Oleh Pupuy Hurriyah (Kompas, 01 Oktober 2017)

Senyum Sang Juara ilustrasi Regina Primalita - Kompas
Senyum Sang Juara ilustrasi Regina Primalita/Kompas

SUDAH dua minggu berlalu, tetapi ingatan Sekar masih saja pada perlombaan story telling yang setiap tahun diadakan di sekolahnya, SDS Bina Insan Mandiri, Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Sebelum perlombaan, Sekar adalah sang juara bertahan. Karena dua tahun berturut- turut sebelumnya, Sekar selalu menjadi juara satu. Tahun ini pun teman-teman menjagokan Sekar kembali juara satu. “Hidup Sekar. Gelar juara pasti di tanganmu!” ujar teman-temannya sebelum lomba.

Namun ternyata, tahun ini Sekar harus puas menjadi juara dua. Sekar dikalahkan Ajeng, teman sebangkunya. Padahal, di tahun terakhir duduk di sekolah dasar ini, Sekar berharap dapat menjadi juara lomba story telling tiga tahun berturut-turut.

Harapan besar Sekar itu pupus karena Ajeng. Dua tahun sebelumnya Ajeng pun selalu ikut lomba story telling. Hanya, langkah Ajeng selalu terhenti di babak semifinal. Untuk tahun ini, Ajeng berhasil mencapai final. Bahkan, berhasil meraih juara I mengalahkan Sekar si juara bertahan!

Sekar ingat saat-saat menghadapi perlombaan, ia dan Ajeng berlatih bersama. “Sekar, kau baik sekali mau mengajariku untuk lebih baik lagi dalam belajar story telling,” kata Ajeng saat mereka berlatih.

Sekar tersenyum manis, “Aku senang jika kau bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dalam menghadapi lomba nanti.”

Ah! Tetapi, Sekar tidak pernah membayangkan, jika ternyata Ajeng dapat mengalahkannya saat lomba! Ada rasa sesal, kenapa berbaik hati mengajari Ajeng saat menjelang lomba? Perasaan Sekar campur aduk antara marah, kesal, dan kecewa. Sejak itu, Sekar selalu menghindar dari Ajeng. Ia bersikap dingin terhadap Ajeng.

Kini setelah dua minggu Sekar bersikap tidak ramah terhadap Ajeng, Sekar mulai merasakan sendiri kesedihan setelah persahabatannya dengan Ajeng menjadi renggang. Sekar merasakan kehilangan hari-harinya yang indah sebelumnya bersama Ajeng.

“Ajeng,” Sekar tiba-tiba menyapa Ajeng saat jam istirahat di kelas.

Ajeng terkejut. Sekar bicara padanya! Padahal sejak usai lomba dua minggu lalu itu, Sekar sama sekali tak mau bicara.

“Maafkan sikapku,” kata Sekar.

Sekar lalu menggenggam tangan Ajeng erat-erat. “Biarlah aku tidak mendapatkan gelar juara kemarin itu, asalkan aku tetap mendapatkanmu sebagai sahabat, Ajeng.”

Oh! Ajeng terkejut dengan sikap Sekar. Ia pun berkata, “Aku juga, Sekar. Aku pikir, lebih baik aku tidak menjadi juara, asalkan aku tetap menjadi sahabatmu.”

Sekar menggeleng, “Kau berhak mendapatkan juara, Ajeng. Kau sungguh bagus saat lomba. Aku harus sportif mengakuinya. Semalam ibuku bilang kepadaku, bahwa aku juga tetap menjadi juara. Aku juara karena telah berhasil mencetak seorang juara.”

Kedua sahabat itu pun saling berpelukan.

Advertisements