Cerpen Abul Muamar (Republika, 08 Oktober 2017)

Kekasih Baru ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Kekasih Baru ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Seantero Kampung Staman digegerkan oleh kabar tentang seorang pria yang mengaku telah mengencani Angelina Jolie, aktris Hollywood yang baru meluncurkan film baru garapannya, First They Killed My Father.

Namanya Pidil, 45 tahun, tinggal sebatang kara di sebuah rumah berukuran tiga kali tiga meter.

“Si Pidil?”

“Ya, si Pidil.”

“Lajang karam itu?”

“Ya.”

Meski belum sekalipun menyaksikan secara langsung, warga Kampung Staman tetap mengamini kebenaran kabar itu. Semenjak kabar itu berembus, orang-orang menjadi semakin sering mendapati Pidil dalam penampilan necis, klimis. Wajahnya segar dan bergairah.

“Sekarang Pidil ganteng lho. Tidak nampak tua,” ucap seorang tetangga Pidil.

“Padahal selama ini dia kan kumal sekali,” sahut yang lain.

Orang yang pertama kali mengetahui kabar itu adalah Julpi, sahabat Pidil. Julpi mendengarkan sendiri dari Pidil. Pria itu bercerita kepadanya bahwa sudah sepekan Jolie menginap di rumahnya.

“Sekarang dia lagi di dalam.”

“Mana? Aku mau lihat.”

“Jangan! Dia tidak mau diganggu.”

“Kenapa?”

“Maklumlah. Artis. Kau tahulah sendiri. Artis Indonesia saja, yang kadang-kadang tidak jelas keartisannya, tak bisa sembarangan ditemui.”

“Ya, aku mengerti.”

“Ya sudah, kau dengarkan saja suaranya dari luar.” Pidil mendekatkan kuping Julpi ke pintu kamarnya. Dari dalam, suara Angelina Jolie terdengar sayup-sayup. Julpi mendengarkan dengan takjub.

“Sudah, sudah, cukup! Jangan lama- lama!”

“Wah, itu benar suaranya Angelina Jolie!”

“Kubilang juga apa.”

“Hebat kau, Dil! Benar-benar hebat!”

***

Kabar bahwa Jolie telah dikencani Pidil kian meluas. Dari Kampung Staman, terdengar pula ke kampung-kampung sebelah.

“Bagus kalau Angelina Jolie ada di sini. Kita beruntung, bisa sering jumpa dia,”
seorang warga kampung sebelah sangat penasaran ingin bertemu Jolie.

“Ya, betul. Kita harus mendukung Pidil. Tidak boleh ada yang syirik. Lagipula sudah lama Pidil melajang,” timpal yang lain.

Sejak saat itu, untuk melindungi Jolie itu dari orang-orang dengki terhadap Pidil, warga sepakat untuk menjadi pengawalnya secara sukarela. Mereka menamai diri sebagai Relawan Pendukung Pidil-Jolie. Mereka terus berjaga-jaga di sekitar rumah Pidil. Mereka membagi giliran ke dalam tiga waktu jaga; pagi-siang, siang-malam, malam-pagi. Selain itu, mereka juga diwajibkan menjaga agar kabar percintaan Pidil-Jolie tidak semakin meluas.

Seraya menjalankan tugasnya, warga terus dilanda penasaran, seperti apa Angelina Jolie bergandengan dengan Pidil. Bukan ingin tahu apakah mereka cocok atau tidak, melainkan bagaimana kondisi Jolie sekarang; apakah dia baik-baik saja, apakah dia sehat dan waras sehingga apakah dia tak salah memilih lelaki seperti Pidil? Seperti diketahui, sejak mengajukan gugatan cerai dari Brad Pitt, Jolie begitu menderita; ia berupaya keras untuk menguatkan dirinya sambil mengurus enam anaknya seorang diri.

Namun, alih-alih melindungi, ulah para anggota Relawan Pendukung Pidil-Jolie itu justru membuat hubungan pujaan mereka terancam. Di antaranya karena kebiasaan mereka bercerita satu sama lain di warung atau di kedai sampah, yang akibatnya didengar oleh orang lain yang? padahalsebelumnya sama sekali belum tahu.

Tadi malam Pidil seperti bertengkar dengan Jolie. Jolie sepertinya keberatan tinggal di rumah itu terus. Mungkin karena terlalu kecil.

“Wajar. Perempuan seperti Jolie mana tahan tinggal di rumah seperti itu.”

“Ya, kasihan si Jolie. Cerai dari Brad Pitt, eh, malah dapat laki-laki seperti Pidil.”

Di sisi lain, gosip-gosip itu semakin meyakinkan warga bahwa Pidil memang telah benar-benar menjadi kekasih baru Angelina Jolie. Yang tadinya ada di antara mereka yang masih setengah percaya, kini menjadi percaya sepenuhnya. Yang awalnya sudah percaya, menjadi semakin percaya. Bagaimanapun, kabar hubungan Pidil-Jolie terus meluas. Pidil menjadi semakin disegani. Jika selama ini ia dianggap sebagai laki-laki yang tak punya tujuan hidup, anggapan itu sekarang lenyap.

Selama ini, Pidil hampir-hampir tak pernah keluar dari rumahnya, kecuali hanya untuk menengok ayamnya, kolam ikannya, sepetak kebunnya, dan beli rokok ke warung tetangga. Banyak warga menduga-duga, Pidil adalah pria yang putus asa. Kepada setiap warga yang bertandang ke rumahnya karena penasaran kenapa dia tak pernah pergi meninggalkan rumahnya, Pidil menjawab, “Saya bisa berpergian ke mana saja saya suka, kapan saja saya mau.”

Awalnya, warga tak terlalu menanggapinya. Sebagian warga menganggapnya gila, dan sebagian lain menyebutnya tukang kibul. Tetapi, lama-kelamaan, seiring waktu yang begitu lama Pidil tak pernah keluar dari kamarnya, dan cerita-cerita bahwa ia bisa ke mana saja dari kamarnya semakin banyak yang percaya, syak wasangka terhadapnya perlahan berubah menjadi kekaguman dan ketakjuban.

Perlahan-lahan, warga mulai tertarik dan ingin belajar darinya tentang cara berpergian ke mana saja tanpa beranjak dari rumah. Tetapi, tak ada satu pun yang berhasil. Semua orang yang mencoba belajar seperti Pidil, hanya mendapatkan hasil nihil.

“Anda kurang serius. Anda tidak sungguh-sungguh. Anda harus lebih lama lagi berada di rumah. Anda harus akrab dulu dengan rumah. Anda baru tiga hari saja, sudah tidak sabar mau ke Korea, Eropa, Amerika. Mana bisa begitu! Sebentar-sebentar Anda keluar. Tidak bisa begitu! Anda tahu, saya 20 tahun lebih mengendap di rumah. Saya bertirakat pagi, siang, malam, subuh! Nah, jadi, Anda harus menyatu dulu dengan rumah Anda. Di kamar lebih bagus. Jadi, Anda lebih khusyuk. Jiwa Anda harus melebur dulu dengan kesendirian,” demikian suatu hari Pidil menasihati muridnya.

Sang murid yang mendengarkan kata-kata Pidil itu terdiam, takjub, dan percaya tanpa membantah. “Anda tidak akan pernah bisa pergi ke tempat yang tidak bisa Anda bayangkan.
Ingat itu! Untuk itu, Anda harus banyak tahu,” nasihat Pidil lagi di lain waktu, ketika muridnya datang lagi karena masih saja gagal.

Semua orang yang pernah mencoba berguru menyerah, dan akhirnya cuma bisa taklid terhadap Pidil seorang. Konon, menurut cerita orang-orang yang mendengar dari Pidil, dengan kemampuannya berpergian ke mana saja hanya dari rumah, Pidil mengklaim pernah ke puncak Himalaya dan sama sekali tidak mengalami hipotermia. Ia juga mengaku pernah mengarungi Samudra Atlantik dengan berenang tanpa pertolongan siapa pun dan bantuan alat apa pun; hiu-hiu buas yang mencoba memakannya dibunuhnya dengan sekali tinju atau sepakan.

Konon pula, selain bisa berpergian ke mana saja dan kapan saja ia suka, Pidil juga dipercaya bisa pergi dengan siapa saja ia mau. Ke Menara Eiffel, ia pergi ditemani oleh Marion Cottilard. Ke Venesia, ia ditemani oleh Monica Bellucci. Ke Bali, ia ditemani oleh Saras Dewi .

Lalu, kini, kabar bahwa ia telah merenggut hati Angelina Jolie pun diterima sebagai sesuatu yang tak perlu ditentang lagi kebenarannya.

***

Kekaguman tak rasional yang berlarut-larut itu mendorong rasa penasaran warga pada puncaknya. Apalagi semenjak belakangan Pidil dikabarkan telah menikahi Angelina Jolie, warga sudah semakin penasaran, tetapi tak juga sekalipun melihat sosok Jolie, entah itu di rumah Pidil atau melintas di kampung mereka.

Maka, pada suatu malam, atas komando Julpi, satu-satunya sahabat Pidil yang sejak lama menjadi kepercayaannya, warga menantang Pidil untuk membuktikan seluruh kemampuan yang ia ceritakan selama ini. Pidil, karena tak dapat lagi mengelak, memenuhi juga undangan itu. Ia disiapkan tempat duduk di tengah-tengah himpunan warga.

“Sekarang, tolong jelaskan, Saudara Pidil, kami sudah sangat lama penasaran dengan ilmu yang Anda miliki,” ucap salah seorang warga yang pernah belajar dengan Pidil.

“Pidil tersenyum, namun tak membuka mulut.”

“Tolong buktikan bagaimana Anda bisa berpergian ke mana saja, dengan siapa saja,” teriak yang lain.

Pidil masih tersenyum saja, seakan menertawakan orang yang mengajukan pertanyaan itu.

“Buktikan juga kalau Anda benar telah memperistri Angelina Jolie. Buktikan ke kami, mana si Angelina Jolie itu!”

Warga yang selama ini kasihan terhadap Pidil mulai terusik. Juga mereka yang tergabung sebagai Relawan Pendukung Pidil-Jolie. Mereka semua yang tadinya duduk, sekarang berdiri, geregetan menanti jawaban dari Pidil. Pidil, karena terdesak, akhirnya membuka mulutnya.

“Semua yang saya sampaikan selama ini memang benar adanya. Saya tidak berbohong sama sekali. Semuanya benar. Tidak ada satu pun yang tidak benar.”

Pidil memberi jeda, warga menyimak dengan saksama. Lalu ia meneruskan.

“Tetapi perlu dicatat, saya tidak menggunakan kekuatan magis apa pun; tidak bantuan jin, tidak pula bantuan arwah siapa pun. Tidak juga pintu ajaib punya Doraemon.”

Warga masih menyimak. Pidil melanjutkan lagi.

“Bahwa saya bisa pergi ke mana saja kapan saja, itu benar. Bahwa saya bisa kencan dengan siapa saja, itu juga benar. Dan bahwa saya telah menikahi Angelina Jolie dan sekarang hidup bersamanya, juga benar.”

“Mana buktinya!” sela warga, serempak.

Keributan meninggi. Suara-suara geram timpal-menimpal. “Tenang, Bapak-bapak.”

“Tenang, Ibu-ibu. Kita beri kesempatan pada saudara kita, Pidil, untuk menjawab,” Julpi menenangkan warga.

Pidil menebar senyum. Wajahnya setenang daun yang tak goyang ditiup angin. Seluruh bayangannya tentang alam semesta, tentang ruang dan waktu, berikut segala isinya, berputar-putar di kepalanya. Seluruh pengetahuannya tentang laut, tentang gunung, tentang hutan, tentang binatang-binatang, tentang tumbuhan, tentang perempuan-perempuan cantik dan segala seluk beluknya, tentang laki-laki dengan segala kebodohannya, tentang manusia yang sering baru bisa percaya sesuatu kalau sudah mengalami langsung, tergambar dengan jelas dalam layar kaca imajiner pikiran Pidil.

Saat keributan sedikit mereda, ia jatuh tergeletak. Di tengah kerumunan warga, dalam keadaan tubuh terkulai, Pidil mengigau, “Saya sekarang sedang di surga, bersama Angelina Jolie.”

 

ABUL MUAMAR sehari-hari bekerja sebagai wartawan lepas sembari belajar Ilmu Filsafat. Saat ini tinggal di Jalan Kaliurang KM. 6,5 Gang Sumatera Nomor E106, RT 06, RW 60, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DIY.

Advertisements