Cerpen Farizal Sikumbang (Kompas, 01 Oktober 2017)

Penagih Hutang Bersepeda Kumbang ilustrasi Made Meiada - Kompas.jpg
Penagih Hutang Bersepeda Kumbang ilustrasi Made Meiada/Kompas

Perihal cerita tentang seorang penagih hutang bersepeda kumbang, memang sudah banyak dilupakan oleh orangtua di kampung Kuranji. Bagi anak-anak, dan remaja yang beranjak dewasa, tentu saja cerita itu kini bagai tak pernah ada, karena tak pernah dituturkan oleh orang tua mereka. Tapi bagi keluarga kami, cerita itu tetaplah hidup.

Si penagih hutang itu, memang sudah tidak ada di kampung Kuranji. Mungkin itu yang membuat kisah ini tidak abadi di banyak orang. Karena musim mengikisnya, dan juga masa telah melupakannya. Tapi tentang sepeda kumbang itu? Ia benar-benar ada. Karena sepeda kumbang itu tergantung rapi di sudut dapur rumah kami.

Rumah kami? Masih seperti dulu. Berpuluh-puluh tahun lampau tidak jauh berbeda ketika si penagih hutang itu ada. Rumah panggung berdinding papan. Dan karena usia, sebagian papan-papan itu sudah lapuk dimakan rayap, sebagian lagi sudah diganti oleh Uni Ida dengan papan yang baru. Uni Ida dan suaminya, beserta tiga anaknya tinggal di rumah itu. Dan di rumah itu pula, bila aku pulang dari rantau, aku akan tinggal di sana untuk beberapa lama.

Usiaku dua belas tahun kala itu. Di kala si penagih hutang muncul pertama kali di kampung Kuranji. Saat itu aku sedang sibuk mencabut rambut putih almarhum Amak.

“Siapa itu Buyung yang bersepeda kumbang?” Tanya Amak sambil telunjuk lurus beliau mengarah ke laki-laki itu.

Mataku pun tertuju kepadanya, tapi tanganku masih sempat menarik sehelai rambut putih Amak.

“Entah Mak, tak kutahu siapa dia. Belum pernah kulihat wajahnya,” jawabku.

Laki-laki itu menyandarkan sepedanya pada serumpun pohon pisang batu di halaman rumah kami. Di tempat duduk belakang sepedanya, kulihat kayu memanjang yang diikatkan. Pada dua ujungnya, terlihat buntalan karung yang berisi barang pecah belah. Aku ingat ada baskom plastik. Ember, piring plastik dan beberapa lagi aku lupa.

“Maaf Amak, aku si pedagang keliling, si tukang jual barang pecah belah. Boleh kontan dan kredit. Perkenalkan namaku, Udin Leman asal Rengat,” katanya dengan girang.

Mak berdiri meninggalkanku di sudut pintu.

“Si tukang kredit? Belum pernah ada orang yang menjajakan barang-barang di kampung ini, buyung,” jawab Mak.

“Apa yang kau jajakan,” tanya Mak lagi.

“Baskom, piring, rantang nasi. Ambillah satu mak, mak cicil pun boleh.”

Mak memperhatikan setiap barang yang dibawanya. Nampaknya mak mulai tergiur juga.

“Rantangku sudah tak baik lagi.”

“Mak ambillah. Harganya lima belas ribu. Mak angsur per hari saja, ya.”

“Kau tiap hari kemari?”

“Ya, mak. Aku baru menyewa rumah di kampung sebelah.”

“O, begitu.”

Mak mengambil satu rantang nasi. Mak mencicilnya setiap hari. Kala itu kampung kami masih sepi. Semak-semak masih semarak di halaman, dan pohon-pohon besar juga masih melingkari kampung. Alat transportasi umum masih sulit ditemui, yang ada hanya pedati, dan dengan hitungan jari ada pula bendi.

Laki-laki penagih hutang bersepeda kumbang itu pun setiap hari mengunjungi rumah kami. Seperti perjanjian Mak dengan dirinya. Setelah itu dia akan mengelilingi kampung kami. Menjajakan barang dagangannya kepada orang lain. Dan semakin hari, semakin banyak orang kampung kami yang berlangganan dengannya.

***

Kakakku, Uni Ida baru saja menyelesaikan es-em-a-nya kala itu. Jadi kalau Mak mau pergi ke pasar atau ada keperluan lainya, beliau akan menitipkan uang pada Uni Ida yang akan diberikan pada si tukang kredit itu. Aku tidak tahu entah berapa kali Mak memberikan tugas itu pada Uni Ida.

Namun yang aku ingat adalah, bahwa beberapa hari kemudian, si tukang kredit itu dengan Uni Ida semakin bersahabat saja. Bukan, bukan seperti orang bersahabat, tetapi seperti dua orang yang saling menyukai. Mereka sering terlihat duduk berdua di rumah beberapa lama. Saling berbincang entah apa. Tapi dari wajah Uni Ida, seperti senang riang tak kepalang, begitu juga dengan laki-laki si penagih hutang.

Pernah beberapa kali aku diusir Uni Ida jika mereka sedang duduk berdua, atau Uni Ida akan membesarkan dua matanya sebagai isyarat agar aku pergi jauh. Aku juga sempat berpikir kala itu, begitukah cara bila dua orang saling menyuka?

Berbulan kemudian, hubungan mereka tercium oleh Abak. Dan suatu malam, Abak menginterogasi Uni Ida. Aku ingat itu malam yang dingin. Hujan turun sangat lebat memukul-mukul atap seng rumah kami. Mak menggigil di sudut ruang tamu dengan membisu.

“Kau masih baru tamat sekolah. Kau belum pantas berpacaran. Aku tak ingin kau berhubungan dengan, si tukang kredit itu.”

Uni Ida hanya diam dengan menekukkan wajah ke lantai. Tak berani menatap wajah Abak. “Aku tak ingin lagi mendengar bila kau berjumpa dengannya. Aku merasa dia bukan orang baik-baik. Jangan pernah berhubungan dengan orang yang tak tahu asal-usulnya. Kau mengerti?”

Uni Ida tak menyahut kata-kata Abak. Mulutnya membisu. Tubuhnya kaku. Ia serupa patung. Tapi airmata Uni Ida tumpah. Membasahi pipinya. Dan Abak tidak memikirkan tentang airmata. Bagi Abak, keputusannya tak boleh dilanggar. Mak, tak berani menyahut. Mak hanya diam. Kaku. Tapi di akhir pertemuan malam itu, Abak sempat menyalahkan Mak.

“Ini ulahmu, mengundang si tukang kredit itu datang ke rumah,” kata Abak.

Seperti Uni Ida, Mak juga hanya diam.

Di hari berikutnya, Mak tidak pernah lagi menitipkan uang pada Uni Ida. Ini adalah salah satu cara agar Uni Ida dan si tukang kredit itu tidak pernah lagi berjumpa. Setiap tukang kredit itu datang ke rumah, Maklah yang memberikan uang cicilannya.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada si tukang kredit itu setelah dia tidak berjumpa dengan Uni Ida untuk beberapa lama. Yang kuingat tentang Uni Ida adalah, bahwa setiap malam datang, Uni Ida tidak pernah lagi keluar kamar. Mukanya terlihat murung setiap hari. Dia pun sudah tidak banyak bicara. Dan Abak, tidak pernah hirau pada perubahan sikap Uni Ida itu.

Aku tentu kasihan pada Uni Ida kala itu. Beberapa kali aku sengaja membawakan makanan ke kamarnya. Tapi setiap makanan yang pernah kubawakan, tak pernah dimakan Uni Ida. Begitu juga bila aku menyapanya, Uni Ida tak pernah menyahut.

Suatu sore, aku mendengar suara gaduh di depan rumah kami. Dengan langkah gegas aku menyusul asal suara itu. Sesampai di pohon nangka, di samping rumah, kulihat Abak sedang mendorong tubuh si tukang kredit itu agar meninggalkan rumah. Di teras rumah, Mak memegangi tubuh Uni Ida yang sedang menangis.

“Pergi kau! Pergi! Pergi!” Berulang-ulang Abak mengucapkan kata-kata itu dengan lantang.

“Jangan pernah lagi kau injak rumahku ini. Pergi! Pergi!”

Abak baru berhenti berteriak setelah tubuh si tukang kredit itu hilang di balik semak dan sebatang pohon asam kandis. Sedangkan Uni Ida, tak henti-hentinya menangis, kadang seperti orang meraung. Suaranya mengalahkan kicauan suara burung, dan pekikan monyet-monyet liar yang hendak mencuri nasi basi jemuran mak.

Tiga hari berikutnya peristiwa aneh terjadi, Abak pulang dengan menaiki sepeda si penagih hutang. Mak jadi sangat kebingungan. Apa yang telah terjadi? Mungkinkah Abak telah membunuh si penagih hutang dan merampas sepeda kumbang? Ketika Mak menanyakan kepada Abak tentang sepeda itu, Abak tidak pernah menjawab. Bukan hanya tidak pernah menjawab. Abak jadi seperti orang bisu. Tidak lagi mau bicara. Dalam hal apa saja. Ini terjadi dalam dua minggu. Dan kejadian ini membuat Mak sering mengalami sakit kepala.

Memasuki minggu ketiga, Abak jatuh sakit. Abak mengalami sakit yang aneh. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Abak hanya bisa terbaring. Apabila Abak bersuara, apa yang beliau ucapkan nyaris tak terdengar. Kami terpaksa harus mendekatkan telinga ke mulut Abak setiap beliau hendak bicara.

Seorang mantri desa telah di datangkan Mak. Obat yang mereka berikan tak mampu menyembuhkan sakit Abak. Bahkan Mak, pernah pula mendatangkan dukun bermata elang dari kampung seberang. Si dukun mengatakan, bahwa Abak diserang ilmu hitam nujum orang. Lalu si dukun menyiram tubuh Abak dengan air batang pisang yang telah dibakar dan diselingi mantra-mantra yang aku sendiri tak paham. Namun usaha si dukun tak menghasilkan apa-apa. Lalu, apa yang membuat Abak mengalami sakit begitu rupa? Adakah ini hubungannya dengan si penagih hutang bersepeda kumbang?

Ya, lima hari setelah kematian Abak, pertanyaan itu terjawab sudah. Adalah mamak Odang, kakak Mak yang menguraikan semuanya.

“Pagi itu Abak kalian mendatanginya. Ia meminta agar si penagih hutang segera pergi jauh dari kampung seberang. Dia tentu saja sangat ketakutan. Abak kalian tak hanya membawa parang, tapi juga menceritakan dirinya, seorang mantan pejuang yang pernah berkali-kali menebas leher penjajah. Bisa kulukiskan ketakutan penagih hutang bersepeda kumbang itu. Tubuhnya gemetar. Keringat membasahi mukanya.”

“Selama dia membereskan barang-barangnya sebelum pergi, si penagih hutang sempat mengatakan asal usulnya. Dalam ketakutan dia mengatakan bahwa dia berasal dari Rengat. Anak yatim piatu. Dua orangtuanya mati dieksekusi Belanda, di saat Belanda menyerang kota Rengat. Setelah itu si penagih hutang itu langsung pergi. Dan Abak kau tak menyahut lagi. Selain membawa sepeda kumbang itu pulang. Tapi di dalam perjalanan pulang, Abak kalian dalam keadaan bimbang, merasa bersalah.”

“Jadi, penyakit Abak, karena beban pikiran,” simpulan Mak kala itu.

“Ya. Kalian tahu Abak kalian seorang pejuang. Dia pernah berperang di Rengat. Dia merasakan sendiri tragedi di kota Rengat itu. Abak kau merasa bersalah telah mengusir si penagih hutang itu. Seandainya ia tahu si penagih hutang itu anak yatim korban tragedi Rengat, tak akanlah dia mengusirnya. Setelah kejadian itu, Abak kalian pernah menyuruhku untuk mencarinya kembali, tapi aku tak pernah menemukannya sampai Abak kalian meninggal. Abak kalian sungguh menyesal.”

Mamak Odang menceritakan peristiwa itu dengan mata berkaca-kaca. Setelah selesai bercerita, beliau langsung mohon pamit minta pulang. Tak kutahu mengapa beliau begitu tergesa, mungkin saja beliau juga merasa berdosa tak menemukan kembali si penagih hutang, atau tak tahan melihat Uni Ida berurai airmata dengan tangis tertahan.

Lalu sampai berapa lama Uni Ida bergelut dalam kesedihan setelah kepergian si penagih hutang? Entah sampai kapan aku tak tahu, yang tahu hanya Uni Ida. Sebab dua minggu setelah kematian Abak, Uni Ida kembali hidup seperti biasanya. Tapi ada kebiasaan aneh Uni Ida yang muncul tiba-tiba, yakni Uni Ida suka sekali merawat dan membersihkan sepeda kumbang si penagih hutang. Dan sampai sekarang, sepeda kumbang itu tergantug rapi di dapur rumah kami. Tentang bagian cerita ini, aku yakin suami Uni Ida tidak tahu sama sekali.

 

(Banda Aceh, 2017)

Farizal Sikumbang lahir di Padang. Bekerja sebagai pengajar di daerah pedalaman Kabupaten Aceh Besar. Tinggal di Kota Banda Aceh. Cerpennya dipublikasikan di media nasional dan daerah. Kumpulan cerpennya “Kupu-Kupu Orang Mati” (2017).

Advertisements