Cinta rumit masa lalu membuat embu’ tegar dan bersikap lebih tenang. Bahkan, embu’ juga menanggapi dengan santai saat kau adukan bisik-bisik tetangga di warung mengenai dirimu.

“Kata orang aku bukan anak kandung ayah. Benarkah, Bu?” dengan wajah kesal kau pulang dan menyemburkan pertanyaan itu.

Ayahmu memang sudah tua saat menikahi embu’, dan ia tidak memiliki keturunan satu pun dari istri-istrinya terdahulu. Kakekmu terpaksa menjodohkan embu’ yang baru lahir dengan lelaki kaya yang sudah beristri tiga itu demi membalas budi setelah membantu biaya kelahiran embu’. Kata kakekmu, ia tidak mau menanggung utang budi hingga mati.

“Apakah menikah dengan orang yang jauh lebih tua dari kita banyak menimbulkan prasangka di kemudian hari, Bu?” tanyamu suatu malam, sepulang dari langgar dan gulungan mukena masih terdekap di dada.

Alis embu’ terangkat hingga bola matanya tampak kian membulat. “Kenapa kau bertanya demikian?”

Kau menggeleng ragu. Tentu bayangan waktu kecil merimbun di kepalamu. Setiap ada pertemuan wali santri di sekolah menjelang haflatul imtihan, teman-teman kerap meledekmu, mengatakan ayahmu lebih pantas kau panggil kakek.

“Jodoh sudah ditentukan sebelum kita lahir. Manusia tinggal menjalani, kecuali masih ingin menggugat Tuhan, dan itu pekerjaan sia-sia,” embu’ menyentuh pundakmu lembut. Tangan satunya memegang cangkir. Tidak sedang dilap. Saat kau menghambur masuk ke kamarnya, kau lihat ia sedang memandangi cangkir itu lekat.

“Kalau aku menikah dengan lelaki yang sudah seusia embu’, apa tidak keberatan?”