Cerpen Eko Setyawan (Koran Tempo, 30 September 2017-01 Oktober 2017)

Tato Titi ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg
Tato Titi ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

DI sekujur tubuh Titi penuh dengan tato yang beraneka ragam. Ada berbagai gambar hewan, bunga, serta gambar-gambar lain yang hampir tidak bisa dikenali lagi karena banyaknya tato yang berjubel di sana. Titi sendiri bahagia dengan tato-tato itu. Sebab, dalam setiap tato yang digambarkan selalu memiliki kenangan yang selalu ia ingat, meskipun ia tidak bisa melihat beberapa tato seperti yang berada di tengkuk, bahu, pinggul, juga tato-tato yang ada di bagian yang tak terjangkau oleh matanya.

Sejak kecil Titi sudah akrab dengan tato, ia mengingat-ingat benar kapan pertama kali di tubuhnya digambari dengan alat pembuat tato itu, ditetak perlahan dan ia menjerit kesakitan hingga pingsan. Tato pertama Titi dibuat ketika ibunya mati. Ayahnya yang memaksa Titi untuk membuat tato itu dengan alasan agar bisa mengingat dan tidak merasakan kehilangan seorang ibu ketika melihat tato di tubuh Titi. Di dada kirinya digambar dengan kelopak bunga mawar yang masih kuncup. Ayah berpesan bahwa mawar itu tak boleh mekar sebelum waktunya. Dan mawar yang masih kuncup itu melambangkan kelahiran ibunya yang telah mati.

“Kenapa ayah ingin tubuhku ditato?” tanya Titi pada ayahnya ketika pertama kali mendengar keinginan aneh itu.

“Agar kau selalu merasa sedang dipeluk ibumu, serta ayah bisa melihat ibumu sewaktu-waktu,” jawab ayah dengan begitu meyakinkan.

 

TATO bergambar kelelawar di perutnya adalah tato yang paling disukai Titi. Tato itu digambar oleh seseorang yang pertama muncul dalam mimpinya. Sebelumnya ia tak pernah bermimpi. Dan mimpi itu adalah untuk yang pertama kalinya didapat. Bermula dari kekaguman Titi pada kelelawar yang terpengkur di langit-langit rumah ketika siang hari, tetapi tiba-tiba menghilang berkelebat pada suatu petang. Ia memimpikan bertemu seseorang yang bisa menato wujud kelelawar serupa dengan apa yang ia lihat di langit-langit rumahnya. Lengkap dengan ornamen genting, kayu, juga tembok yang menopang. Ia mencari-cari orang yang muncul dalam mimpinya hingga ke segala penjuru. Mulai dari terminal bus, pasar, penjara, hingga tempat-tempat orang-orang berandalan berkumpul. Semuanya sia-sia belaka.

Segala hal untuk menemukan orang dalam mimpinya terus dilakukan. Hingga suatu ketika ia merasa beruntung karena orang yang dicarinya selama ini menghampirinya. Tanpa tanda-tanda apa pun. Tiba-tiba bertemu. Titi kaget bukan kepalang, sekaligus bahagia yang tak tertahankan.

Laki-laki itu berambut gondrong, bertampang garang, dan sedikit lebih tua dari umurnya. Di tangan kirinya ada tato ular yang melilit dahan, ada tato mirip film kartun Donald Bebek, ada daun-daun yang rimbun, juga ada tato tulisan nama seseorang tetapi sudah nampak pudar, atau mungkin memang sengaja dihilangkan. Di lehernya ada tato rantai, sayap burung, serta gambar tangan yang mencengkeram. Nampaknya ia juga menyukai tato, serupa Titi.

“Kukira aku tak akan salah orang lagi,” laki-laki itu memulai pembicaraan dengan Titi.

“Ya, kau benar kali ini,” Titi meyakinkan diri.

“Aku beberapa kali menemuimu dalam mimpiku, kurasa kau pun begitu jika kulihat dari ekspresimu yang tak kaget sedikit pun dengan ucapanku.”

“Tentu, kita telah bertemu dalam mimpi kita masing-masing, dengan cara yang sama, dengan percakapan yang sama.”

Mereka tahu bahwa pertemuan mereka adalah untuk menggambarkan tato di tubuh Titi. Laki-laki itu tukang tato, berasal dari pedalaman pulau terbesar di Indonesia. Kemampuannya tentu tidak perlu diragukan lagi, dan Titi percaya akan hal itu. Bahwa kelelawar yang ia lihat setiap hari di langit-langit rumah itu harus segera digambarkan. Ia ingin mengingat ayahnya yang hilang di tahun-tahun pembantaian. Titi ingin mengingat ayahnya, dan dengan biasanya, ia akan mengabadikannya dalam tubuh.

Titi kehilangan ayahnya pada tahun-tahun pembantaian orang-orang yang dilakukan secara acak. Tanpa putusan dari pengadilan, diadili dengan cara sadis dan setelahnya tidak bisa ditemui. Ayahnya terlibat dalam kelompok yang dicap pemberontak itu. Ayah titi seorang pelukis, melukis hal apa pun yang ia sukai. Melukis apa pun yang disukai oleh Titi. Tapi sial, ketika bergabung dengan para pemain ludruk dan melukis mereka, ada kerumunan orang yang sudah jauh-jauh hari mengincar para pemain ludruk itu. Katanya ludruk telah dilarang, orang-orangnya harus ditumpas sesegera mungkin. Di Ibu Kota, beberapa hari yang lalu, jenderal-jenderal dibunuh dengan keji, dan pembunuhnya adalah atasan organisasi orang-orang ludruk. Sehingga para pemain ludruk terseret dalam ombak itu. Ayah titi tidak kembali lagi setelah peristiwa itu.

Tak perlu waktu lama untuk membuat tato kelelawar di tubuh Titi. Laki-laki itu sudah pengalaman, dan Titi sudah kebal dengan rasa sakit dalam membuat tato. Kelelawar lengkap dengan langit-langit rumah. Titi merasa bahwa ayahnya masih bersamanya, menjelma kelelawar dalam perutnya. Kelelawar dengan kepala terbalik. Karena Titi merasa bahwa ayahnya tidak salah apalagi terlibat, hanya menjadi korban dalam tahun-tahun pembantaian itu.

 

MEREKA berdua menikah. Tak butuh pemikiran yang sulit dalam menentukan pilihan itu. Mereka cocok, dan tak mungkin bisa mengelak. Laki-laki itu beberapa waktu yang lalu mengikuti ajang pencarian bakat di televisi nasional. Akan ada pemilihan artis yang akan mengisi acara ketoprak. Ia memiliki bakat dalam dunia peran, karena sebelumnya telah berkegiatan di seni teater dan berkumpul bersama beberapa seniman. Tapi tentu saja tidak terpilih, apalagi menang. Sebab, televisi nasional tidak akan menerima orang yang berambut gondrong, bertato, apalagi awut-awutan seperti tampangnya itu.

Titi mengerti, seandainya laki-laki itu tidak serupa berandalan, ia yakin pasti akan terpilih menjadi bintang ketoprak. Tapi Titi tidak bisa melarang, apalagi mencegah, sebab mereka berdua memiliki kesamaan. Mereka sama-sama menyukai tato.

Di kota, banyak orang-orang berandalan berserakan di pinggir jalan. Mati sia-sia. Di dadanya bersarang peluru. Ada serupa lubang pipa galian kecil yang tembus ke dalam tubuh. Sudah ratusan orang serupa preman terkapar, dibungkus karung serupa onggokan sampah, tangan dan kakinya diikat, mengambang di sungai, tergeletak di pasar, ada pula yang hilang serupa pada tahun-tahun pembantaian.

Apakah ada yang lebih dikhawatirkan dari seorang perempuan selain kehilangan seorang kekasih?

“Aku mencemaskanmu,” kata Titi pada kekasihnya. “Aku tak ingin kau mati sia-sia seperti mereka, apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan anakmu. Kuminta kau jangan macam-macam. Aku tak ingin anakku tak melihat bapaknya ketika lahir.”

“Apa yang kau khawatirkan terlalu berlebihan, aku tidak serupa preman-preman itu. Kurasa aku tak akan mati di jalanan.”

“Tapi mereka semua yang mati berambut gondrong. Terlebih lagi kau, sudah gondrong, juga tato menyelimuti tubuhmu, kukira mereka akan mencabut nyawamu lebih cepat.”

“Tidak, aku bukan preman, apalagi berandalan seperti yang mereka pikirkan.”

“Tetapi mereka tak akan menanyaimu apakah kau ini preman atau bukan,” jawab Titi dengan nada kecewa dan khawatir pada kekasihnya.

Titi selalu khawatir ketika kekasihnya ke luar rumah, merinding ketakutan. Tetapi laki-laki itu masih tak peduli dengan kejadian-kejadian itu, ia masih saja berkeliaran dengan tenang. Padahal kematian sudah di depan matanya. Ketika ia berjalan mencari rokok pada malam hari, ada dua-tiga orang berpakaian serba hitam mengekorinya di kegelapan malam. Mereka membawa bedil laras panjang buatan Jerman. Harganya cukup murah, atau mungkin memang hasil hibah dari negara asalnya. Laki-laki itu tak merasakan hal apa pun ketika salah satu dari orang itu melontarkan isi bedil ke lehernya. Sayap burung di lehernya terkena mesiu antah berantah, sayap itu tercabik dan memuncratkan darah. Lelaki itu mati dan mayatnya tergeletak di pinggir jalan.

 

SETELAH lima tahun kematian kekasihnya, Titi telah melupakan ingatan tentang segala kejadian yang hampir saja membuatnya gila. Melupakan kematian ayahnya, juga kekasihnya, yang keduanya sama-sama mati dengan tragis. Ia bekerja di sebuah toko Pecinan di tengah kota. Titi bekerja untuk menyekolahkan anaknya juga untuk menyambung hidupnya. Tetapi masa-masa genting masih menyelimuti kota dan negara yang dirasanya begitu busuk. Harga-harga melonjak naik, dan kini toko yang dijaganya benar-benar sepi. Hanya satu-dua pembeli yang ia layani dalam beberapa hari terakhir.

Nahas, di kota ada demo besar-besaran dan merambat ke kotanya. Banyak mahasiswa dan warga menjarah dan membakar segala hal yang berkaitan dengan salah satu negara di Asia Timur. Titi bekerja di sana, ia tak dapat mengelak. Di jalanan semakin riuh dan kebakaran merembet dari satu toko ke toko lain hingga sampai pada toko tempat Titi menyambung hidupnya dari hari ke hari.

Titi tak sempat menutup toko setelah orang-orang telanjur masuk dan menjarah toko itu, ia berlari ketakutan. Ia bukan orang keturunan, ia warga negara yang sah. Tetapi ketakutannya menyebabkan segala hal memburuk. Hingga tiba saatnya ia terpaksa harus ikut ayah dan kekasihnya. Ketika ia berlari ke sebuah gang, ada besi berkarat kerangka jemuran yang melintang di depannya. Karena panik, Titi tak melihatnya. Ia berlari dan menabrak besi itu hingga mengenai tato kelopak bunga kuncup di dadanya hingga tembus ke punggungnya. Bunga mawar itu mekar, berwarna merah sempurna. ●

 

EKO SETYAWAN, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Beberapa karyanya termaktub dalam buku antologi puisi bersama dan kumpulan cerpen. Buku kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (Bebuku, 2017). Dia bernaung di Komunitas Sastra Senjanara dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar

Advertisements