Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 23-24 September 2017)

Terkutuk ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Terkutuk ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

DARI pertama kali melihatnya, aku tahu ada yang aneh di dinding belakang rumah ini. Dinding yang mengarah ke gudang bawah tanah itu adalah satu-satunya dinding yang tak disemen, hingga bata-batanya yang menghitam dapat terlihat dengan jelas, bagai bata-bata yang telah sekian lama terbakar api!

Dari situlah aku melihatnya tangan-tangan muncul: tangan-tangan keriput berwarna gelap dengan kuku-kuku panjang yang dipenuhi darah kering! Persis seperti tangan-tangan monster yang ada di film-film horor. Mereka—jumlahnya mungkin 10 atau 12 tangan—seperti hendak menggapai-gapai sesuatu, bagai tangan orang-orang yang meminta tolong saat tengah tenggelam.

Dulu, saat pertama kali melihatnya, aku berteriak ketakutan. Kuceritakan apa yang kulihat pada ayah. Tapi ia hanya tersenyum sinis, “Anak gila! Kau persis seperti ibumu!”

Aku segera sadar kalau salah bertindak. Tak seharusnya aku menceritakan pada monster ini. Ini akan selalu membuatnya mengait-ngaitkan pada ibu. Padahal aku tahu, aku sama sekali tak persis ibu. Badanku besar, persis seperti ayah. Wajahku juga bundar, persis seperti ayah. Ibu begitu berbeda denganku. Ia kurus, dan tubuhnya hanya seperti tinggal tulang dan kulit. Ia juga tak pernah bicara, kesibukannya setiap hari hanyalah satu: menghitung garis-garis yang memenuhi salah satu sisi kamarnya. Dulu, ia sendiri yang membuat garis-garis itu dalam satu malam, entah untuk apa. Mungkin ia menganggap hidupnya di sini sama seperti dalam penjara. Sekarang, ia tinggal menghitungnya saja. Itu adalah satu pekerjaan yang tak pernah selesai.

Pada ibu, aku tak bisa berharap banyak. Tapi untunglah ada kakek. Walau ia aneh, tapi setidaknya ia selalu menanggapi semua ceritaku. Sayangnya, setahun lalu, ia meninggal. Tubuhnya kutemukan di atas pembaringannya masih dengan mata terbuka. Entah apa penyebabnya. Namun walau sudah meninggal setahun lalu, sampai sekarang tubuhnya masih bisa kutemui terbaring di situ. Memang sedikit kaku dan berbau aneh. tapi setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya seperti dulu.

Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Yang aku tahu, tubuh orang mati seharusnya membusuk. Tapi tubuh kakek tidak. Mungkin ini karena ayah telah menyiramkan 1 jeriken cairan kimia pada tubuhnya. Ya, selepas kakek ditemukan tak bernyawa, ayah pergi sejenak dengan mobil rombengnya. Tak lama kemudian ia pulang dan langsung menuju kamar kakek untuk menyiramkan 1 jeriken cairan kimia—yang entah apa namanya—ke seluruh tubuh kakek.

Advertisements