Cerpen Taufiq Affandi (Republika, 24 September 2017)

Ramdhan (2) ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg
Ramdhan ilustrasi Rendra Purnama/Republika

(Bagian 2 dari 2)

“Bagus, Ramdhan. Kamu menyerahkannya tepat waktu. Utusan dari kantor pusat akan mengambilnya sekitar lima menit lagi.” Kata atasan Ramdhan dengan wajah semringah. Ramdhan berusaha tersenyum juga. Tapi, jelas dia bukan aktor yang baik.

“Ini ada sedikit…” kata atasannya sembari menyodorkan amplop cokelat.

Ramdhan tampak kebingungan. Tangannya belum bergerak menyambut amplop itu.

“Sekadar ucapan terima kasih atas kinerja baik kamu di kantor. Sebentar lagi kan Ramadhan. Mungkin ini bisa jadi bingkisan Ramadhan untuk orang tua kamu.” Itu tentu hanya basa-basi.

Ramadhan terakhir baru saja berlalu. Meski sebenarnya, tidak pernah terlalu jauh untuk bersiap-siap menghadapi Ramadhan. “Terima kasih, Pak.”

Hati Ramdhan ngilu. Ngilu dengan keputusannya untuk membiarkan copet yang dilihatnya di bus tadi.

***

Ramdhan meletakkan amplop cokelat itu di meja kerja di rumahnya. Sejenak, ia ingin menuliskan kisah tentang bagaimana hari ini ia mendapat bonus di catatan hariannya.

Lalu, tiket bus Damri tampak lagi di sela-sela buku tersebut. Tiket itu seperti memiliki wajah dengan mata tajam yang menatap ke arahnya.

Ramdhan melenguh napas panjang. Ia memarahi dirinya sendiri. Apakah kecintaan terhadap dunia telah menjadikan hatinya lemah? Apakah dunia telah melunturkan warna kebenaran?

Ramdhan menutup catatan hariannya dengan suara keras. Bhuggg.

Tangannya mengepal keras, menempel di sansak yang baru saja di hantamnya.

Bhuggg. Sebuah pukulan lain di samsak, lalu….

***

Bhuggg. Pukulan Ramdhan remaja mendarat di perut Ustaz Fauzi, guru silatnya yang tidak tampak kesakitan.

“Lain kali, perbaiki kuda-kudamu sebelum belajar memukul. Tidak ada bangunan kuat yang berdiri di atas fondasi yang rapuh,” kata Ustaz Fauzi dalam bahasa Arab.

“Pukulan dan kuda-kuda saya sudah bagus, Ustaz,” kata Ramdhan. Kata-kata itu membuat Ramdhan sendiri terkejut. Ia tidak biasa memuji diri sendiri seperti itu. Tapi, ia sendiri sudah belajar bela diri sejak sebelum masuk pondok dan ia merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Ustaz Fauzi barusan.

Sang ustaz tersenyum. “Jangan membohongi dirimu sendiri,” Ramdhan. Ia pergi berlalu dari Ramdhan dan berkata, “Baik, sekarang semuanya berkumpul di sini.”

“Tenang aja, besok sore kita latihan di lantai 4,” kata Fakhri sembari menepuk pundak Ramdhan.

“Aku punya jurus yang bisa kamu pelajari juga,” sambung Falah. Ramdhan mengangguk.

Mereka lalu duduk melingkari Ustaz Fauzi.

“Kalian harus jujur pada kalian sendiri. Jangan membohongi orang lain, apalagi membohongi diri sendiri. Jujurlah. Jujur dalam perkataan, dalam perbuatan, dan termasuk jujur pada diri kalian sendiri. Jujur dalam memenuhi apa yang kalian yakini.”

“Kalian tahu kan apa tanda orang munafik? Aayatul munafiqi tsalaasun. Idzaa haddatsa kadzdzaba, wa idzaa wa’ada akhlafa, wa idza ‘tumina khaana,” kata Ustaz Fauzi.

Fahimta ya Ramdhan?” tanya Ustadz Fauzi.

Suasana hening. Bagaimana mungkin Ramdhan akan mengatakan bahwa ia tidak paham bahwa tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara, berbohong; jika berjanji, ingkar; jika dipercaya, khianat.

Karena Ramdhan masih diam, Ustaz Fauzi mengulangi pertanyaannya barusan apakah Ramdhan paham dengan kata-katanya.

“Na’am, Ustaz.” Ramdhan mengiyakan. Mengiyakan hadis itu berat konseuensinya dan ia tidak yakin sanggup mengamalkan hadis itu. Maka, ia hanya menunduk.

***

Ramdhan dewasa kini mengangkat pandangannya. Suasana hiruk-pikuk. Penumpang berjejalan masuk. Ia melangkah masuk ke dalam bus Transjakarta. Di pemberhentian berikutnya, sebagaimana sudah dibaca oleh Ramdhan, pencopet itu masuk.

Penjahat itu mendekati seorang lelaki setengah baya berpakaian bagus yang tampak kikuk dan kebingungan. Sepertinya, baru hari ini penumpang tersebut menumpangi Transjakarta karena sopir pribadinya tiba-tiba sakit.

Dalam sekedipan mata, dompet target sudah berpindah tempat. Pencopet itu semakin hari semakin mahir saja, pikir Ramdhan. Pemberhentian selanjutnya sebentar lagi tiba. Pencopet itu akan turun.

Ramdhan bergeser mendekati bapak korban pencopetan.

Saat pintu terbuka, Ramdhan memberikan secarik kertas berisi nama dan nomornya ke bapak itu dengan cepat sembari berkata, “Hubungi saya sejam lagi, Pak.”

Bapak yang kebingungan itu semakin kebingungan. Pencopet turun. Ramdhan berhasil menjadi orang terakhir yang turun di pemberhentian itu. Pencopet berjalan ke sisi jalan. Ramdhan mengikutinya.

Pencopet melewati gang di sela gedung bertingkat. Ramdhan mengikuti lelaki itu sembari hatinya berdoa, semoga ia bisa berbicara baik-baik dengan pencopet ini. Mungkin pencopet itu akan berhenti di rumahnya yang kumuh, lalu Ramdhan akan coba berbicara dari hati ke hati sembari menawarkan bantuan apa yang bisa ia berikan.

Amplop yang diberi oleh atasannya mungkin bisa menjadi modal usaha orang itu. Ramdhan yakin, orang tuanya takkan keberatan jika uang itu tak jadi bingkisan Ramdhan. Kalian harus jujur pada diri kalian sendiri, kata Ustaz Fauzi terngiang-ngiang lagi di telinga Ramdhan.

Jika harus jujur pada diri sendiri, ia akan berkata bahwa ia membenci ketidakadilan. Tapi, ia juga membenci kekerasan. Jika ketidakadilan bisa dihentikan tanpa kekerasan, itulah jalan yang akan ia ambil. Gambaran saat Ayahnya menyelesaikan masalah dengan kondektur bus Damri tanpa harus menggunakan kekerasan terpatri di hatinya. Itulah jalan yang ingin ia tempuh. Itulah jalan yang ia berharap dapat ia tempuh.

Di belokan, pencopet itu berbelok ke gang lebih kecil. Ramdhan mengikuti, lalu berbelok di belokan yang sama. Pencopet itu tidak kelihatan lagi. Ramdhan memperlambat langkahnya.

Seluruh sensor sarafnya menyala dengan kekuatan penuh. Lalu…

Seseorang mengibaskan golok dari belakang. Ramdhan menahan dengan tasnya, terdengar suara benturan golok dan double stick-nya. Seorang datang lagi dari depan, Ramdhan melawannya dengan melemparkan tasnya ke tubuh orang itu, lalu menendangnya.

Tiga orang lagi datang. Salah satu di antaranya adalah pencopet yang diikutinya tadi. Perkelahian sengit tak terelakkan. Ramdhan berusaha melawan lima orang itu dengan semua kemampuan yang dimilikinya.

Ramdhan tersungkur oleh tendangan seorang penyerang. Ia berusaha meraih tasnya dan mengeluarkan double stick-nya. Tiba-tiba, tangannya menjadi dua kali lebih panjang; dua kali lebih keras; dan tangan itu kini melibas dua penyerang.

Ramdhan berada di atas angin, dua penyerang sudah tersungkur. Tapi, ancaman datang, sebuah kayu balok mengayun cepat dari belakang. Komputer biologis Ramdhan menghitung kecepatan ayunan itu. Tidak cukup waktu untuk menghindar ataupun menangkis.

Namun, ada cukup waktu untuk menahan. Ramdhan mengencangkan urat punggungnya. Dalam hitungan mikron detik ia memusatkan kekuatan di titik yang akan berbenturan dengan kayu balok itu.

Lalu, terdengar suara benturan dan gemeretak sesuatu yang patah. Balok kayu itu patah terbelah dua.

Penyerang ternganga tidak percaya, tapi mulutnya segera terkatup saat sabetan double stick Ramdhan mengayun dari bawah menghantam rahangnya. Keseimbangannya hilang, penyerang ketiga tersungkur.

Dua penyerang terakhir semakin kalap. Perkelahian semakin menjadi-jadi. Sebuah batu yang dilempar dari sebelah kanan Ramdhan berhasil ditepis dengan sabetan double stick. Namun, terlambat baginya mengantisipasi lemparan batu dari kiri yang menghantam pipinya. Ramdhan tersungkur. Tapi, tidak lama.

Ramdhan bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi, melawan lagi, terluka, menyerang lagi. Dan akhirnya, dengan sebuah pukulan pamungkas, penyerang terakhir pun mencium tanah. Napas Ramdhan tersengal-sengal. Ponsel Ramdhan berdering. Sebuah nomor yang tak dikenal muncul di layar ponsel.

“Halo, Mas Ramdhan?” Suara dari seberang sana itu baru pertama kali Ramdhan dengar. Tapi, sepertinya suara itu keluar dari seseorang yang pernah ia lihat.

“Iya, Pak.”

“Mas, mohon maaf, belum sejam tapi sudah saya telepon. Lagi sibuk nggak nih, Mas?”

“Tidak, Pak.”

“Wah, kebetulan. Mas, saya lagi butuh sopir pribadi. Kira-kira, Mas bisa?”

 

TAUFIQ AFFANDI sehari-hari aktif mengajar sebagai ustaz dan dosen di Pondok Modern Darussalam Gontor. Dia aktif menulis cerpen dan artikel sejak menjadi santri di pondok tersebut.

Advertisements