Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 24 September 2017)

Kedai Senja ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Kedai Senja ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

INILAH  Kedai Senja, sebuah tempat di mana engkau bisa melihat senja dengan begitu dekat dan sempurna.

Tempat ini tersembunyi di balik hutan yang berlainan arah dari rute pendakian Gunung Semeru. Aku menemukannya secara tidak sengaja ketika tertinggal dan terpisah dari kawan-kawan pendaki lain. Selama berjam-jam aku menyusuri pepohonan, memanjat tanah-tanah terjal. Sampai menjelang sore, terdengar hiruk-pikuk dari balik rimbun pepohonan.

Di balik celah dedaunan lebat itu, aku melihat sebuah bangunan yang seluruhnya terbuat dari bambu. Papan di pintu depannya bertuliskan: Kedai Senja.

Mengherankan. Bagaimana di tengah hutan pegunungan, tiba-tiba ada kedai semacam ini?

“Silakan masuk.” Seorang wanita tiba-tiba menyambutku. Aku baru sadar bahwa semua yang berada di sini adalah wanita cantik. Barangkali mereka ini bidadari, sebab mereka tidak berjalan, tapi melayang, melesat di meja-meja. Hanya aku satu-satunya lelaki di tempat ini.

“Selamat datang di Kedai Senja. Kami baru saja buka. Anda telah terpilih untuk berkunjung kemari.”

Aku duduk di salah satu bangku.

Baca juga: Argo Senja – Cerpen Sungging Raga (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2018)

“Mau pesan apa? Di sini segalanya ada.”

“Saya haus. Es teh saja…”

“Tidak makan? Anda tersesat seharian. Pasti lapar.”

“Hmm… Ada lotek?”

“Ada.”

“Kalau begitu lotek juga.”

Pelayan itu melesat ke arah dapur. Sesaat aku melihat pemandangan di luar kedai. Tidak ada mendung sama sekali. Bahkan langit tampak sangat dekat dan sedang diselimuti api raksasa yang menyebar ke seluruh cakrawala.

“Mbak, itu apa?” tanyaku saat pelayan mengantar pesananku.

“Itu matahari. Sebentar lagi senja tiba.”

Advertisements