Cerpen Ken Hanggara (Kompas, 08 Oktober 2017)

Surga Pembangkang ilustrasi Made Somadita - Kompas.jpg
Surga Pembangkang ilustrasi Made Somadita/Kompas

Herman bermain-main di dalam tubuhku. Ia bajak laut dan aku cangkang raksasa. Ia membawa sepuluh prajurit terakhir di hari menjelang kiamat, lalu bersembunyi dalam cangkang—dalam aku—bersama kesepuluh prajuritnya.

“Sekarang kamu putuskan sebaiknya mengusir kami atau tidak. Sebab kalau sudah telanjur sembunyi, sampai sembilan bulan kami tidak keluar,” kata Herman padaku.

Aku tidak ingin dia pergi, maka kukatakan terserah pada mereka.

Begitulah, Herman dan sepuluh lelaki gagah perkasa tidur dalam cangkangku pada satu malam. Tubuh mereka hangat dan basah. Aku sesak napas karena tubuhku ini tidak terlalu luas untuk menampung terlalu banyak manusia.

Suatu hari Herman bertanya kenapa aku merenung. Kujawab aku lelah, tetapi tidak sekali-kali membayangkan ingin membuang Herman dari hidupku. “Kau jadi bagianku, aku bagianmu,” kataku.

Herman menambahkan betapa kami memang satu, sekalipun sepuluh prajurit yang ia bawa turut bersembunyi dalam cangkangku.

Mereka buronan. Polisi masa depan mencari sebelas orang yang dianggap bajingan tengik, karena melanggar nilai moral di masyarakat. Aku percaya Herman tidak begitu. Ia laki-laki lurus pengangguran, yang sesekali pinjam motor teman untuk ngojek dengan upah seadanya, yang hampir selalu habis di malam harinya entah untuk apa.

Aku selalu percaya Herman, tetapi ibuku tidak.

“Minggat sana dan jadilah engkau cangkang raksasa yang kelak pecah dan berhamburan badanmu dilahap tsunami paling nyata!” Ibu berkata tegas padaku dengan mata melotot. Aku percaya Herman tidak berjudi, tidak juga ke tempat prostitusi. Aku percaya cinta Herman padaku putih seperti kapas. Dan ia tidak menodaiku dengan apa pun.

“Pernah dengar bocah SMA yang kabur, lalu mati kelindas kereta?” kata Ibu, waktu suatu hari kulawan pendapatnya, dan kami saling berbeda pandangan soal Herman. “Itu anaknya Haji Jafar. Bocah itu mati setelah dilecehkan pacarmu! Dulu belum pacarmu, tapi sekarang kamu mabuk lalu mau dipacari! Orang tidak punya masa depan!”

“Herman tidak begitu, Bu!”

Aku ingat betapa Ibu tidak sudi memasak selama hari-hari itu. Aku sendiri pergi ke pasar, lalu ke dapur, dari subuh hingga jam delapan pagi, demi menyiapkan makanan untuk orang serumah. Bapak sudah bodoh dan pikun, dan tidak bisa diharapkan, hingga ia pun seakan tidak tahu perselisihanku dengan Ibu.

Sesekali Ibu menyuruhku melihat Bapak. Kupandangi Bapak dengan seksama. Tak ada apa pun yang menarik di sana; hanya seonggok tulang bercampur kulit yang hitam dan bau hangus. Sekiranya orang yang tak tahu atau tak kenal Bapak, pasti menganggap beliau hantu. Ibu bilang, Bapak yang orang lurus saja tak becus memberikan hidup yang layak bagi kami. Ibu bilang, Bapak yang taat ibadah saja tak becus membuat kami lepas dari jerat masalah.

“Apalagi si Herman itu. Siapa lengkapnya? Herman Kampret?! Tidak ada orangtua ngasih nama anak sejelek itu. Orangtua mana rela disebut-sebut si kelelawar pengisap darah! Bapakmu yang selurus dan sesuci itu saja tidak becus, apalagi orang sebejat si Herman!”

Tapi, Herman punya banyak prajurit dan ia selalu pulang membawa kemenangan di perang-perang yang terjadi di jalanan, di pasar, di terminal, di mana-mana; aku bangga pada Herman. Sejak duduk di kelas sebelas, aku sudah tahu Herman tidak sekolah dan aku tidak tahu umurnya berapa. Ia berkumis dan bercambang, serta kalau ke mana-mana membawa seutas rantai berujung duri-duri. Herman bilang, itu bagus buat melindungi dari kekejaman para lawan. Memang benar. Aku ingat ketika Herman dibawa ke rumah sakit dengan luka parah di perut, tetapi cuma dia yang hidup. Semua yang terlibat dalam tawuran diambil Tuhan.

Itu satu alasan Ibu, yang belum bisa kuterima secara utuh. Aku diusir dari rumah dan menjadi cangkang raksasa setelah lebih memilih dipacari Herman dan diajak pergi ke luar kota cari pekerjaan, ketimbang melanjutkan sekolah bidan yang biayanya sudah Ibu usahakan ke mana-mana.

Begitulah. Maka aku bersama Herman dan melihatnya tumbuh menjadi pemimpin perkasa, penentang polisi masa depan yang ada di hampir semua tempat di kota kecil ini. Polisi masa depan berpangkat rahasia dan kebanyakan dari mereka hanya orang-orang sipil berpakaian bebas: penambal ban, muazin masjid Al-Fatah, tukang becak, pegawai bank, satpam, montir bengkel Haji Asnawi, dan sesekali penjual nasi kucing. Tidak ada profesi tertentu yang resmi dinobatkan sebagai polisi rahasia penentang tujuan masa depan pemuda seperti Herman; siapa pun bisa, asal memenuhi syarat: bermoral.

Aku dan Herman jelas tak bermoral di mata orang-orang ini. Cangkangku tumbuh semakin besar dan Herman semakin kuat kepemimpinannya setelah mengalahkan satu geng yang paling ditakuti. Semua orang segan dan Ibu semakin jauh dariku.

Ibu masih datang dalam mimpi burukku sejak keminggatanku yang pertama demi Herman. Di mimpi pertama, Ibu datang dengan godam raksasa dan tubuhnya seukuran Goliath. Ibu menghantamku, menghantam cangkangku, hingga pecah. Walau raksasa, aku tetap cangkang yang punya batas daya tahan. Di mimpi lain Ibu kadang-kadang menangis dan aku tidak bisa menghentikan tangisnya. Ibu terus menangis sampai lahir sebuah tsunami yang menyeret dan membunuhku.

Itu terus terjadi dan aku selalu bertahan. Sampai Herman dan sepuluh prajuritnya yang tersisa jadi buronan, aku sendiri berhasil menyamar sebagai perempuan yang dulu seakan tidak brojol dari perut ibuku. Aku seakan perempuan lain dengan tampang yang menor dan nakal.

Herman suka. Ia bilang, “Kamu bidadariku. Penghuni surga boleh cemburu!”

Ia sesekali ke tempatku sendirian, atau mengajak dua orang temannya. Pernah juga Herman membawa empat orang, tetapi biasanya aku hanya menemani mereka di ruang tamu sambil merokok. Ketika suatu malam Herman datang membawa sepuluh orang prajurit, dan dia memintaku menyembunyikan kami di dalamku, aku berpikir apakah Herman sedang mabuk?

“Aku cinta kamu dan ini semua demi kamu. Maka, patuhilah.”

Aku tak membantah dan patuh. Herman beserta sepuluh prajurit yang ia bawa dari entah desa mana saja, memasukiku dan bermukim di sana sedemikian lama. Tubuh yang hangat dan basah, berjumlah sebelas, meringkuk di dalamku, dan aku merasa mual mau muntah. Herman memaksaku menahan muntahan. Ia tidak membiarkanku muntah, tidak peduli ia dan sepuluh prajuritnya pamit pergi di bulan kedua setelah polisi masa depan berhenti melakukan pencarian di kawasan sini.

“Kamu masih lelah?” tanyanya.

“Aku dan kamu satu. Bukankah bagus?”

“Memang bagus.”

“Kapan kamu kembali?”

Herman tampak berpikir. Ia menghitung uang di dompetnya, lalu membaginya dua dan memberikan setengah hasil pembagian tersebut kepadaku. Itu uang dari sepuluh prajurit yang diizinkan menginap di dalamku, di cangkangku, dan Herman berharap aku tak membuang apa pun yang sekarang tertinggal dari bekas tidur mereka bersebelas.

Kubilang, “Jangan khawatir, tapi uang ini kamu saja yang bawa.”

Herman memaksaku menerima uang tersebut, tetapi aku menolak lagi. Ia akhirnya tidak tahan dan menyelipkan uang yang menurutnya adalah hakku ke belahan dadaku. Herman mencium keningku dan pergi. Saat ia balik badan, kuhirup bau tengik yang mendadak membuatku terangsang. Herman bilang, jika rindu, aku tidak bisa telepon. Ia dan sepuluh prajurit masih jadi buron. Aku paham. Lalu kubertanya dengan cara apakah kami bisa berkomunikasi?

“Pada malam ketujuh di musim hujan yang penuh kodok, pada saat itulah aku akan datang menjengukmu.”

“Caranya?”

“Pandangi fotoku dan jadilah seorang bayi tanpa satu pun penutup, karena engkau sebenarnya telah suci sejak lahir. Jadilah bayi untukku, dan aku, di tempatku yang jauh entah di mana pun, juga akan menjadi bayi untukmu. Kupandangi juga fotomu dan kita menikah dengan cara yang hanya para setan yang tahu.”

“Dengan itu kita puaskan rasa rindu?”

“Dengan itu kita puaskan rasa rindu.”

“Sampai?”

“Sampai kelak ketika dunia berbalik dan moralitas di masyarakat tak lagi menjadi bahan perdebatan. Tapi, aku sendiri tidak tahu kapan itu terjadi.”

Aku juga tidak tahu, tapi Herman kubiarkan pergi.

Kami berpelukan dan mendesah selama beberapa saat, lalu ia benar-benar balik badan. Bau keringatnya lekat di tubuhku dan kuhirup itu sambil membayangkan Ibu. Entah bagaimana ibuku sekarang. Kuharap jauh lebih bahagia dari anaknya yang kini tinggal di surga ciptaannya sendiri.

 

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya berjudul Museum Anomali (Unsa Press, 2016) dan Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Penerbit Basabasi, 2017).

Advertisements