Cerpen Rabitah Tasya Amaliah Lubis (Waspada, 15 Oktober 2017)

Hanya Ingin Dia ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Hanya Ingin Dia ilustrasi Denny Adil/Waspada

JAM dinding sudah menaikkan matahari ke puncaknya. Orang-orang sudah ramai di luar sana, menunggu acara dimulai. Aku masih di sini, duduk di atas kasur sembari menatap bingkai foto.

Seseorang mengetuk pintu, memanggil namaku berulang kali. Itu ayah, ia sudah kesekian kalinya ia memanggilku untuk keluar dari kamar. Aku tidak ingin, sungguh tidak ingin.

“Shabrina, ayo keluar. Sebentar lagi acaranya akan dimulai.”

Ayah terus mengatakan seperti itu sambil mengetuk pintu dan memutar knopnya. Percuma, aku mengunci pintunya. Dan ingat, aku tetap tidak ingin keluar meski diiming-imingi uang atau apa pun itu.

Hari ini ayah menikah. Benar, ia akan menikah lagi dengan wanita satu kantornya. Aku sungguh tidak terima dengan semua ini.

Awalnya, ketika ayah membawa wanita berhijab itu ke rumah, aku tidak curiga. Aku kira hanyalah teman kerja biasa yang menyelesaikan pekerjaan bersama ayah. Namun, semakin lama kecurigaanku muncul.

Wanita itu lebih sering datang ke rumah, bahkan mengajakku dan ayah makan malam bersama. Di akhir pekan pun tidak lupa ayah mengajaknya jalan-jalan. Aku sempat cemburu dengan kedekatan mereka.

Hingga suatu malam, ayah mengajakku berbincang di ruang tamu. Di sana sudah ada wanita itu. Ia tersenyum ke arahku. Aku tidak membalasnya, jahat memang. Aku sungguh tidak suka dengannya, kehadirannya merubah segalanya.

Dengan adanya dia, perhatian ayah berkurang. Sampai ayah berkata bahwa ayah akan menikah dengannya. Aku begitu terpukul. Tidak cinta lagi kah ayah dengan bunda?

Air mataku menetes membasahi kaca bingkai foto bunda. Ketukan pintu tidak berhenti. Dengan terpaksa aku turun dari kasur. Sempat berpikir sejenak, kasihan ayah sedari tadi menungguku dan membujuk untuk keluar.

Saat knop pintu kuputar, air mataku semakin deras. Aku tidak kuat jika membuka pintu nanti melihat ayah tengah mengenakan pakaian pengantin. Menyaksikannya mengucapkan ijab qabul untuk wanita lain.

Pintu terbuka. Ayah menatapku sambil tersenyum. Namun sedetik kemudian senyumnya memudar.

Aku menutup pintu kembali. Tapi ayah langsung menahannya. Karena tidak kuasa lagi, aku kembali ke kasur. Berbaring membelakanginya sambil memeluk foto ibu.

Kurasakan ayah duduk di ujung kasur. Ayah tidak keluar, kenapa ia tidak pergi saja keluar sana dan menikahi wanita itu? Semuanya akan mudah tanpa diriku.

Tangisku pecah, ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik ia meninggalkanku sendiri di sini. Tidak usah repot-repot menungguku untuk keluar dan merestui semuanya.

“Aku rindu bunda.”

Tanpa sadar, ayah sudah ada di lantai. Terduduk menghadapku yang terisak. Ia menghapus air mataku yang terurai di pipi. Tangannya yang berat mengelus rambutku.

“Aku cuma mau bunda, yah. Aku enggak mau yang lain,” ucapku dengan memejamkan mata.

Ayah tidak berkata-kata. Mulutnya membisu tapi raut wajahnya masih sama.

Tidak ada yang dapat menggantikan bunda. Siapa pun itu. Bunda hanya satu, dan tidak tergantikan. Tidak ada yang boleh mengambil posisinya. Baik itu di keluargaku maupun di hatiku. Bunda tetap bunda, bukan yang lain.

Lupus yang menggrogoti bunda membawanya ke Yang Esa 3 tahun lalu. Semenjak itu, semua berubah. Tidak ada lagi yang membangunkanku untuk sholat subuh. Tidak ada lagi yang memasakkan makanan kesukaanku. Dan tidak ada lagi yang mengecup keningku sesusah sholat berjamaah.

Aku menjadi gadis yang rapuh. Satu tiang yang menopang hidupku sudah rubuh. Aku menjadi gadis yang lemah. Kasih sayang ayah saja tidak cukup, aku rindu bunda.

Begitupun ayah, ia menjadi berbeda pula semenjak bunda tiada. Ia menjadi lebih pendiam, bidadari dunianya tidak ada lagi.

Tiga tahun merupakan waktu yang sulit kulewati tanpa bunda. Dan semuanya bertambah sulit ketika ayah bilang ia akan menikah lagi. Wanita yang sedang menunggu dinikahkan di luar sana membuat cinta ayah pada bunda perlahan menghilang.

Ayah bahkan tidak pernah mengajakku berziarah ke makam bunda. Hal itu semakin meyakinkanku bahwa ayah tidak lagi mencintai bunda. Rasa benciku semakin membesar dengan kenyataan yang aku tahu itu.

Bunda pasti sedih, sesaat itukah ayah mencintainya? Aku tidak menyangka. Aku yakin bunda sangat kecewa dengan ayah, apalagi aku yang merasakan langsung.

Kulihat ayah tertunduk. Aku harap dia menyesal dan membatalkan pernikahan. Mencintai bunda kembali dan menjalankan kehidupan bersama anaknya.

“Ayah enggak mau kamu sedih lagi, Shabrina.”

Tangisku terhenti. Ayah mendongkak menatapku. Ia menangis.

“Ayah mau kamu hidup tanpa berlarut dalam kesedihan. Kematian bunda bukan untuk ditangisi, tapi membuat kita untuk terus mendoakannya. Selama ini ayah kesepian tanpa bunda, ayah enggak bisa mengurus kamu layaknya bunda, Shabrina.”

Mendengar perkataan ayah, aku terduduk. Aku mencermati apa saja yang ayah katakan. Mengenai bunda, kesepiannya, dan mengurusku.

“Dulu, bunda pernah bilang. Kalau bunda udah enggak ada, ayah boleh menikah lagi. Tapi hal itu ayah abaikan,” ayah mengusap air matanya.

“Tapi, tiba-tiba kalimat itu muncul lagi dalam mimpi ayah. Dan benar, ayah tidak sanggup menjalani ini semua sendiri. Ayah butuh orang lain, yang bukan hanya menyayangi ayah, tapi menyayangi gadis ayah juga. Ada kalanya kita harus memulai yang baru, walaupun itu menyakitkan.”

Ayah bangkit dari duduknya. Tidak ada senyum sedikitpun di bibirnya. Matanya menatapku dengan lekat, seakan-akan meminta perestuan. Ayah menjauh, keluar kamar.

“Asal kamu tau,” kata ayah sebelum menutup pintu. “Ayah masih sangat mencintai bunda sampai kapan pun.”

Suara pintu tertutup mengisi telingaku.

Aku tersadar. Ayah melakukan semua ini bukan untuknya. Tapi untukku. Ayah tidak berusaha menggantikan bunda dalam kehidupan kami. Tapi ia berusaha untuk memperbaiki semuanya. Benar kata ayah, tidak boleh terus bersedih.

Dengan segera aku memperbaiki penampilanku dan keluar kamar. Ayah dan wanita itu tersenyum kepadaku, aku membalasnya. Aku ikhlas jika ada bunda baru dalam hidupku. Namun, yang terpenting aku tetap mencintai bunda. ***

Advertisements