Cerpen Aminullah (Waspada, 15 Oktober 2017)

Ayunan ilustrasi Denny Adil - Waspada.jpg
Ayunan ilustrasi Denny Adil/Waspada

LIHAT ayunan itu, tepat setahun yang lalu kau duduk di atasnya sedangkan aku mendorong tubuhmu dari belakang, kau sangat menikmati ayunan di sore itu. Kini semua telah berubah, bahkan lelaki tua penjual gulali kesukaanmu telah tiada, banyak orang bilang ia sudah meninggal enam bulan yang lalu.

***

Senja kala itu memaksa kami untuk kembali ke rumah, kenangan yang dulu masih kami ingat di ayunan itu, di mana api cinta kami masih berkobar. Pertama kali aku jumpa dengan Nensi ketika pulang kuliah. Aku melihatnya berteduh kedinginan di malam hari, ia sendirian dan aku mendatanginya untuk menawarkan tumpangan. Kebetulan sekali arah yang kami tuju sama.

Nensi kala itu malu-malu campur rasa takut. Ya, karena aku orang baik-baik aku mengeluarkan KTP dan kuberikan kepadanya untuk jaminan.

Keesokannya aku mencari tentang wanita itu, aku bertanya kepada temanku satu kampus, namun belum ada yang tahu hingga suatu saat temanku memberi tahu tentang wanita itu, ternyata wanita itu bernama Nensi, ia kuliah fakultas KIP semester 4. Akhirnya rasa penasaranku agak sedikit lega mendengarnya. Waktu pulang kuliah aku sengaja menunggunya di depan gerbang, saat itu ia sedang lewat untuk pulang.

“Nensi!” Panggilku.

Aku melambaikan tangan dan ia melihatku dan langsung datang ke arahku. Dengan perasaan sedikit grogi aku berkaca pada spion motorku sambil merapikan rambut dengan air ludahku.

“Kamu manggil aku, Nik?” Tanya Nensi.

“Ii..iya, Nen. Hai, Nen, apa kabar?” Ujar Niko dengan grogi.

Tidak lama mereka ngobrol, Niko mengantar Nensi pulang kerumahnya.

Keesokannya Nensi tidak terlihat di kampus, Niko bertanya-tanya pada teman-temannya dan ternyata Nensi sakit dan sedang istirahat di rumah. Tanpa pikir panjang Niko langsung pulang dan mendatangi rumah Nensi. Setibanya di rumah Nensi, Niko mengungkapkan perasaan sayang Niko kepadannya, dan di situ pula Nensi menerima perasaan Niko.

***

Di saat mereka pacaran, kini Niko harus berangkat keluar kota untuk bekerja, Niko memberi pesan kepada Nensi untuk saling berkomunikasi, dan saling ingat. Nensi pun memberi pesan kepada Niko bahwasannya jangan pernah sekalipun untuk meninggalkan Nensi kecuali bekerja. Mereka berdua saling berpelukan melepas kerinduan sementara.

Kini mereka telah berpisah jarak dan Niko sudah bekerja empat bulan, Niko sekarang bekerja di Kota Medan, sedangkan Nensi masih kuliah di Jakarta tempat dulu Niko kuliah juga. Mereka saling berkomunikasi walau jarak mereka sangat jauh. Niko kembali ke Jakarta satu tahun sekali, rasa rindu yang menggebu-gebu sudah terbiasa bagi mereka.

***

Kini di saat usia pacaran mereka lima tahun, Nensi sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Nensi bekerja di perusahaan di Jakarta. Ketika itu Niko tidak memberi kabar selama tiga bulan. Nensi kecarian dan sangat khawatir bercampur rindu. Nensi tidak tahu selama satu tahun bahwasannya alasan Niko tidak ada kabar karena Niko sudah dipecat dari tempat kerjanya dan semua barang-barang pentingnya sudah terjual demi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Kini Niko bekerja sebagai juru parkir, ia mencari nafkah untuk dirinya dari pagi hingga malam. Ia sangat rindu dengan pasangannya, sehingga ada niat Niko untuk menabung agar bisa kembali ke Jakarta untuk berjumpa dengan kekasihnya.

Dua tahun berlalu mereka tidak ada kabar, bahkan kepada orang tua Niko sendiri.

Hari demi hari Niko berusaha mengumpulkan recehan demi recehan. Uang yang dikumpulkannya sebagian untuk membayar rumah kontrakan. Niko tinggal di sebuah rumah kontrakan, tempat tinggalnya sangat kecil dengan ukuran 2×2 meter. Niko tinggal demi beristirahat dari kerja kerasnya, bahkan makan hanya satu kali dalam sehari. Tubuhnya kini kurus, hitam, tidak seperti dulu yang putih.

Kini Niko telah sampai di kampung halamannya, ia cuma mempunyai uang lima ratus ribu, dan niatnya dengan uang segitu Niko ingin melamar Nensi pacarnya yang telah lama tidak berkomunikasi. Ketika Niko berjalan, langit mendung seketika, dan langit menurunkan hujan, Niko berteduh di teras rumah orang, namun Niko diusir dari tempat berteduhnya.

Rasa dingin menusuk tulang tubuhnya, ia berusaha menyelamatkan sisa uangnya untuk Nensi agar tidak basah. Tiga jam berlalu, kini hujan telah berhenti, dengan kondisi basah kuyub Niko berjalan menuju rumah Nensi. Dengan hati senang Niko ingin berjumpa dengannya lalu melamarnya.

Dua jam Niko berjalan dan kini ia telah sampai tepat di depan rumahnya, Niko langsung bergegas menekan bel yang ada di gerbang rumahnya, tidak lama satpam yang dulu pernah Niko temui kini membuka pintu.Tidak lama Niko melihat Nensi keluar dari dalam rumah.

“Nensi!” Panggil Niko. Nensi melihat dan mendatanginya.

“Iya, siapa ya?” Tanya Nensi.

“Aku Niko, maaf ya Nen selama ini aku tidak ada kabar.” Jawab Niko.

Seketika Nensi terkejut dan langsung meninggalkannya. Selang beberapa menit Niko melihat dua anak kecil berlari memanggil mama kepada Nensi, dan seorang laki-laki keluar dari rumahnya. Niko terkejut, ia langsung mengejar Nensi dan meminta menjadi istrinya. Dengan uang lima ratus ribu, Niko sangat serius kepada Nensi, namun apa yang terjadi? Nensi mencampakan uang Niko begitu saja dan diseret keluar oleh satpam dengan kasar. Begitu cepat Nensi melupakan Niko yang selama ini berjuang untuknya.

Dengan rasa kecewa Niko berjalan, ia menangis, ia tidak tau mau ke arah mana langkahnya berjalan. Waktu telah sampai pada malam hari. Niko berjalan menuju ayunan sambil menggigit sebuah sumpit bekas yang dijumpainya di jalan. Sesampainya di sebuah ayunan yang dahulu tempat itu tempat Niko dan Nensi melepas rindu, kini tinggal Niko seorang.

Ia duduk di ayunan sambil memanggil-manggil nama Nensi. Kini Nensi tidak ada, yang ada hanya Niko dan bayangannya, di saat Niko melihat bayangannya, Niko menganggap bayangan tubuhnya adalah Nensi. Niko langsung memeluk bayangannya sendiri sambil mengucap nama Nensi. Tepat di sampingnya, tumbuh satu bunga yaitu bunga kamboja, Niko melihat bunga itu dan langsung mencabutnya lalu memberikan kepada bayangannya sendiri dan melamar bayangan yang dia anggap adalah Nensi.

Malam itu bulan menjadi saksi akan Niko yang sekarang. Di saat Niko sedang bermesraan dengan bayangannya sendiri, Niko teringat kejadian saat di rumah Nensi. Niko seketika lepas kendali, ia mengamuk dan seketika kedua bola matanya dicucuk menggunakan sumpit yang dipegangnya hingga berdarah.

Kini Niko buta, ia tidak bisa melihat apa pun termasuk pujaan hatinya yang telah meninggalkannya dan menikah bersama lelaki lain. Mungkin ini jalan terbaik untuk Niko, dengan kedua mata buta Niko menjadi tenang tanpa melihat Nensi bahagia bersama lelaki lain dan kedua anaknya.

***

Advertisements