Cernak Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 15 Oktober 2017)

Ketika Prenjak Berkicau ilustrasi Suara Merdeka
Ketika Prenjak Berkicau ilustrasi Suara Merdeka

Minggu pagi, Johan dan Ayah sedang mencabuti rumput di halaman. Johan mendengar kicau prenjak di pohon mangga. Johan berkata kepada Ayah, “Akan ada tamu di rumah kita, Ayah.”

“Dari mana kamu tahu?” tanya Ayah.

“Kata teman-teman Johan, kalau ada prenjak berkicau, itu tanda akan ada tamu,” jawab Johan.

“Ada-ada saja kamu ini,” sahut Ayah tertawa.

Pukul 10.00 siang, Johan sedang membaca majalah anak di ruang tamu. Tampak mobil merah berhenti di halaman. Dari balik jendela ruang tamu, Johan melihat seorang lelaki paruh baya keluar dari mobil itu. Johan bergegas membuka pintu dan berseru, “Paman Herman!”

“Assalamualaikum, Johan,” sapa Paman Herman.

“Waalaikumsalam, Paman,” sahut Johan.

“Jam berapa dari Semarang, Paman?”

“Jam berapa, ya? Sekitar jam delapan, kalau tidak salah,” jawab Paman Herman.

Paman Herman menenteng tas plastik hitam, lalu menyerahkannya pada Johan.

“Paman bawa oleh-oleh buat kamu,” kata Paman Herman.

Johan membuka plastik itu. Isinya beberapa buku cerita. Johan melonjak-lonjak gembira.

“Terima kasih, Paman. Terima kasih,” Johan mencium tangan Paman Herman.

Johan dan Paman Herman masuk rumah. Paman Herman berbincang-bincang dengan Ayah dan Ibu di ruang tamu. Johan membaca buku pemberian Paman Herman di ruang tengah.

Ketika tiba waktu makan siang, mereka makan bersama. Usai makan siang, Johan berbisik pada Ayah.

“Benar bukan, Yah? Prenjak berkicau tanda akan ada tamu?”

“Kamu ini ada-ada saja,” sahut Ayah tersenyum.

Kemudian Johan dan Paman Herman bermain catur. Inilah saat yang menyenangkan bila Johan bertemu Paman Herman. Mereka selalu bertanding catur. Kali ini Johan yang memang, dua kali.

“Wah, kamu sudah makin hebat main catur. Paman nyerah, deh,” kata Paman Herman.

“Ayo, Paman. Main lagi,” sahut Johan bersemangat.

Paman Herman melirik jam tangan.

“Maaf, Johan. Paman harus berangkat. Paman ada tugas wawancara dengan pejabat di Jakarta. Nanti malam Paman harus sudah sampai Jakarta,” kata Paman Herman yang seorang wartawan.

“Ah, Paman. Mengapa sebentar saja ke sini?” sahut Johan kecewa.

Paman mengacak-acak rambut Johan.

“Kali lain Paman akan main lagi ke sini dan lebih lama. Kalau perlu Paman akan menginap,” kata Paman Herman.

“Benar, Paman? Paman akan menginap? Asyik! Janji ya, Paman?”

“Ya. Paman janji.”

***

Pukul 21.00, Johan bersiap untuk tidur. Seperti biasa, Ayah menyelimuti Johan dan membimbing membaca doa sebelum tidur.

“Ayah,” panggil Johan, ketika Ayah hendak ke luar kamar.

“Ya, Nak?” sahut Ayah.

“Ayah masih tak percaya kalau kicau prenjak itu tanda akan ada tamu?”

Ayah tersenyum. Duduk di tepi ranjang, mengeluarkan ponsel dari celana panjangnya.

“Lihat,” kata Ayah menunjukkan layar ponselnya.

“Ini SMS dari Paman Herman kemarin. Kamu bacalah.”

Johan membaca SMS di ponsel Ayah.

Assalamualaikum, Mas Hasan. Besok Minggu saya akan ke Jakarta. Saya akan mampir ke Pekalongan. Saya bawa buku-buku cerita untuk Johan. Tapi jangan beritahu Johan, ya? Buat kejutan. Wassalamualaikum.

Usai membaca SMS itu, Johan tertegun.

“Jadi, Paman Herman datang bukan karena kicau prenjak?” tanya Johan.

Ayah tersenyum.

“Sudah malam dan kamu sudah berdoa. Sekarang tidurlah,” kata Ayah, lalu berjalan hendak meninggalkan kamar Johan. Ketika Ayah hendak menutup pintu kamar, Johan memanggilnya.

“Ayah.”

“Ya, Nak?”

“Mengapa prenjak berkicau, Yah?”

Ayah berpikir sejenak, tersenyum, lalu menjawab.

“Mungkin karena prenjak sedang bahagia, Nak. Sudah, ya? Tidurlah, Nak.”

Ayah menutup pintu kamar Johan.

Johan memejamkan mata. Bibirnya tersenyum dan akhirnya terlelap dalam tidur yang nyenyak. (58)

Advertisements