Cerpen Budi Afandi (Suara NTB, 30 September 2017)

Badut Sugul ilustrasi Suara NTB.jpg
Badut Sugul ilustrasi Suara NTB

Sugul mengayunkan bilah bambu di tangan kanannya sambil memaki anak-anak yang asik bermain layang-layang. Tiap kali ia memaki, tiap kali itu pula anak-anak menimpalinya dengan tawa dan cemooh. Seorang anak mengacungkan cermin ke arah Sugul, cermin yang memantulkan cahaya siang ke tubuh Sugul. Pantulan cahaya itu bergerak tak beraturan, kadang terlihat di dada, sebentar pindah ke kaki, sebentar pindah ke wajah Sugul.

“SETAN-setan cebol!” Sugul memekik seraya tangannya bergerak serampangan seperti berusaha menahan pantulan cahaya yang menyasar tubuhnya.

“Ayo kemari badut!” teriak seorang anak.

Mendengar tantangan itu Sugul segera mengambil ancang-ancang. Kakinya membentuk kuda-kuda laiknya petarung yang siap menerjang lawan. Melihat hal itu, anak-anak yang tadinya tampak gembira langsung diam, mereka saling pandang. Pada detik itu Sugul sudah benar-benar siap mengambil langkah pertama, namun sebuah pantulan cahaya singgah tepat di wajahnya. Dan seketika itu pula Sugul memutar tubuhnya, berlari menuju pintu rumah. Ia membanting pintu, menguncinya dan hanya bisa mendengar pekik kemenangan anak-anak di tanah lapang di depan rumahnya.

***

Sugul lahir di keluarga badut pesta. Pekerjaan yang kerap membuatnya turut bergembira bersama anak-anak yang dihibur ayah dan kakaknya. Pekerjaan yang membuatnya begitu menyukai dunia anak-anak. Tapi sekarang Sugul seakan tidak menyukai anak-anak, terutama anak-anak yang saban hari bermain layang-layang di dekat rumahnya. Tiap melihat mereka, Sugul langsung kehilangan kendali seperti sapi yang baru menyadari hendak disembelih. Ia tidak suka melihat anak-anak bermain layang-layang, dan ketidaksukaannya menjelma menjadi amarah saat anak-anak menolak berhenti bermain layang-layang.

Layang-layang selalu mengingatkan Sugul pada wajah Demok, kakak perempuannya yang meninggal dalam kecelakaan sepeda motor dua belas tahun lalu. Saat itu ayahnya dan Demok sedang dalam perjalanan ke kota untuk membeli keperluan bekerja. Dalam perjalanan itu, seutas benang dari layang-layang yang putus melintang di tengah jalan dan mengenai leher ayahnya yang sedang melaju. Entah kerena terkejut, ayahnya kehilangan kendali atas sepeda motornya sehingga terjadilah kecelakaan. Ayahnya memang selamat, tapi Demok meninggal dengan kepala pecah terlindas truk.

Sugul akan melakukan apapun untuk mengusir anak-anak yang bermain layang-layang di dekat rumahnya. Ia pernah mengancam mereka dengan bilah bambu, pernah juga melempari mereka dengan kerikil.

Sugul membenci layang-layang, benci pula pada anak-anak yang tak mau berhenti bermain layang-layang. Tapi kebencian itu tidak mampu mengalahkan rasa takutnya pada cermin.

***

“Ayo kita cari tempat makan lainnya,” kata Sugul kepada Ratimah, wanita yang telah membuatnya jatuh hati.

Untuk kesekian kalinya Sugul mengajak Ratimah berpindah rumah makan saat mereka baru tiba dan duduk di sebuah rumah makan. Hal itu membuat Ratimah kesal, terlebih ketika Sugul akhirnya memilih membeli nasi bungkus dan mengajaknya makan di taman.

“Takut kok pada cermin,” kata Ratimah.

“Bukan takut,” timpal Sugul. “Tak suka saja.”

“Tetap saja aneh.”

“Yang aneh itu rumah makan yang repot-repot memasang cermin,” timpal Sugul.

“Itu biasa.”

“Buatmu,” ucap Sugul.

“Kenapa?”

Sugul menatap Ratimah. Ia menarik napas panjang sebelum merebahkan badan di rerumputan dan memejamkan mata.

***

Siang itu Sugul hanya bisa duduk di kursi dengan tangan kanan yang terus memegang bilah bambu. Kepalanya menunduk. Ia menatap jari-jari kakinya. Tetiba ia merasa begitu membenci Ratimah.

Suara tawa dan cemooh anak-anak masih terdengar memadati udara di sekitarnya. Bayangan layang-layang mulai muncul dalam kepalanya, layang-layang itu menggelantung bersama wajah Demok.

Sugul menarik napas panjang, meletakkan bambu di samping kursi, berdiri dan berjalan menuju gudang. Tawa anak-anak masih terdengar saat Sugul membuka pintu gudang, pun begitu saat hidungnya menangkap aroma debu dan benda-benda lapuk.

Perlahan Sugul menatap benda-benda yang diselimuti kain usang. Ia teringat saat ayahnya mulai menurunkan cermin-cermin di rumah.

“Di sana ada kakak,” Sugul menunjuk-nunjuk cermin kecil di atas meja sambil mendekap ayahnya.

“Di sana juga ada kakak,” Sugul menunjuk cermin besar di tembok kamar.

“Di sana juga,” Sugul membenamkan wajahnya semakin dalam seraya mengacung-acungkan tangan kirinya ke berbagai arah.

“Iya,” timpal ayahnya.

“Kalau itu kakakmu,” lanjutnya, “Kenapa kau takut?”

“Itu kakak,” ucap Sugul tersengal, “Aku ingat baju itu.”

“Iya,” sambut ayahnya. “Kakakmu sedang apa di sana?” kata ayahnya dengan nada bercanda.

Sugul menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah mendekati sebuah benda besar yang diselubungi kain cokelat yang dipenuhi lapisan debu. Tubuh Sugul bergetar saat tangan kanannya bergerak meraih kain cokelat itu. Sesaat tangannya berhenti ketika sudah begitu dekat dengan kain cokelat yang membungkus benda itu.

Sugul memejamkan mata. Suara anak-anak kembali terdengar. Bayangan wajah anak-anak yang tertawa girang langsung berbaur dengan bayangkan wajah Demok yang menggelantung di setiap layang-layang.

Sugul membuka mata, menarik napas panjang kemudian menarik kain yang menyelubungi benda besar yang adalah sebuah cermin.

“Dalam cermin-cermin itu, kakak sedang merias wajahnya,” ucap Sugul pada ayahnya ketika itu.

Sugul menghempaskan badannya ke dinding. Matanya memerah menatap sosok dalam cermin di depannya. Perempuan dengan rambut hitam legam terurai. Perempuan yang sedang menghadap ke sebuah cermin besar.

Perempuan itu sedang merias wajahnya. Dari cermin di depan perempuan itu, Sugul bisa melihat perempuan itu membuat titik-titik merah di bawah kedua matanya. Lalu membuat garis melengkung ke bawah di kedua sisi bibirnya, bibir sedih di wajah seorang badut. Dan begitu bibir sedih itu sempurna, seulas senyum bersembunyi di dalamnya.

Sugul menegakkan tubuhnya, mendekatkan tangan kanannya ke permukaan cermin. Saat jari tangan kanannya menyentuh permukaan cermin, perempuan dalam cermin juga sedang menyentuh permukaan cermin di depannya, tepat di mana wajah Sugul terlihat. Seketika itu juga Sugul dapat merasakan jari-jari tangan perempuan itu. Perempuan dengan wajah badut menangis. Perempuan yang mengenakan baju badut yang biasanya dikenakan Demok. Perempuan yang kini mengoleskan bedak tebal di wajah Sugul sambil terus mengatakan, “anak-anak itu sudah menunggumu.” Dan Sugul tahu, suara itu bukanlah suara kakaknya.

 

Mataram-Jakarta, 2013-2017

Budi Afandi lahir di Dusun Bilatepung, Desa Beleka, Lombok Barat, 20 Juni 1983. Kumpulan cerpennya adalah Badja Matya Mantra (2013) dan Kebaikan Istri (2017).

Advertisements