota. Tetapi di sini, dia tak ubahnya seperti badut yang dibayar murah oleh juragan buayan kaliang untuk menarik perhatian para pembeli tiket.

Biarlah seorang teman itu dicemooh para gadis Selatan ini. Suatu hal yang kurang pada pasar malam ini begitu membuat aku penasaran. Kekurangan ini bagiku sungguh kentara, terlebih setelah lima belas tahun tidak menjejakkan kaki di Selatan. Kekurangan itu adalah suatu yang dulu aku adalah bagian di dalamnya. Kekurangan yang saat ini masih aku cari-cari dan tetap tidak aku temukan. Kekurangan yang tadinya tidak terpehatikan olehku, sebelum memasuki wilayah Selatan. Kekurangan yang membuat aku rindu akan masa-masa belasan tahun lalu dalam hidupku beserta hidup anak-anak pada tahun 2000-an awal.

Dimana mereka para pejuang cilik yang selalu menyandang senapan mainan berpeluru plastik bulat kecil itu?

 

*Haldi Patra. Bergiat sebagai Pelapak di Teras Literasi, Universitas Negeri Padang.

Advertisements