Dongeng Hana Eka Ferayyana (Suara Merdeka, 17 September 2017)

Rosa yang Berduri ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka.jpg
Rosa yang Berduri ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

“Stella, kau jangan ke arah sana. Nanti tubuhmu terkena duri!” teriak Kaila, kakak Stella ketika melihat sang adik menghampiriku. Stella berhenti seketika, tangannya yang hampir menyentuh bungaku hanya sampai mengawang di udara. Ia langsung berbalik arah ketika matanya tertuju pada batangku yang penuh duri.

“Kemarilah gadis kecil, aku punya bunga yang merah merekah dan sangat harum,” ucapku sambil menggoyangkan bungaku mengikuti arah angin agar Stella mencium harumnya dan hampir menghampiriku lagi. Tapi ternyata usahaku sia-sia, karena Stella lebih memilih bunga melati di ujung sana yang tak kalah harum dan tentu saja tak berduri.

***

“Wah, kebetulan sekali kau berbunga banyak Rosa. Hari ini temanku ada yang ulang tahun. Pasti dia akan senang jika kuberi sebuket bunga mawarmu yang indah dan harum ini,” ucap Pak Rossi sambil memetik bungaku dengan hati-hati.

Pak Rossi adalah pemilik kebun tempat aku tumbuh. Ia selalu merawat dan merapikan tanaman yang ada di kebunnya dengan baik, tak terkecuali aku. Ia selalu menyiramiku setiap hari, memberiku pupuk secara berkala, merapikanku jika batangku sudah menjulur ke mana-mana. Pak Rossi juga sayang kepadaku. Hampir setiap hari aku diajaknya berbicara. Membuatku tidak merasa kesepian. Mungkin, itulah alasan kenapa aku bisa tumbuh dengan sehat juga berbunga banyak dan disukai banyak orang.

Namun sayangnya, ketika bungaku jadi favorit oleh hampir semua orang, mereka malah suka menjauhiku. Aku tahu, duri-duriku yang tajam bisa saja melukai mereka. Tapi aku juga ingin diajak berbicara, tersenyum, dan tertawa. Bukan mengaduh ketika tak sengaja duri-duriku menusuk kulit mereka.

“Aduh, lenganku!” ucap Pak Rossi tiba-tiba. Lengannya memerah tergores duriku.

Nah, mengaduh seperti ini yang sering aku dengar. Tapi, jika Pak Rossi yang mengaduh, pasti ia tak akan menjauhiku. Ia seolah abai dan kebal pada rasa sakit akibat terusuk duriku dan tetap merawatku dengan baik, meski lagi-lagi duri-duri tajamku sering melukainya.

***

“Sudahlah Rosa, kau tak perlu meratapi duri-duri yang tumbuh di batangmu. Duri-duri yang diciptakan Tuhan itu pasti ada manfaatnya. Kau ingat, duri-durimu itu bahkan bisa menghalau hewan pemangsa tanaman yang mau memakanmu. Kau juga bisa naik semakin tinggi dengan mengaitkan duri-durimu ke batang pohon yang ada di sebelahmu. Melihat dunia yang lebih luas,” ucap Melati yang mencoba menghiburku.

“Tapi, itu untuk diriku sendiri. Apa manfaatku untuk Pak Rossi? Sejujurnya, aku iri kepadamu Melati, yang selalu memberikan Pak Rossi bunga-bunga cantik dan harum tanpa perlu melukainya,” keluhku.

Melati terdiam beberapa saat mendengar ucapanku.

“Jangan salah Rosa. Aku memang tidak berduri. Tapi aku bisa tumbuh dengan cepat, sehingga aku mudah menjadi rerimbunan dan ular-ular suka bersembunyi di balik rerimbunanku. Dan Stella, sepupu Pak Rossi, bahkan pernah hampir tergigit ular ketika ia sedang asyik mengambil bunga-bungaku. Segala sesuatunya pasti ada baik dan buruknya Rosa,” ucap Melati kemudian.

Aku terdiam mendengar ucapan Melati, membenarkan ucapannya. Untuk beberapa saat lamanya kami berada dalam kesunyian. Sampai akhirnya, terdengar suara gemerisik dari arah belakang kebun. Dari arah pohon jambu terlihat seseorang berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang rumah Pak Rossi. Wajahnya tertutup kain, hanya matanya yang terlihat. Tangannya memegang sebuah kayu. Aku dan Melati terkejut. Jangan-jangan itu adalah pencuri!

“Melati ayo kita buat suara berisik agar Pak Rossi terbangun dan keluar,” ucapku sambil menggoyang-goyangkan batangku dengan keras agar daun-daunku saling beradu. Melati mengangguk. Dengan semangat ia mengikutiku.

Pencuri itu masih berjalan mengendap-endap. Tak peduli dengan suara gemerisik yang ia dengar. Ia hampir saja memegang gagang pintu sampai tiba-tiba ia dikejutkan oleh lampu yang menyala dari arah dapur.

“Siapa itu?” suara Pak Rossi terdengar. Pencuri itu terkejut. Tanpa pikir panjang ia kemudian lari dan tak menyadari bahwa ia sedang menujuku. Mataku berbinar. Dengan senang hati kusambut pencuri itu dengan duri-duriku.

“Aduh, aduh aduh!” ucap pencuri itu sambil berusaha keras mencari jalan keluar. Tapi aku masih berusaha memerangkapnya dengan duri-duri tajamku. Aku ingin ia tertangkap oleh Pak Rossi. Namun, ketika Pak Rossi tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa menangkapnya, tiba-tiba saja ia menyibak batangku dengan keras. Pencuri itu berhasil kabur.

Meskipun begitu, aku senang karena telah memberinya pelajaran dengan duri-duriku. Ternyata, duriku berguna juga.

***

“Paman, apakah karena duri mawar berguna untuk menjebak pencuri, sehingga Paman dari dulu tidak mau membuangnya?” tanya Kaila keesokan harinya. Dulu, Kaila pernah tertusuk duriku ketika ia mencoba mengambil bungaku. Waktu itu, ia menangis kencang dan meminta pamannya yaitu Pak Rossi untuk membuangku saja dan memilih membeli bunga mawar di toko bunga yang durinya sudah dibersihkan.

Pak Rossi tertawa. “Tentu saja bukan Kaila. Meskipun Rosa ini berduri, ia memberi Paman bunga-bunga mawar yang indah dan harum. Paman sering memetiknya untuk Paman taruh di dalam rumah. Kau tahu, rasa penat Paman langsung hilang ketika mencium bau harumnya setelah seharian bekerja. Selain itu, Paman juga sering merangkainya untuk diberikan kepada saudara atau teman Paman. Kau tahu, mata mereka langsung berbinar ketika melihat buket bunga mawar yang Paman berikan. Sejujurnya, Paman malah merasa bersalah jika harus membuangnya. Karena Rosa telah memberi banyak kebahagiaan. Tidak hanya untuk Paman, tapi juga orang lain. Duri yang terkadang menusuk Paman tidak ada artinya dengan banyaknya kebahagiaan yang Paman dapat,” ucap Pak Rossi panjang lebar. Mataku memanas mendengar ucapannya.

“Jadi, bukan karena bisa untuk menjebak pencuri ya Paman?” tanya Kaila lagi.

“Bukan Kaila. Itu hanya kebetulan pencuri tersebut berlari ke arah Rosa dan terjebak durinya karena kaget ulahnya Paman pergoki,” jawab Pak Rossi. “Lagi pula, kalau hati-hati, duri mawar ini tidak akan melukaimu kok.”

“Benarkah? Kalau begitu aku mau memetik bunganya Paman.”

Mata Kaila berbinar.

“Tapi, jangan menangis ya kalau tiba-tiba tertusuk duri?”

“Hahaha. Tentu saja tidak Paman. Aku kan sudah besar,” ucap Kaila sambil menggapai bungaku.

Aku terharu. Tak pernah kusangka ternyata aku bisa begitu berarti. Sekarang, aku tidak akan menyalahkan duri-duriku lagi. Karena ternyata di balik duriku yang tajam, aku mampu memberikan bunga yang harum dan kebahagiaan bagi semua orang. Ah, melihat segala sesuatu secara positif ternyata sangat menyenangkan. (58)

Advertisements