Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 15 Oktober 2017)

Gerhana ilustrasi Padang Ekspres.jpg
Gerhana ilustrasi Padang Ekspres

Gerhana bulan yang akan muncul malam nanti adalah gerhana bulan yang paling langka. Menurut berita di televisi dan surat kabar, peristiwa gerhana bulan kali ini terjadi seratus empat puluh tahun sekali. Gerhana bulan yang akan muncul berwarna merah darah. Sayang jika anda tak menyaksikannya, kata seseorang yang sedang diwawancara.

Istri saya melingkarkan tangannya di pinggang saya. Tangannya menunjuk ke atas dan kepalanya mendongak. Ia berputar-putar sambil terus melihat langit dan saya ikut berputar-putar karena tangannya yang masih merangkul pinggang saya. Matanya berkedip-kedip. Wajahnya nampak kecewa sekali.

“Kamu bohong,” katanya.

“Televisi yang bohong, sayang,” jawab saya sambil menawarinya es krim vanila.

Malam itu sangat dingin. Hujan yang turun tadi sore masih meninggalkan bau basah. Aroma rerumputan yang tergilas sepatu orang-orang yang berkumpul di lapangan ini menambah kesan suasana dingin. Malam ini cuacanya tetap buruk. Tidak ada bintang yang menyembul di langit. Tidak juga ada gerhana. Saya mengatakan pada istri saya sesuai apa yang telah diberitakan di televisi. Gerhana bulan merah darah tidak akan terlihat jika cuaca tidak mendukung. Tapi, mukanya masih nampak sebal. Ia menjilat es krim yang sudah saya tawari. Mulutnya belepotan. Ia semakin nampak kedinginan. Tapi, ia suka es krim dan saya terus merangkulnya.

“Kau bilang bisa disaksikan di seluruh wilayah.”

“Ya. Itu kalau cuaca mendukung, sayang.” Saya mengulang jawaban ini sebanyak tiga kali, menekankan pada kata “kalau cuaca mendukung” dan menghilangkan kata “sayang”. Saya ikut sebal karena ia terus saja merajuk.

Dari tempat kami berdiri, orang-orang yang tadi berkerumun di tengah lapangan untuk sama-sama mendongakkan kepala ke langit, mulai menepi ke tempat pedagang kaki lima. Ada gerobak bakso, mie ayam, ketoprak, siomay, nasi goreng dan tentu es krim vanila. Mereka mungkin sudah bosan mencari-cari gerhana bulan dengan mata sendiri dan bukan teleskop. Mereka lelah dan mulai lapar.

Tak ada komando dari siapa pun yang mengumumkan untuk bersama-sama berkumpul di lapangan kota ini. Tiba-tiba saja banyak orang yang datang mengenakan jaket dan sarung tangan lalu membentuk koloni sendiri untuk secara serempak melihat ke langit. Bulan merah darah tak muncul juga.

“Pulang, yuk,” kata saya sambil berbisik. Istri saya tidak menyerah. Ia memang tangguh untuk tidak menghiraukan rasa pegal di lehernya karena sedari tadi mendongak ke langit.

“Kita harus melihat bulan merah darah itu. Kamu mau melewatkan kesempatan langka ini?” tanyanya dengan mata tak berdosa yang membuat saya gemas.

“Sepertinya tidak akan muncul, sayang.”

“Kamu mau menunggu seratus empat puluh tahun lagi?”

“Siapa bilang?”

“Tadi kamu katakan gerhana bulan merah darah hanya muncul seratus empat puluh tahun sekali.”

“Televisi. Itu kata televisi.”

Istri saya menjelaskan panjang lebar tentang rasa keingintahuannya yang aneh. Ia mengingatkan kepada saya, tolong bayangkan, katanya dengan sungguh-sungguh. Jika dihitung dari hari ini, apa yang akan terjadi seratus empat puluh tahun ke depan? Gerhana itu hanya muncul seratus empat puluh tahun sekali sementara kita tidak mungkin mencapai umur menahun sebanyak itu. Lalu apa yang akan terjadi pada kita? Ia bertanya sangat serius. Saya menjawab pertanyaannya sambil membersihkan mulutnya yang belepotan.

“Kita sudah jadi fosil yang akan dimanfaatkan sebagai minyak bumi oleh anak cucu kita.”

Istri saya tertawa. Ia mengatakan saya berlebihan. Saya itu orang yang suka berlebihan, begitu pendapatnya dahulu. Kalau anak-anak muda sekarang menyebutnya lebay. Tapi, saya tidak mengatakan pembelaan diri seperti ini, “Saya tidak lebay” ketika dulu masih pacaran, istri saya mengatakan saya hanya membual dan tidak bisa dipercaya. Ia menganggap apa yang saya janjikan sebagai ganti hadiah ulang tahunnya terlalu kikir dan mengada-ada. Saya tidak kikir, hanya tidak memiliki uang untuk membeli kado setiap tiba tanggal ulang tahunnya.

Saya selalu menghindar jika pembicaraan sudah mengarah ke segala tetek bengek mengenai perayaan ulang tahun. Gara-gara ini kami ribut, lalu memutuskan hubungan selama beberapa hari. Setiap kami putus, saya merasa sedih sekaligus lega. Saya sedih karena istri saya tetap merayakan ulang tahun bersama teman-temannya. Saya lega karena tidak perlu merasa risau dengan perihal kado ulang tahun. Biasanya, saya duluan yang mencari perkara kecil sebagai penyulut menyalakan pertengkaran dengannya. Ketika ia merasa curiga mengapa hubungan kami selalu putus seminggu menjelang ulang tahunnya, ia langsung menarik kesimpulan.

Ini persoalan harga diri, saya membela. Bayangkan, seorang mahasiswa perantauan seperti saya tidak bisa membelikan kado untuk pacarnya yang sedang berulang tahun. Sementara, sang pacar terbiasa menjalankan ritual mendapatkan kado ulang tahun tepat jam dua belas malam. Teman-temannya mengetuk pintu kamarnya dengan membawa kue ulang tahun. Mereka juga membawa kado yang ukurannya besar-besar. Setelah itu, mereka menggiring istri saya ke kolam renang di belakang rumah lalu menceburkannya ke kolam. Saya marah melihat mereka menceburkan istri saya di tengah malam yang dingin itu. Mereka ini sebetulnya yang lebih pantas disebut lebay. Tapi, saat itu istri saya tertawa riang. Ia kelihatan bahagia sekali. Teman-temannya membalas kemarahan saya dengan tatapan yang seolah mengatakan, “Kamu ini ketinggalan zaman.”

Saya buktikan kepada istri saya (waktu itu masih menjadi pacar) bahwa saya—meskipun orang dusun—tidak ketinggalan zaman dalam soal ilmu pengetahuan. Saya mengajaknya ke museum iptek untuk menyaksikan gerhana bulan menggunakan teleskop yang disediakan di sana. Saat itu bertepatan pula dengan ulang tahunnya. Ia menangis ketika tiba gilirannya meneropong.

“Saya ingat Ibu,” katanya. “Dulu Ibu suka menceritakan dongeng. Dia pernah bercerita tentang raksasa Kala Rahu yang mengejar Batara Candra yang dikenal sebagai Dewa Bulan untuk dilahap. Raksasa Kala Rahu ingin membalas dendamnya karena gagal minum air suci Tirta Amerta untuk mencapai keabadian. Pada saat itulah terjadi gerhana bulan. Saya sangat terkesan dengan cerita itu karena Ibu suka menceritakannya berulang-ulang disaat ia kehabisan bahan untuk mendongeng. Saya merindukan kebersamaan kami apabila tiba waktu Ibu mendongeng.”

Saya menyeka air matanya. Saya katakan padanya mungkin saat ini di langit, arwah Ibunya ikut membantu menyelamatkan Batara Candra atau Dewa Bulan dari kejaran raksasa Kala Rahu yang ingin melahapnya. Ia tidak percaya dan langsung menepuk pundak saya sambil mengatakan saya ini berlebihan. Entah mengapa sejak saat itu, istri saya menganggap setiap peristiwa gerhana bulan yang terjadi adalah kado ulang tahun dari saya untuknya. Saya bermaksud menjelaskan kepadanya bahwa dulu saya hanya sekadar bercanda tentang perihal kado gerhana bulan itu. Tapi, akhirnya saya tidak berkomentar apa-apa. Saya tahu istri saya kesepian sejak ikut bersama saya tinggal jauh dari teman-temannya. Saya mencoba memutus menghiburnya bahwa tak ada pertemanan yang abadi. Setiap orang akan kembali pada kesibukannya masing-masing. Kau bisa merayakan ulang tahun kapan pun kau mau, kata saya. Tidak harus dengan keriuhan masa muda yang pernah dicecapinya. Tapi, istri saya kurang mendengar atau ia memang masih membiarkan hatinya berada di masa lalu. Suatu hari, ia harus menerima perubahan ini.

“Ini kado termahal karena hanya terjadi seratus empat puluh tahun sekali. Tapi, karena bulannya tak muncul, kau gagal memberikan kado termahal ini. Bahkan, kamu tidak memberitahu gerhana bulan saat ini hadiah untuk ulang tahunku yang keberapa. Tahun-tahun sebelumnya ketika saya ulang tahun, tidak terjadi gerhana bulan. Kau jangan mengira saya kecewa karena tidak bisa mendapatkan kado gerhana bulan merah darah. Memang, saya kecewa tidak bisa menyaksikannya. Tapi, saya bahagia karena dengan ini kamu mengajarkan kepada saya ada sesuatu yang tidak bisa kita jangkau dengan kedua tangan kita. Tangan kita hanya dua, seperti katamu yang mengingatkan apabila saya menderita karena kehilangan. Kamu mengajarkan saya untuk perlahan-lahan mengikhlaskan kepergian Ibu yang dulu selalu memanjakan saya hingga saya merasa lebih baik mati tanpanya.”

Istri saya tertidur dengan kepalanya yang tersandar di bahu saya. Saat itu, saya menyaksikan orang-orang kembali berkumpul di tengah lapangan sambil melihat ke langit. Salah satu suara mengatakan gerhana bulan sedang dalam proses pembukaan ke kondisi bulan normal. Sayang, kita tidak bisa menyaksikannya. Sayang sekali.

 

Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Universitas Mataram dan santri di Komunitas Akarpohon. Menulis cerpen dan puisi. Karyanya antara lain terbit di surat kabar Padang Ekspres, Suara Merdeka, basabasi.co, Riau Pos, Harian Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Indo Pos, Lombok Post, Suara NTB, Jurnal Santarang, Metro Riau. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015).

Advertisements