Cerpen Abdul Hadi (Kompas, 15 Oktober 2017)

Hikayat Tukang Kayu ilustrasi Puja Anindita - Kompas.jpg
Hikayat Tukang Kayu ilustrasi Puja Anindita/Kompas

Ketika tubuhnya menjadi lapuk digasak wabah yang tak dikenal, tak diragukan lagi, ajal Kalan sudah berada di ujung tanduk. Melihat parahnya penyakit yang bersarang di badannya, rasanya tak mungkin nyawanya terselamatkan. Apabila ia meninggal, mungkin inilah akhir dari hikayat tukang kayu yang kisahnya kesohor di sepanjang daratan Karuman.

Awalnya, pekerjaan sebagai tukang kayu hanyalah pekerjaan biasa, tak berbeda semacam tukang rotan, tukang besi, tukang dempul, dan tukang-tukang lainnya. Namun, karena saban hari harus merayapi hutan, menjejak perdu, serta menebang beraneka-rupa pohon, mau tak mau, beberapa tukang kayu yang sangat erat memegang adat selalu membentengi diri dengan mantra. Orang-orang Kutai percaya bahwa hutan memiliki penunggu, pohon-pohon mempunyai penjaga, dan bala celaka selalu mengintai pendatang asing yang berulah tingkah semaunya.

Sejak saat itu, tukang-tukang kayu diberi mandat sebagai penjaga adat. Penguasa mantra dan aji pelindung. Turun-temurun mereka diajarkan silat tuha, bela diri yang kini sudah langka, kalau tidak bisa disebut punah karena tak lagi ada penerusnya. Bukan apa-apa, selain karena hutan Karuman disesaki binatang buas, tak jarang para tukang kayu tak sengaja bersitatap dengan orang-orang Benuang, rumpun suku pedalaman yang kerap berburu babi hutan dengan tombak dan sumpit berbisa. Sedikit gesekan, bisa berakibat fatal. Tombak yang seharusnya diloloskan ke tubuh babi, karena salah paham, dapat beralih sasaran menuju para tukang kayu. Di kesempatan semacam itulah, ajang pamer kesaktian diadu. Lincah kaki menghindari tombak serta kemahiran tangan mengayunkan mandau bukan lagi sebuah kebanggaan. Cukuplah Kalan, si ketua tukang kayu, memasang dada sebagai perisai untuk dilempar tombak dan ditiup sumpit yang konon katanya dapat menembus kayu ulin karena ketajaman mata baja yang diasah semalaman suntuk, tak segaris pun menggores kulit tukang kayu setengah baya tersebut. Tak henti tunggang-langgang orang-orang Benuang melarikan diri dari rombongan tukang kayu, padahal sebilah mandau pun belum ditarik dari sarungnya. Dari kejauhan, dapat terlihat mereka terbahak-bahak, mentertawakan pongah orang-orang Benuang yang terkencing-kencing ketakutan.

Namun, itu hanyalah riwayat masa lalu, kejayaan tukang kayu telah bergeser. Tak lama, mungkin tiga tahun silam sejak wabah mematikan itu menyerang tukang-tukang kayu yang ada di dusun ini. Satu demi satu mereka dijangkiti penyakit yang tak ada penawarnya. Entah sudah berapa puluh tabib didatangkan dari berbagai pelosok tempat, tetapi semuanya angkat tangan. Karena tak seorang tabib pun bisa menyembuhkan penyakit itu, para dukun yang tidak sedikit pun mengerti ramuan dan obat-obatan mulai berspekulasi bahwa para tukang kayu telah memasuki wilayah paling dalam di hutan Karuman. Lelembut yang berdiam di wilayah sana menjadi marah dan meniupkan penyakit sebagai balasan karena telah merusak rumah-rumah mereka. Perkataan ini cukup masuk akal karena wabah tersebut hanya menjangkiti tukang-tukang kayu dan tak menyerang tukang rotan, tukang besi, tukang dempul, dan tukang-tukang lainnya.

Tak lama sejak wabah itu melanda, maut datang seperti kokok ayam di fajar yang masih petang, bersahut-sahutan dari satu rumah ke rumah lainnya, seolah-olah pada bulan itu, malaikat pencabut nyawa berpesta-pora merayakan kematian.

Setelah rekan-rekannya tumbang, rupanya ganasnya penyakit tak juga kuasa merenggut nyawa Kalan, meskipun tubuhnya letai, ia masih menguarkan napas tanda tak menyerah dengan wabah keparat tersebut. Tubuhnya kini bertonjolan tulang, tetapi keinginannya untuk berobat tak kunjung padam. Sekalipun tabib-tabib dusun telah angkat tangan, ia tahu, masih ada satu tabib yang belum diundang. Namun, akan selalu ada konsekuensi apabila mengundang tabib yang satu ini.

“Kami tak sudi mendatangkan tabib tua itu,” tukas kepala adat ketika Kalan mengajukan kemauannya dengan suara parau tersendat-sendat.

“Tapi siapa lagi yang bisa menyembuhkanku?”

Kepala adat tafakur, melempar pandang ke sekujur jasad ketua tukang kayu itu. Penyakit itu telah menghisap seluruh tenaga dan kemudaan Kalan. Kekuatannya diperas keluar dengan paksa, seperti ganggang sungai yang aslinya berair, tetapi kini berubah kerontang karena mengering.

Sebenarnya sebelum wabah mematikan itu menyerang, kejayaan para tukang kayu pun sudah berakhir. Sejak kompor-kompor minyak bertebaran di pasar kecamatan, penduduk dusun lebih suka memasak tanpa menggunakan kayu bakar. Selain mudah, kompor-kompor juga praktis, berbeda dengan kayu. Menanak nasi atau merebus ubi menggunakan kayu bakar terlampau ruwet, selain harus menyalakan api terlebih dahulu, asap-asap yang menguar dari tungku selalu memerihkan mata. Tak jarang seluruh ruang rumah menjadi sesak diluapi asap dari dapur.

Perubahan itu menjadikan kayu-kayu bakar tak lagi laku terjual. Kalau bukan dipercaya sebagai penjaga adat, tentulah pekerjaan sebagai tukang kayu layak disebut pekerjaan hina, martabatnya meluncur di bawah tukang besi, tukang rotan, tukang dempul, dan tukang-tukang lainnya. Sisa-sisa kayu yang tak laku terjual, oleh beberapa tukang kayu dibakar untuk dijadikan arang. Saat itu, orang-orang kecamatan lebih menghargai arang daripada kayu mentah. Kalau bukan mengolok-olok pula, tentulah mereka tak bisa disebut sebagai tukang kayu lagi, rasanya tukang arang lebih layak disematkan sebagai julukan baru sejak kayu-kayu itu beralih fungsi menjadi bongkahan-bongkahan hitam sebagai bahan bakar untuk menyate daging atau memanggang ikan. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat, hingga saat ini mereka tetap dipanggil tukang kayu. Karena jasa mereka jugalah, para penebang liar tak berani menyentuh hutan Karuman. Pernah suatu ketika, seorang bos penebang kayu marah karena tahu gelondongan kayu yang mereka tebang dibelah-belah menjadi potongan kayu bakar. Ia datang menuju gubuk kediaman Kalan. Tak sampai sepuluh menit setelah masuk gubuk, seorang bos yang datang dengan dada pias penuh amarah, harus digotong pulang dengan hidung disumpal kapas karena berani melawan tukang kayu tersebut. Sejak itu, tak seorang pun penebang liar yang berani mengambil kayu-kayu ulin yang terserak di kedalaman hutan Karuman.

“Baiklah, kalau bukan karena terpaksa, tak mau aku memanggil tabib itu,” dengus ketua adat, “Akan kusuruh anakku sendiri untuk menjemputnya.”

Kalan hanya mengulum senyum getir, segetir kakinya yang tergetar-getar kesakitan.

***

Tabib itu datang sehari setelah dipanggil ketua adat. Telinganya besar, panjang, dan menjuntai dipenuhi anting-anting yang saling berdesakan. Sangat khas, identitas perempuan pedalaman yang teguh dengan takhayul dan ilmu hitam.

“Meskipun aku berada di dusunmu, kau tak bisa mengaturku semaunya.” Itu kata-kata pertama yang keluar dari rongga mulut yang merah dilepahi sirih dan pinang.

“Kalau bukan karena kemampuanmu yang kesohor, tak mungkin aku memanggilmu.”

“Jaga mulutmu ketua adat, kau sama sekali tak memiliki sopan santun kepada seorang tamu yang bersedia membantu,” cetusnya membalas.

Dengan tampang yang jelas-jelas tak suka, akhirnya tabib itu disuruh juga memeriksa keadaan Kalan.

Tanpa membuang waktu, perempuan itu pun meletakkan selembar tangannya di atas dahi tukang kayu itu. Berkali-kali mantra penawar rasa sakit ia rapal, bibir gelapnya ia komat-kamitkan. Matanya yang dipenuhi celak hitam, terbuka-terpejam sambil membelit kedua tangan Kalan dengan seutas kain, menahan getar yang timbul dari tubuh ringkih yang diempas rasa sakit yang amat dalam.

“Tinggalkan aku sendirian bersama tukang sakit ini!” Raung si tabib, “Aku tak bisa bekerja di bawah tatapan banyak orang.”

Ketua adat mendengus. Sedongkol apa pun hatinya, mau tak mau ia mesti menuruti kata-kata tabib keparat itu—kalau ia mau melihat kesembuhan tukang kayu terakhirnya. Dengan isyarat tangan, ia memerintahkan beberapa kerabat yang membesuk Kalan untuk segera beranjak keluar. Mereka tahu, tabib Benuang ini adalah tabib paling hebat dari semua tabib dusun yang ada di dataran Karuman. Sayangnya, ia berasal dari suku Benuang, suku yang telah lama bertikai dengan orang-orang Kutai.

Entah kapan pertikaian itu bermula, tak seorang penduduk yang tahu awal muasalnya, yang mereka tahu, sejak mereka lahir, para tetua adat telah menanak dendam dan meniup dengki satu sama lain. Secuil apa pun api yang terpantik dapat mengobarkan perang antarsuku. Bahkan untuk memanggil tabib yang satu ini, anak ketua adat harus membujuknya dengan tiga keping logam emas untuk meluluhkan perempuan bertelinga lebar yang kesohor juga mata duitannya itu.

***

Setelah hanya ada Kalan dan si tabib di ruangan gubuk, tanpa basa-basi, dengan lekas, dengan tangkas, perempuan tua itu membungkus mulut Kalan dengan kain hitam yang telah ia siapkan. Kedua kaki Kalan mengentak-entak kaget ditingkahi mulutnya yang berceracau tak jelas karena teredam belitan kain. Ia mengaum-aum seperti harimau sekarat menunggu kematian.

Dengan perlahan, tabib itu mengeluarkan belati kecil dari lipatan pinggangnya. Belati yang telah ia baluri air payau agar bisa menembus kulit kebal si tukang kayu. Sudah bertahun lamanya ia mempelajari tandingan aji dan mantra orang-orang Kutai, baru kali ini ia memiliki kesempatan mengujinya. Ia menatap jasad Kalan dengan mata membara seperti seorang jagal menghadapi kerbau yang akan ia sembelih lehernya….

Kelak, inilah keputusan yang paling disesali ketua adat. Setelah sejam tak terdengar suara apa-apa, mereka curiga, lalu mendobrak pintu gubuk Kalan. Di sanalah, di depan mata mereka, terhampar pemandangan yang paling memilukan. Jasad yang selama ini mereka pelihara, terbujur kaku tak bernyawa. Ruangan itu sunyi, seolah terbalut duka. Tabib yang seharusnya memeriksa tukang kayu itu lenyap, hilang dari tempat. Seakan-akan ia tak pernah ada. Tak pernah datang. Tidak pernah diundang.

Saat itu, setiap pasang mata yang melihat mayat Kalan tahu, para tetua adat tak akan tinggal diam.

Malam itu juga, orang-orang Kutai akan mengangkat senjata.

 

Catatan:

-Silat tuha, beladiri tua yang ada di tanah Kutai, bersenjatakan mandau dan mantra-mantra. Dipercaya menggunakan jin sehingga ketika Islam memasuki tanah Kutai, beladiri ini kian jarang ditekuni.

 

Abdul Hadi, menulis cerpen dan esai. Penulis asal Kalimantan Timur ini bergiat di Klub Buku Yogyakarta. Ia bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi.

Advertisements