Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 24 September 2017)

Anjing Berjubah Merah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Anjing Berjubah Merah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

ANJING itu dilaporkan ke polisi karena dianggap menyebarkan ajaran komunis. Mungkin kau menganggap terlalu berlebihan, tetapi kau akan memahami bila mengenal Pak Rais. Tapi, biar jelas duduk perkaranya, akan kujelaskan dulu soal anjing berjubah merah itu.

Ia hanya anjing kampung buduk biasa. Suatu malam, anak-anak muda yang biasa nongkrong di ujung gang mabuk-mabukan main gitar, melihat anjing itu berjalan terpincang-pincang. Satu kaki belakangnya tertekuk kesakitan—pastilah seseorang telah menyambitnya dengan pentungan—hingga ia seperti berjalan menyeret-nyeret penderitaan, lalu sempoyongan dan terjerembab ke dalam got.

Beberapa anak muda yang sedang nongkrong itu segera bangkit. Tentu saja bukan karena ingin menolongnya, tetapi karena berpikir mereka bisa menyembelih anjing itu. Dagingnya pastilah lumayan lezat buat teman menenggak tuak oplosan. Anjing itu diangkat dan diikat, dimasukkan dalam karung. Karena begitulah cara terbaik membunuh anjing agar dagingnya lezat dan empuk ketika dimasak: masukkan anjing dalam karung, dan gebuki hingga mati. Jangan sampai kepalanya pecah, cukup dibuat retak. Karung akan meredam suara anjing yang melolong kesakitan. Dengan cara digebuki seperti itu, darah akan tetap melekat dalam daging. Dan itulah yang membuat dagingnya akan empuk ketika dibakar.

Pastilah bukan karena termasuk golongan penyayang binatang, ketika seorang dari anak muda itu menghentikan sebelum pembantaian itu terjadi. “Berhenti!” Semua menatapnya. “Bagaimana kalau anjing ini ternyata malaikat?”

Ini, sudah pasti juga bukan karena dia termasuk golongan orang yang baik pengetahuan agamanya, tapi karena sudah begitu mabuk. Pelupuk matanya terlihat melorot menutupi matanya yang nyaris terbalik dan tubuhnya bersandar hampir ambruk ketika mengingatkan kawan-kawannya. Dan begitulah, anjing itu selamat. Tapi, barangkali juga saat itu memang ada malaikat lewat dan mengetuk kepala anak-anak muda yang mabuk itu, hingga melihat anjing itu seperti juru selamat yang akan membebaskan mereka dari penderitaan hidup.

Gagasan bahwa anjing itu juru selamat yang akan menyelamatkan hidup mereka rupanya menyenangkan para pemabuk itu. Mereka pun merawat anjing itu. Anjing yang terlihat teramat sengsara itu seperti mengingatkan pada nasib mereka. Ada perasaan kasih sayang yang membuat mereka merasa tenteram ketika menatap mata anjing itu. Matanya seperti menyimpan cahaya dari surga. Mungkin ia memang juru selamat yang sedang menyamar. Tuhan seperti berdiam dalam mata anjing itu.

***

Advertisements