Cerpen Budi Afandi (Banjarmasin Post, 15 Oktober 2017)

Kue Pembuka Pintu Langit ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Post Group.jpg
Kue Pembuka Pintu Langit ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post Group

Pintu langit terbuka hanya sekali dalam sehari. Saat itu terjadi, awan menjelma menjadi makhluk-makhluk yang pernah hidup di bumi bersama manusia. Makhluk- makhluk itu akan bersenang-senang bersama siapa saja yang telah memberi salam kepada penjaga pintu langit.

Nanti akan Ayah katakan seperti apa salam itu, bersabarlah.

Di tangan kiri penjaga pintu langit selalu ada nampan berisi suara-suara paling merdu, suara berbentuk kue seperti kue-kue buatan Ibu. Kue itu akan diberikan kepada mereka yang telah memberi salam kepada penjaga pintu langit. Hanya dengan memakan kue itu manusia dapat bermain bersama makhluk-makhluk langit yang sudah meninggalkan bumi.

***

Kelinci bersayap akan menghampiri orang yang menengadah ke langit sore, tepat saat penjaga pintu memegang gagang pintu langit.

Setelah lewat waktu itu, tak akan ada kelinci-kelinci bersayap, meski manusia menengadah sepanjang sore, saat pintu langit sudah terbuka.

Waktu adalah kuncinya, Nak. Manusia yang menengadah tepat pada saat tangan penjaga menyentuh gagang pintu langit adalah manusia yang sedang menyampaikan salam. Dan, kelinci-kelinci langit menjadi penanda salam seseorang sudah dijawab.

Sekali lagi, waktu adalah kuncinya, Nak.

***

“Kau ingat kue buatan lbu?”

“Nah seperti itulah kue-kue langit.”

“Bedanya, kue-kue langit bisa bernyanyi.”

Dari tubuh kue-kue langit keluar suara-suara merdu, begitu merdunya sampai-sampai setiap orang tidak akan sadar telah memakan kue itu hingga tandas. Dan, ketika seseorang telah menghabiskan kuenya, seketika itu pula orang itu akan berada di taman yang dipenuhi makhluk-makhluk langit dan tanaman yang menyerupai kaktus.

“Tanaman itu setinggi tubuhmu. Ya kira-kira seperti itu. Tak ada tanaman lain sejauh kau memandang.”

“Hanya ada satu tanaman. Bukan kaktus. Hanya menyerupai saja. Dan, tidak berduri.”

Tanaman itu adalah pohon kue langit, dari pohon itulah kue-kue langit dipanen. Kue-kue langit tumbuh di seluruh bagian seperti duri pada kaktus. Dan, saat kue-kue sudah matang, peri akan lahir untuk memanennya, hanya peri yang dapat memanennya, sebab pohon kue itu rumah mereka.

“Peri-peri itu seperti kita. Tubuh mereka sedikit lebih kecil darimu. Mereka memiliki tangan dan kaki. Benar-benar seperti manusia. Bahkan rambut mereka juga sama seperti manusia. Mereka tidak memiliki sayap, Nak. Hanya kelinci yang bersayap. Yang membedakan peri-peri dari manusia adalah kulit mereka berwarna-warni, serta pakaian mereka terbuat dari air yang jernih.”

“Di sana tidak ada sungai, Nak. Juga tidak ada laut.”

Taman itu hanya hamparan tanaman menyerupai kaktus dengan peri-peri yang sibuk memetik kue langit sambil bernyanyi, dan berbagai makhluk langit yang sudah tak tinggal di bumi.

“Tentu, kau dapat bermain di sana, bersama manusia-manusia yang juga mendapat kue langit. Tentu ada manusia di sana, meski tidak banyak. Manusia yang menengadah di waktu yang tepat dan dihampiri kelinci-kelinci bersayap.”

***

Tidak ada yang tahu berapa banyak makhluk yang ada di langit. Mereka bermain. tertawa dan bernyanyi seperti manusia.

“Tentu mereka bisa bicara, seperti kita, tentu saja. Ah, kalau saja makhluk-makhluk itu masih berada di muika bumi, pasti bumi akan sangat meriah.”

“Kenapa mereka tidak lagi berada di muka bumi? Ayah Juga pernah menanyakan itu kepada penjaga pintu langit. Katanya, semua makhluk di sini diciptakan untuk hidup di alam yang bersih, tidak mungkin lagi mereka hidup di alam manusia.

Dulu ketika bumi masih baru diciptakan. Makhluk-makhluk itu hidup bersama manusia. Mereka dan manusia bisa sesuka hati pergi ke langit, sebab saat itu pintu langit tidak pernah tertutup.

“Saat itu juga belum ada pohon-pohon kue langit, Nak.”

***

“Nah itu Ibu sudah datang. Ibumu pasti membawa kue-kue yang menyerupai kue langit. Jadi kita harus menghabiskannya.”

“Besok kita akan mengucapkan salam kepada penjaga pintu langit.”

***

Di sana tidak ada air. Tidak ada sungai. Tidak ada laut.

“Jangan cemaskan kakimu. Di sana sandal atau sepatu tidak diperlukan. Tidak ada kerikil.”

“Kita di langit, jadi jangan cemaskan hujan atau terik.”

“Bergegaslah, karena penjaga pintu langit tidak suka orang mengganggu tidurnya.”

Penjaga pintu langit akan tertidur setelah membagi habis kue-kue di nampan.

“Ia akan lerjaga tepat saat Ibumu memasuki pekarangan.” ***

 

BUDI AFANDI. Kelahiran Dusun Bilatepung, Lombok Barat, NTB 20 Juni 1983. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang ini menulis novel, cerpen dan puisi. Karyanya dimuat di surat kabar lokal dan nasional; dalam Antologi Penyair NTB: dari takhalli sampai temaram (2012) untuk sajak; dan dalam: Badja Matya Mantra (2013) dan Kebaikan Istri (2017), untuk cerpen. Bermukim di Jakarta Selatan.

Advertisements