Cerpen Dody Wardy Manalu (Media Indonesia, 08 Oktober 2017)

Lelaki Bertato Burung Hantu di Dadanya ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Lelaki Bertato Burung Hantu di Dadanya ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

INI pertama kali bertemu dengan lelaki itu. Lelaki bertato burung hantu di dadanya. Bertemu di sudut cafe di suatu malam bergerimis. Ia menawarkan satu gelas bir ketika aku duduk di sebelahnya. Dua buah kancing kemeja putihnya dibiarkan terbuka. Saat itulah melihat tato burung hantu di dadanya.

“Mengapa memberiku satu gelas bir?” Ujarku sembari mengikat rambut jagungku. Ingin memamerkan leherku yang jenjang. Aku tertawa dalam hati. Bisa-bisanya menyukai dirinya pada pandangan pertama. Dari kerutan di wajah, lelaki itu lebih cocok jadi ayahku.

“Bagaimana kalau aku tidak menerima pemberianmu itu.”

“Duka di hatimu tidak akan sembuh. Bir ini akan membuatmu mabuk. Dukamu pasti ikut mabuk dan akan hilang ketika kamu buang air kecil besok pagi.”

Aku tidak bisa menahan tawa. Untung suara musik terdengar hingar-bingar sehingga orang-orang tidak tahu bila tawaku mirip suara bebek. Hati tidak serupa minuman bir, diteguk, lalu besok pagi berubah menjadi air kencing. Itu suatu kebohongan.

“Dari mana tahu kalau aku lagi berduka.”

“Mata tidak bisa berbohong, nona!”

Lelaki bertato memanggilku nona. Bukankah sebutan nona untuk perempuan masih perawan? Dua minggu lalu, kekasihku mengajak aku bercinta. Bisikan-bisikan mesra di daun telinga membuatku melambung. Kumis tipisnya bergesek pada leherku. Tubuhku bergetar penuh gairah. Aku pasrah ketika ia menunggangiku bagai kuda betina. Semua terasa indah. Kamar kontrakan yang begitu jorok dipenuhi pakaian bergelantungan dan puntung rokok bertebaran di lantai tampak seperti surga. Begitu aku bangun, menemukan secarik kertas diletakkan di atas tempat tidur: ‘Jangan mencari aku lagi. Aku sudah pergi jauh ke tempat yang tidak bisa kamu datangi. Baru tahu bila istriku sedang hamil setelah lima tahun kami menikah. Maafkan aku.’

Baru tahu kalau selama ini berpacaran dengan lelaki beristri. Aku meraung-raung dalam kamar. Mencakar-cakar tempat tidur hingga seprai robek. Pemilik kontrakan masuk dan melihatku masih telanjang. Matanya mendelik memancarkan amarah.

“Dasar perek! Begitu gampangnya memberikan tubuhmu pada lelaki. Kamu langsung bodoh setelah tahu ditipu. Segera pakai bajumu, perek!” Hardiknya sembari memunguti pakaian berserak di lantai, lalu melemparkannya ke wajahku.

Hal itu yang membawaku datang ke tempat ini. Berharap menemukan sesuatu yang bisa meleburkan kesedihan. Namun, malah bertemu dengan lelaki bertato burung hantu di dadanya. Ia bisa menebak isi hatiku dari pandangan mata. Akhirnya, menerima satu gelas bir sedari tadi ia sodorkan. Gelas itu langsung kosong dalam satu teguk.

“Tatapan matamu mengingatkan aku pada peristiwa dua puluh lima tahun lalu…”

Lelaki bertato menggantung kalimatnya. Dituang kembali bir pada gelas kosongnya, lalu mengisi gelasku tanpa bertanya lebih dulu.

“Kekasihku menipuku. Ia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Hanya menginginkan benihku. Aku ditinggalkan setelah ia hamil.”

“Apa sakit hatimu masih ada di sini?”

Kuhunjamkan jari telunjuk di dadanya. Tingkahku tidak lebih dari seorang perek. Ah, biarkan saja. Dua minggu lalu, aku sudah menjadi perek pada kekasihku sendiri. Telah menyukai lelaki bertato burung hantu ini sejak pertama bertemu.

“Jangan menyentuh burung hantu di dadaku. Ia bagai virus mudah menular.”

Lelaki bertato menjauhkan jariku dari dadanya. Usahaku untuk menggodanya telah gagal.

“Tato burung hantu ini gambaran kekasihku yang telah membawa benihku. Ia tidak lebih dari hantu.”

“Sudah berapa gelas bir habis kamu minum sejak kekasihmu pergi.”

“Sudah tidak terhitung.”

“Apa hatimu benar-benar sembuh?”

Lelaki bertato burung hantu gelengkan kepala.

“Kamu bilang bir akan membuat kita mabuk. Kesedihan akan ikut hilang ketika kita kencing besok pagi.”

“Aku tidak bisa mabuk meski minum bir sebanyak mungkin. Makanya kesedihanku tidak pernah hilang padahal sudah dua puluh lima tahun berlalu.”

Lelaki bertato meninggalkan cafe pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit. Aku mengikuti dari belakang. Dua gelas bir telah berpindah dalam perut hingga tubuhku sempoyongan. Lelaki bertato burung hantu tidak sepenuhnya berbohong. Lewat minuman bir, aku bisa melupakan mantan kekasihku telah beristri itu.

“Jangan mengikutiku. Aku tidak punya tujuan.”

Lelaki bertato burung hantu berhenti tanpa menoleh ke belakang.

“Aku tidak mau pulang sebelum pusing di kepalaku hilang. Ibu akan menjambak rambutku bila tahu aku mabuk.”

Lelaki bertato berbalik badan. Ada ragu di raut wajahnya. Mungkin mengira aku perempuan penipu serupa mantan kekasihnya.

“Kita sama-sama korban penipuan dari kekasih. Alangkah lebih baik bila kita saling membantu. Bila bir tidak bisa buatmu mabuk. Mungkin aku bisa membuatmu mabuk. Kesedihanmu akan hilang.”

Lelaki bertato menghampiri, menggapai tanganku, lalu meletakkan ke bahunya. Ia memapahku yang sempoyongan. Di tengah jalan, ia bercerita tentang ibunya yang tiap malam menangis meminta seorang cucu. Pernah membawa bayi yang masih merah ke hadapan ibunya berharap tangisnya berhenti, mengatakan ia sudah menikah dengan seorang penjaga cafe, namun meninggal saat melahirkan anak pertama mereka.

“Bayi ini bukan darah dagingmu. Ibu bisa mencium aromanya.”

Ibunya meraung-raung sembari mencaci maki dirinya seorang penipu. Para tetangga berkumpul di halaman mencari tahu apa yang terjadi. Lelaki bertato burung hantu merasa dipermalukan. Ia mengumpulkan pakaian dalam tas dan pergi.

“Aku akan mencari calon isteri.”

“Jangan pernah kembali sebelum memberiku cucu.”

Satu tahun setelah kejadian itu, berhembus kabar ibunya meninggal. Ia menangis di sudut cafe sembari meneguk bir berpuluh-puluh gelas. Janji pada ibunya menghalangi langkah untuk kembali. Hanya bisa menitip sepuluh kuntum bunga melati pada seorang sahabat untuk ditaburkan di atas pusara ibunya.

Malam itu, di kamar yang sempit, kami sama-sama mabuk. Ia terus mencekoki aku dengan minuman bir yang disimpan di bawah tempat tidur. Ia sendiri mabuk berat melihat keindahan tubuhku. Pagi-pagi sekali, terbangun saat mendengar bisikan di telingaku.

“Kamu jangan menghilang seperti kekasihku dulu. Aku telah menitip benihku di rahimmu. Tolong menjaganya baik-baik.”

Sejak kejadian itu, kami jadi sering bertemu. Selalu memberiku hadiah. Baju, jam tangan, kaca mata, sepatu dan barang-barang lain. Semuanya barang murah dibeli di pasar loak. Antolin, demikian nama lelaki bertato burung hantu itu. Kami sudah menjadi sepasang kekasih. Sudah tiga minggu haidku terlambat datang.

***

Petang sudah berubah gelap saat aku tiba di rumah. Di ruang tamu, mendapati ibu sedang memeluk bingkai foto. Tak seorang pun tahu siapa sosok dalam bingkai itu. Ibu tidak pernah menunjukkannya dan aku juga tidak mau tahu. Hampir setiap petang ibu mengeluarkan bingkai itu dari dalam laci, lalu memeluknya sambil berderai air mata. Barangkali foto dalam bingkai adalah almarhum kakek. Konon katanya, ketika aku masih kecil, kakek selalu menyanyikan tembang Jawa saat aku menangis. Namun aku tidak ingat bila masa kecilku pernah bersama kakek. Bahkan hingga sekarang, aku tidak mengenal sosok kakek.

Bila Lebaran tiba, ibu tidak pernah membawaku ke rumah kakek. Makamnya pun aku tidak tahu di mana. Demikian juga kabar tentang ayah. Kata ibu, ayah meninggal sebelum aku lahir. Hilang di antara gulungan ombak ganas. Ibu tidak pernah mencoba mencari pengganti ayah. Padahal rumah terlalu luas kami tempati berdua. Kursi di ruang makan ada tiga buah. Satu buah kursi tidak pernah ada menduduki. Kursi itu buat ayah. Hingga sekarang, hanya mengenal sosok ibu.

“Ternyata ibu tidak sekuat yang ibu pikirkan. Ibu membutuhkan suami sebagai teman berbagi,” ujar ibu sambil memeluk bingkai foto.

“Mengapa ibu tidak menikah lagi.”

“Ibu masih mencintai ayahmu.”

“Tapi ia sudah lama meninggal ditelan ombak.”

Ibu menggeleng. Air mata seketika memenuhi wajahnya. Ia bangkit dari kursi menghampiriku.

“Mungkin ayahmu masih hidup. Ibu meninggalkannya ketika kamu masih dalam kandungan. Foto dalam bingkai ini adalah ayahmu,” isak ibu sembari menyodorkan bingkai itu padaku. Aku menatap wajah dalam foto. Ada sesak menyeruak dalam hati.

Besok, aku akan menjumpai Mpok Marija tukang urut langgananku. Janin dalam rahimku harus segera dikeluarkan. Aku tidak mau punya anak dari benih Antolin meski sangat mencintainya. Ini seperti mimpi. Hidupku lebih rumit dari kisah dongeng. Wajah yang berada di bingkai milik ibu sangat mirip dengan Antolin. Seketika ibu berubah menjadi seekor burung hantu di mataku.

 

Dody Wardy Manalu, Guru bidang studi ekonomi di SMA Negeri 1 Sosorgadong. Kecamatan Sosorgadong Tapanuli Tengah.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements