Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Suara Merdeka, 24 September 2017)

Perempuan Hujan ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Perempuan Hujan ilustrasi Suara Merdeka

Sepasang mata menggigil, memandang keluar menembus kaca jendela yang dipenuhi percikan air hujan. Sepasang mata berharap hujan tak mereda.

Ia lelaki, ia mahasiswa, penyuka puisi, karena katanya puisi adalah lukanya sepi. Selain menyukai puisi, ia juga menyukai hujan. Maka siang ini alangkah senang hatinya, setelah sekian bulan dilanda kemarau, akhirnya hujan turun. Ia begitu rindu, merindukan hujan.

Bukan berarti lelaki itu melankolis. Tidak, justru ia lelaki yang tergolong garang. Di kampus ia terkenal pemberani. Begal pernah dia habisi. Preman apalagi. Dan sekarang ini, lelaki itu sedang berada di warung makan.

Lelaki itu belum menyentuh makanan pesanannya, meski ia tahu perutnya sudah merengek-rengek. Lelaki itu masih memandang keluar. Ia tak bergerak barang sedikit pun. Mungkin si pemilik warung heran, tetapi nyatanya tak berani menegur.

Di luar sana, ada hujan, ada sebuah peristiwa yang membuat dadanya bergetar hebat. Sebelumnya dadanya belum pernah bergetar sehebat ini. Lelaki itu terus dan terus memperhatikan, tanpa peduli pada waktu yang terus berpacu.

Apa sesungguhnya yang dia saksikan? Kau pasti penasaran. Penulis pun demikian.

Lelaki itu keluar, tak percaya apa yang baru saja dia saksikan. Hujan telah membuat sebuah karya, bukan kenangan, bukan pula keromantisan. Hujan telah melahirkan manusia. Lihatlah dengan mata utuh, di seberang warung ada lapangan, di tengah sana ada seorang perempuan. Dia yang baru saja diciptakan oleh hujan.

Perempuan itu mengenakan baju putih, rok putih. Tanpa alas kaki. Sementara lelaki itu berkemeja putih, celananya berwarna hitam. Lelaki itu berlari secara spontan. Pemilik warung tak keluar menyaksikan pembeli yang aneh. Tadi pemilik warung menghilang di balik pintu di dekat menu makanan. Mungkin ia sedang buang hajat di kamar mandi atau menulis puisi.

Lelaki itu kini basah dengan air hujan.

“Hai?” Lelaki itu menyapa. Perempuan itu menoleh penuh kemanisan.

Seperti embun pagi yang tidak pernah ada yang tahu dari mana muasalnya, tiba-tiba saja mereka begitu akrab di tengah-tengah hujan yang begitu deras. Beberapa saat kemudian, lelaki itu mengajak perempuan yang teramat cantik itu menepi, masuk ke warung makan.

“Kita belum berkenalan. Siapa namamu?”

“Namaku Hujan,” jawab perempuan itu.

“Namaku Senja.”

“Senja? Kok Senja? Terdengar picisan.”

“Juga kau. Kok Hujan?”

Namun nama tidak begitu penting. Senja segera memesankan satu piring nasi untuk Hujan. Sementara makanannya telah mendingin. Senja menggigil, udara dingin masuk ke dalam pori-pori. Ia tak berkutik. Hujan terus nerocos. Ia bertanya ini-itu, sesekali menceritakan kenangan, sesekali berkata-kata puitis. Dan Senja hanya menanggapi dengan ya atau kalau tidak oh.

***

Perempuan itu mengusap bibir bagian kanan Senja dengan jempol. Penuh ketulusan. Hujan masih menderas dan entah kapan akan berhenti. Mereka berdua terus dipermainkan perasaan. Senja tampak salah tingkah.

“Ada apa sih?”

“Ada sisa kopi.”

“Oalah, kukira ada rindu.”

Senja tersenyum. Pun Hujan. Mereka sama-sama tersenyum.

“Bolehkah aku berkata-kata?” Senja bertanya dengan mimik serius, menangkap mata cerlang Hujan yang kering oleh air hujan.

“Kenapa tidak?”

“Kau tahu detik kan?”

“Iya. Ada apa dengan detik?”

“Dengarkan baik-baik. Detik adalah jantungku dan kau menit yang terdiri atas detik.”

Hujan tersipu, pipinya memerah jambu. Hujan menarik tangan Senja, menuju ke tengah hujan. Senja tak menyadari, tas kuliahnya menjadi basah. Rambut Hujan berkibar-kibar, meski hujan menghantam kepalanya. Ajaib! Sungguh! Senja benar-benar terpana. Senja memeluk Hujan. Seketika dada Senja sakit luar biasa, sakit yang membuat dia ketagihan.

“Hujan sebentar lagi selesai. Sebentar lagi aku pergi,” kata Hujan dengan suara pelan.

Tiba-tiba saja Senja murung. Ada perasaan menyelinap masuk ke sarung hatinya, semacam perasaan tidak ingin kehilangan. Senja memeluk Hujan makin erat.

“Tapi kau akan kembali kan?”

“Aku ini hujan, lambang kesetiaan. Aku tidak mungkin pergi dan tidak kembali. Sekali lagi, hujan lambang kesetiaan. Kau tidak usah khawatir ya?”

Senja bahagia mendengarkan kata-kata Hujan.

Tak terasa hujan benar-benar lenyap ditelan panas yang datang. Matahari memancarkan sinar. Meski ada sekelumit awan menghalangi, sinarnya cukup membuat silau mata. Senja tak sadar Hujan sudah tak ada di pelukan.

“Hujan? Hujan?” Senja memanggil. Ia begitu panik.

Tidak ada siapa-siapa. Yang ada kendaraan berlalu lalang, yang selalu menyembunyikan klakson saat melintas di dekatnya. Senja terbelalak. Ia ternyata di tengah jalan. Cepat-cepat Senja berlari ke pinggir jalan. Penglihatannya menjangkau segala penjuru. Perempuan yang baru saja dia dekap tak ada.

“Hujan! Hujan!” Senja memanggil-manggil, menyedihkan.

Malam hari ia gelisah. Senja tak juga bisa tidur. Pikirannya melayang keluar jendela, memikirkan Hujan. Kepalanya dipenuhi pertanyaan tentang Hujan. Senja tak tahan juga dengan ketidaktenangannya. Ia beranjak dari ranjang, membuka pintu kamar, mengayunkan kaki menuju pintu depan. Senja duduk di teras rumah, menikmati malam yang menetes begitu deras. Dalam hati ia berdoa, agar malam ini turun hujan. Namun doanya muspra. Hingga pagi menyapa, tak ada sebutir pun air jatuh dari langit.

Senja terjaga. Baru saja tubuhnya digoyang-goyang.

“Mengapa kamu tidur di luar, Nak?” Seorang perempuan berumur lima puluh tahunan berkata penuh kelembutan. Begitu keibuan.

“Hujan! Hujan! Hujan!”

“Hus! Tidak hujan kok.”

“Hujan, di mana, Ma?”

“Sana masuk ke dalam. Mandi.”

Tanpa banyak bicara, Senja masuk. Ia masuk ke kamar, meraih ponsel. Begitu banyak pesan dikirim seseorang bernama Hujaniawati, kekasihnya. Senja membalas, meminta maaf baru bisa balas. Ia menambahkan baru saja bangun.

“Tumben?” begitu kekasihnya membalas.

Senja tak membalas. Ia berlalu begitu saja. Kembali wajah Hujan menghantui dia.

***

“Hujan! Hujan!” Lelaki itu berteriak-teriak, meski ia terbaring di atas kasur putih, di sebuah ruangan serbaputih. Ia masuk rumah sakit tiga hari lalu karena merasakan pusing sangat luar biasa.

“Aku di sini,” seorang perempuan berkata lembut, pipinya dipenuhi air mata.

Mata lelaki itu tak tenang. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Hujan! Hujan!” Ia berteriak-teriak lagi.

Perempuan di sampingnya, yang tak lain kekasihnya, menangis, mengkhawatirkan sesuatu.

“Kau kenapa?”

“Hujan! Hujan! Hujan!”

Air mata perempuan itu makin tak terbendung. Lelakinya terus menyebut-nyebut Hujan. Perempuan itu tidak atau belum tahu: lelakinya telah gila. (44)

 

Bantul, 2017

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus SMA Negeri 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta (2017), alumnus kelas cerpen Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul (2015), itu bergiat di Komunitas Pecinta Sastra Indonesia (Kompensasi). Dia bermukim di Bantul.

Advertisements