Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 24 September 2017)

Nio ilustrasi Samuel Indratma - Kompas.jpg
Nio ilustrasi Samuel Indratma/Kompas

Namaku Nio. Tapi aku lebih suka dipanggil Nia. Bukan karena mataku tidak sipit. Bukan karena tulang pipiku tidak menonjol. Bukan karena wajahku tidak bulat. Bukan karena lidahku tidak cadel. Bukan karena keluargaku kere. Bukan karena kami hidup dalam gubuk miskin di sebuah kampung, baur dengan pendatang dari Madura, Bugis, Padang, Medan, dan Ambon. Bukan juga karena aku tidak mau dibilang keturunan China.

Kenapa harus tidak mau? Nenek moyangku totok dari China daratan. Sanak saudaraku masih berserakan di sekitar jalanan Sutera. Aku tidak pernah keberatan, malu, kecil hati atau tersinggung. Bahkan, aku bangga betul berasal dari negeri leluhur yang menciptakan mesiu, percetakan, dan mi yang sekarang menjadi kebudayaan dunia.

Bangsa yang pernah melahirkan orang-orang besar, seperti Kong Hu-Cu, Lao Tze. Bangsa yang begitu hebat etos kerjanya sehingga di seluruh dunia ada China Town.

Bangsa yang menguasai ekonomi di Indonesia. Satu-satunya bangsa kulit berwarna yang masih disegani oleh negara adi kuasa.

Dan aku tidak takut dianggap China.

Kenapa takut?

Memang banyak warga negara keturunan yang menjadi korban pemerasan, kekerasan, perlakuan tidak adil, dan kekejian. Banyak orang masih memperlakukan keturunan China sebagai warga negara kelas dua. Seakan-akan kami tidak sepenuhnya dilindungi oleh hukum. Bahkan, banyak para pejabat dan petugas negara yang memanfaatkan opini masyarakat itu untuk memeras kami.

Tetapi itu memang nasib warga negara keturunan di mana-mana. Sekarang perlahan-lahan semua itu sudah menantang kami warga keturunan menjadi ulet sehingga berjuang dengan tenaga lebih. Karena itu banyak yang berhasil, bahkan terlalu sukses.

Orangtuaku memang perkecualian. Walaupun aku kira mereka bekerja sama uletnya dengan warga keturunan yang lain, lebih keras dan lebih lama, nasibnya tak bergerak.

Sudah lebih dari 20 tahun kami tercampak di lingkungan kumuh ini. Teman-teman Papa, banyak yang sudah jadi orang kaya. Mereka kadang-kadang bertanya dengan heran, apa sebabnya Papa bertahan tinggal di tempat yang tidak hoki ini.

Kami disuruh pindah ke dekat daerah huniannya untuk diberikan, dicarikan kesempatan hidup lebih enak. Tapi Papa menolak.

“Aku tidak mau mereka menolongku karena belas kasihan. Bukan salah mereka menjadi kaya dan bukan dosa mereka kita ini miskin. Mereka tidak perlu merasa berkewajiban membantu kita,” kata Papa.

Mama jengkel sekali oleh alasan Papa itu. Mereka lalu bertengkar. Pertengkaran itu begitu kerasnya sehingga akhirnya keduanya terpaksa mengambil jalan yang tidak menyenangkan. Mereka berpisah.

Aku pun jadi rebutan. Tetapi entah kenapa, Mama akhirnya melepaskan aku ke tangan Papa. Itu sebabnya aku hidup bersama Papa sampai sekarang.

Baru belakangan ini aku tahu, mengapa Papa menolak pertolongan sahabatnya.

“Aku tidak menolak,” kata Papa dengan suara dingin, “aku tidak cukup sombong untuk menolak tawaran yang dapat membuat hidup kita lebih baik. Bahkan, aku sendiri yang sebelumnya meminta, mengimbau, bahkan memohon kepada mereka. Aku bilang, kalau aku diberikan sedikit pinjaman modal yang bisa aku kembalikan sekitar 10 tahun nanti, aku akan sangat berterima kasih. Tapi dia menolak. Dia tidak mau meminjamkan. Dia ingin memberikan, tapi meminta lebih banyak. Dia suruh aku bekerja untuk usaha perjudiannya. Tentu saja aku menolak. Aku ini dagang tahu, bapakku, kakek kamu, juga tukang tahu. Tapi tahu kami adalah tahu yang disukai semua orang. Aku ingin menghidupi keluargaku dari tradisi membuat tahu itu. Aku tidak mau jadi bandar judi, apalagi bandar narkoba. Itu yang membuat dia marah sehingga aku dijauhi.”

“Tetapi kenapa Papa menceraikan Mama?”

“Jangan salah. Bukan aku yang menceraikan Mama, tapi Mamamu yang menceraikan Papa. Dia tidak tahan hidup sebagai tukang tahu. Dia ingin menikmati masa tuanya dengan enak. Lalu dia kawin dengan bekas temannya di SD, tetapi sekarang sudah jadi orang kaya sekali. Mama kamu tidak salah pilih. Suaminya tidak hanya berduit, tetapi juga baik. Dia mencintai Mama kamu. Sekarang aku baru mengerti bahwa aku sudah memperlakukan dia kurang semestinya, padahal aku sangat mencintai dan menyayanginya. Mestinya aku mencukupi batinnya menurut ukuran kebahagiaannya, bukan ukuranku sendiri. Ternyata aku sudah terlalu egois. Seluruh penyesalanku itu lalu aku tumpahkan untuk membesarkan kamu dengan kasih sayang.”

“Tapi kenapa Mama tidak pernah menjengukku kemari?”

“Karena dia tahu, itu akan bisa merusak ketenanganku. Dan mungkin juga mengubah perasaanmu.”

“Aku tidak akan berubah.”

“Kalau kamu lihat pakaiannya, rumahnya, mobilnya, kartu kreditnya, anak-anaknya, adik tiri kamu, dan kebahagiaannya, kamu pasti akan goyah dan berubah. Perubahan yang sesungguhnya wajar dan baik untuk kamu, tetapi jelas tidak akan menguntungkan aku. Dari situlah aku belajar hal yang lain lagi tentang ibu kamu. Setelah membenci dia sebagai istri yang berkhianat selama puluhan tahun, kini aku sadar bahwa Mama kamu sangat memperhatikan perasaanku, sangat menghiraukan kebahagiaanku. Bukan kebahagiaan hari tuanya yang dia pikirkan, tetapi kebahagiaanku dan kebahagiaanmu. Berarti sebenarnya dia benar-benar sangat mencintaiku sampai ke sumsumnya. Harusnya dulu dia kupertahankan mati-matian. Pastilah dia sangat kecewa, karena aku tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menghalang-halangi maksudnya untuk bercerai. Seandainya saja aku tahu lebih dahulu ….”

Papa tidak bisa melanjutkan. Dia menangis. Untuk pertama kalinya aku lihat orang yang kuhormati, kucintai, dan kupuja sebagai orang kuat itu, menjadi lemah dan cengeng.

Aku ikut menangis karena terharu.

“Karena itulah, aku minta kamu jangan mengulangi kesalahan Papa,” kata Papa selanjutnya, “maksudku, jangan hanya melihat segala sesuatu dari sudut kepuasanmu sendiri. Dari semata-mata perasaan! Tapi pakai otak. Lihat ke depan dengan obyektif. Hidup yang sebenarnya tidak hanya perasaan, tapi juga memerlukan banyak hal. Tidak hanya sekadar cukup sandang-pangan dan papan. Kita memerlukan rumah yang baik dengan isinya yang juga bagus. Kita perlu telepon, mobil, dan simpanan uang di bank supaya tidak kelabakan kalau ada resesi. Kita memerlukan kehormatan agar orang menghargai kita. Dan itu hanya mungkin kalau kita punya uang.”

Lalu papa memandangku dengan tajam.

“Jadi Nio, semasa kamu masih muda dan kuat, apalagi cantik seperti ini, jangan sia-siakan kesempatan. Cari uang sebanyak banyaknya!”

Aku kaget. Seperti mendengar suara aneh yang tidak pernah bisa aku mengerti. Dan tiba-tiba saja aku kehilangan seseorang yang sebelumnya begitu kuhargai, kukagumi, dan kucintai.

Papa berubah. Setelah mencapai usia senja, ia tidak lagi idealis. Ia menjadi orang biasa yang menyerah kepada kebutuhan materi.

Apalagi kemudian ia melarangku untuk menari.

“Tak ada orang bisa kaya karena menari, buat apa kamu capek-capek menari, Nio?” katanya dengan ketus, “Hentikan kegiatan yang sudah menghabiskan waktu dan uang itu. Cari pekerjaan di perusahaan-perusahaan asing yang bisa menggaji dengan dollar, atau kerja di perbankan. Balikkan hidup kita yang seperti kapal kandas ini. Tarik aku kepada kehidupan yang terang-benderang supaya aku tidak malu kepada mamamu. Buktikan bahwa bukan hanya dia saja yang bisa bergelimang uang, kita juga mampu!”

Tak cukup dengan melarang menari, Papa juga kemudian mau menjodohkan aku dengan anak seorang importir mobil.

“Robert akan mewarisi semua kekayaan orangtuanya. Meskipun dia sudah punya istri, tapi dia bersedia menceraikan istrinya, asal saja kamu mau menjadi penggantinya. Dia sudah melihat foto kamu,” kata Papa dengan gembira.

Lalu Papa memaksaku berkenalan dengan Robert. Kemudian memerintahkan juga aku untuk bertindak genit di depan Robert supaya imannya gugur, agar ia cepat-cepat menendang istrinya yang sudah punya lima anak.

Bahkan, pada suatu ketika, seperti barang, aku diserahkan bulat-bulat kepada keluarga Robert untuk dijadikan apa saja, tanpa persetujuanku.

Di situ kesabaranku habis. Aku merasa terhina. Dengan hati hancur, kutinggalkan rumah. Aku lari ke Jakarta. Bukan karena aku mau mengingkari diriku sebagai anak tukang tahu, tapi karena aku tidak mau membalas jasa orangtua dengan cara yang sekeji itu.

Akibat tindakanku itu, Papa sakit hati. Ia mengutuk dan menganggap aku berkhianat seperti Mama.

“Aku besarkan kamu dengan seluruh kasih-sayangku. Sekarang, nasihatku yang semuanya untuk kebaikan kamu sendiri, kamu tolak. Anak yang tidak tahu berterima kasih! Persis seperti Mama kamu! Betina liar! Pergi, ikuti jejak Mama kamu dan jangan coba-coba kembali pulang! Jangan kamu kira aku akan mencarimu. Bagiku kamu sudah mati. Sama dengan Mama kamu!” Hancur seluruh batinku mendengar vonisnya. Aku bimbang.

Apakah aku harus pulang untuk menyelamatkan perasaannya, tetapi menghancurkan diriku? Atau aku hancurkan Papaku sendiri yang tidak memiliki apa-apa lagi selain diriku, hanya untuk mencapai kebahagiaanku sendiri, seperti Mama dulu?

Apakah Papa akan punya waktu kelak untuk mengatakan bahwa segala yang kulakukan ini adalah yang terbaik, seperti yang dilakukannya terhadap Mama?

Aku selalu berharap dan berdoa agar satu ketika dia akan sadar bahwa aku memiliki visi kehidupan yang berbeda dengannya. Bahwa ini riwayatku, bukan riwayatnya lagi!

Aku menjadi penari bukan karena aku ingin kaya, tapi karena tubuhku ingin menari. Jiwaku ingin menempuh irama. Bahkan, aku bersedia membayar semua itu dengan melakukan pekerjaan lain. Tetapi bukan dengan cara merebut suami orang lain. Bukan dengan cara membuat anak-anak itu mengutukku sudah merampok kebahagiaan mereka.

Hampir tiga tahun aku hidup di Jakarta. Aku berusaha menjadi penari dan hidup dari menari. Aku memberikan kursus dan menari kalau dipesan. Tapi banyak sekali penari di Jakarta. Dan aku tidak hoki seperti juga orangtuaku.

Hidupku sangat pas-pasan. Akhirnya untuk bertahan dan sedikit lega bernapas, aku mulai menari di kelab malam.

Hari pertama sangat menyiksa. Aku merasa hina. Seluruh diriku rasanya diperkosa. Tetapi kemudian malam-malam berikutnya semuanya mulai terbiasa. Apa salahnya menari di kelab? Aku hanya menjual tarian, bukan menjual tubuh. Harga diri dan kehormatanku masih utuh.

Dengan pikiran seperti itu, aku jalan terus.

Rezeki mulai naik. Uang yang kukumpulkan sudah bisa dipakai untuk mencicil mobil. Aku sekarang mengerti bahwa mobil bukanlah sebuah kemewahan, tetapi hanya alat untuk bekerja. Dengan mobil itu, aku merasa aman pulang dan pergi kerja sampai subuh.

Sementara para tetangga pun mulai sedikit menghargaiku meskipun banyak yang menduga mobil itu hasil hidupku sebagai perempuan piaraan.

Ketika tabunganku membengkak, aku rencanakan akan meninggalkan hidup sebagai penari kelab. Aku akan membuat studio dan meneruskan karierku sebagai penari yang sebenarnya. Mungkin dikombinasikan dengan membuka warung. Nanti setelah jalan baik, aku akan pulang dan minta maaf kepada Papa.

Tapi sebelum semua itu terjadi, pecah kerusuhan. Lingkungan yang kuhuni ikut serta jadi sasaran. Massa yang liar datang bagaikan air bah. Dengan muka yang ganas, mereka menyerbu. Penduduk dipukuli. Rumah dimasuki. Barang-barang dijarah. Mobilku dibakar. Dan aku sendiri yang sedang berada di kamar mandi ditarik keluar, lalu diperkosa beramai-ramai.

Tak ada yang menolongku. Aku bangkit sendiri dengan air mata dan darah. Badanku yang pegal linu dan ringsek dengan susah-payah kuangkat. Seorang tukang becak yang tua, baik hati, lalu mengantarkan aku ke puskesmas. Dari sana aku dibawa ke rumah sakit. Dan di rumah sakit, aku diselamatkan, tetapi diancam.

Tak boleh mengatakan apa pun yang terjadi kepada siapa-siapa.

Anak kecil yang tadi kau lihat menyanyi dan menari di depan televisi itu adalah akibat dari peristiwa itu. Tidak seorang pun yang mengerti, mengapa aku membiarkannya lahir. Aku pun tidak.

Mungkin anak itu sendiri yang sudah memaksaku untuk melahirkannya. Untuk menjadi sebuah monumen, betapa biadabnya manusia kalau sudah dimasuki setan.

Namaku Nio.

Tapi aku lebih suka dipanggil Nia.

Bukan karena aku menolak siapa diriku. Bukan karena aku benci kepada orangtuaku. Bukan karena aku ingin melupakan sejarahku.

Tetapi karena aku orang Indonesia. Pengakuan itu berhenti di situ.

Aku sudah menuliskannya semalam suntuk setelah mendengar pengakuan Nio. Dengan perasaan penuh simpati, kubawa tulisan itu ke rumahnya. Ia sedang berbaring sakit. Lalu kubacakan semuanya dengan suara yang penuh haru.

Begitu selesai, aku memandang matanya. Berharap ia akan memberikan aku pujian, karena aku sudah mewakili dirinya.

Tetapi Nio menggeleng.

“Itu bukan aku. Kamu tidak mengerti …,” kata Nio lirih.

 

Putu Wijaya, lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, novel dan lakon.

Advertisements