Cerpen Dedi Tarhedi (Media Indonesia, 17 September 2017)

Darah Maria di Sudut Dili ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Darah Maria di Sudut Dili ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

“Saya ingin ikut kamu ke Jawa!” Maria merajuk.

“Itu tak mudah,” geleng Pri, “Bukankah orangtuamu sangat membenci kami? Mereka tak akan melepasmu begitu saja.”

Pri menuntun gadis yang sedang putus asa tadi. Ya, gadis itu bernama Maria da Silva Soares, seorang gadis Timor Timur, yang hendak mengikutinya ke Jawa, di saat perang saudara mulai menghangat saat itu.

Pri tahu betul, Maria adalah anak seorang Liurai di Lautem, kabupaten paling timur di propinsi yang penuh dengan pertikaian itu. Selain sebagai Liurai, bapaknya juga adalah tokoh Fretelin kesohor, yang sangat membenci Pri dan para pendatang.

Apalagi yang bisa diharapkan dari Timor-Timur yang kering kerontang selain kecemasan dan masa depan yang diombang-ambing kemiskinan?

Pri merasakan betul akibat politis Jajak Pendapat itu. Sejak Jakarta menerima keputusan PBB untuk menggulirkan Jajak Pendapat, maka masa depan yang dirajutnya pelan-pelan—yang kadang-kadang penuh kengerian—hancur seperti pecahnya sebuah piring dari ketinggian tebing.

“Tapi tak kupikirkan lagi karir,” dengus Pri putus asa.

Tapi Maria?

Gadis itu melengketi hatinya dengan serta-merta. Menyesal dia kenapa musti bertemu gadis avonturir itu! Tiga tahun lalu, diantara gadis-gadis lain yang bertebaran di tiap pesta dansa.

Di pesta yang tumpah antara pejabat dan para petinggi itu hanya Pri yang tidak mabuk. Dan Pri hanya menenggak seseruput tuak mutin, dan tidak membuatnya sempoyongan. Gadis Maria mendekat, mengajaknya berbincang, memberinya kecupan singkat di bibir Pri yang termangu dan diam.

“Bapak bisa menemuiku kapan-kapan, kita diskusi,” katanya setelah berbincang sampai subuh menjelang.

“Jangan panggil aku Bapak. Aku masih 27 tahun.”

Maria, yang berumur 20 tahun, terbelalak senang. Lebih dekat lagi Maria duduk memepet Pri. Sudut matanya melihat tiga orang laki-laki memata-matainya. Dan dia menyenggol tangan Pri perlahan, memberi kode dan tanda. Pri paham dan karenanya dia harus hati-hati, dari jauh memang terlihat orang-orang Mario, mantan orang terkemuka di provinsi yang bergejolak itu, mengikuti. Orang-orang Mario yang anti-Jakarta dan orang-orang Eurico selalu saja berseteru. Saling intai dan saling bantai. Tapi Maria tidak memihak keduanya.

Maria hanya ingin tenang dan tidak ada pertikaian. Maria hanya ingin ke Jawa terlepas dari politik dan huru-hara. Tapi, sesederhana itukah?

Pada sore seperti itu, mata-mata dan para pengadu domba memang mulai beraksi sampai pagi. Di Dili memang harus senantiasa hati-hati dan jangan mudah dikibuli. Apalagi menjelang Jajak Pendapat, para wartawan mancanegara pun berkeliaran mengibarkan propaganda anti-Jakarta. Anti-Indonesia. Dan kawan-kawan kita bisa jadi musuh seketika, menusuk dari belakang. Sebagaimana layaknya di medan pertikaian, di Dili banyak yang bermuka dua.

“Aku harus pergi minggu depan!”

“Lalu aku?” Maria merajuk lagi.

Hati Pri berdebur seperti hentakan-hentakan ombak yang menghantam karang. O, betapa kuatnya karang itu walau terus digerus ombak. Betapa kuatnya tekad Maria untuk ikut ke Jawa. Mengapa aku tak sekuat itu?

Sebetulnya, apakah dia terluka karena harus meninggalkan Dili yang sudah dibinanya sebagai pegawai di desa-desa pelosok? Atau karena gadis Maria da Silva?

Gadis itu berani memilih dan menentukan sikap. Tapi, Pri? Sebagai lelaki dewasa, dia juga merasakan hal yang sama dengan Maria. Tapi dia tidak mau mati konyol hanya karena cintanya pada Maria. Dan susahnya, Maria tidak mau pergi dari hatinya!

“Kita harus pisah!” dengus Pri nyaris tersekat, mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya.

Maria menundukan kepala. Nun di belakang punggungnya yang berbulu lembut, tampak patung Kristus Raja, yang dibangun di puncak bukit kering, seolah ikut berduka.

“Kita harus pisah, bukan karena tidak ada lagi cinta, tapi….”

Maria tidak menoleh. Dia merasa yakin Pri sedang berbohong, dan itu pasti sangat menyakitkan dirinya. Maria masih tertunduk. Hidungnya yang bangir adalah warisan bangsa Portugis di bumi Lorosae, negeri matahari benderang. Kedua orangtuanya, terutama bapaknya, adalah memang keturunan orang Porto.

Apa yang hendak dicari Jakarta? Terkadang Pri ingin membalik sejarah yang membuatnya harus terlibat dengan urusan Timtim itu!

“Ya, aku harus pergi!” Pri seperti menegaskan ombak hatinya.

“Harus kutinggalkan Timtim! Tapi tanpa kamu Maria!” Pri merasa hatinya hancur dan sakit.

Maria menoleh. Bibirnya bergetar.

“Aku ikut, aku tetap ikut!” desak Maria, sudut matanya mulai basah. Tangannya mencabik keras kedua jemari Pri, “Tak perduli orangtuaku, keluargaku, aku ikut ke Jawa!”

Pri tak bergeming. Sore makin jatuh, angin makin riuh, ombak menggemuruh. Hatinya dikuatkannya agar tak runtuh.

Tiga orang mata-mata yang mengikuti mereka tadi, tampak makin mendekat, menguping dan mengawasi. Seorang dari mereka menyembunyikan sesuatu yang menonjol dari balik jaket di pinggangnya. Mungkin menyembunyikan senjata tajam, atau senjata api atau sesuatu yang lebih berbahaya dari itu!

Melihat itu Pri hati-hati. Tidak diperdulikannya Maria yang kemudian memeluk dadanya. Seperti sengaja ingin ditonton para pengintai tadi, Maria mencium bibir Pri dengan rakus. Tapi barangkali bukan itu. Maria benar-benar merasa sangat takut akan kehilangan Pri. Ciumannya bukan berahi, tapi semata rasa sepi dan deraan sangsi.

Ketiga orang itu makin mendekat. Dengan beringas dan kasar, salah seorang dari mereka menjambak tangan Maria. Memisahkannya dari Pri.

“Jangan kau sentuh Adik kami!” hardiknya menunjuk hidung Pri.

“Kamu pendatang, kapan pulang?!” sentak seorang lain, badannya tinggi besar, kulitnya gelap.

Pri tak bisa tinggal diam. Hatinya yang membara menguatkannya untuk melawan. Disambarkannya ikat pinggang yang sudah dilepasnya ke muka pemilik senjata. Ketiga pria itu menyingkir setelah seorang dari mereka berdarah di pelipisnya. Mereka sempoyongan pergi.

Kini, matahari benar-benar telah tenggelam di balik laut yang menghitam. Gelap di luar mulai merayap. Gelap di hati Pri pun hinggap. Ditariknya tangan Maria. Mereka segera pulang….

Besoknya tersiar kabar seorang pendatang menampari pribumi. Bahkan sampai mati. Maka, seperti biasa, gelombang kekasaran pun dimulai. Fitnah menyebar begitu ganas. Jalan-jalan ditutup dengan batu-batu sebesar bantal kepala. Setiap orang pendatang yang lewat di razia KTP, dihardik, dicaci, diusir pulang. Bahkan yang lemah dipukuli dan dikeroyok. Dili mencekam.

Pri pun gusar. Mau keluar rumah, di luar sana, di balik kaca, dia melihat mereka menunggu. Dari kilatan mata mereka, rasa marah dan ingin balas dendam. Jumlah mereka lebih dari tiga. Mungkin sepuluh. Mungkin lebih. Tapi Pri tahu dan mengenali mereka. Ada yang kemarin bertiga. Ada juga bekas sobatnya, bahkan ada teman sekantornya. Kini semua jadi musuhnya.

“Ayo keluar!” seseorang dari mereka mengacungkan tangan.

“Ya, keluar!” teriak mereka ribut.

Golok, potongan kayu, dan batu sebesar kepalan tangan sudah mereka gengam.

Pri diam. Tak tahu apa yang musti dikerjakan. Rasa takutnya menyelusup hebat kebalik hatinya. Dia juga jadi ingat kedua orangtuanya di Jawa. Dia rindu Tono, Acep, Rini Silalahi, Cut Beti, kawan-kawannya ketika di kampus dulu. “Ayo keluar!” teriak mereka lagi bersahutan.

Pri menggigil takut. Ia ingat lagi, ibu bapaknya di Jawa. Ia ingat Tuhannya dan berdoa.

Dan tiba-tiba, suara pecahan kaca yang keras menghambur ke ruangan tengah rumahnya, hampir memecahkan kepalanya. Atap rumahnya pun berdentuman kena lemparan batu yang berulang-ulang.

Pri merasa, kematiannya sudah diambang mata. Orang-orang itu nanti pasti akan merangsek masuk, memukulinya, mencakar, dan mencabik-cabik kulitnya bagai anjing liar yang lapar.

Pri tambah menggigil dan tak bisa berpikir.

“Aku harus keluar!” tiba-tiba Maria mengagetkannya.

Memang semalaman Maria menemaninya, sejak pulang dari taman di pantai itu.

“Tidak, jangan!” Pri mencegah.

“Kalau dibiarkan kamu bisa mati!” sentak Maria.

Dan Maria sudah tidak bisa dicegahnya. Maria merasa tidak ada jalan yang harus dilakukannya kecuali keluar dan menghentikan mereka.

“Jangan, Maria!” teriak Pri.

Maria melesat keluar, dan berdiri di antara hujan batu. Tangannya diayun dan diangkatnya tinggi-tinggi ke atas, memohon agar mereka berhenti. Tapi semua tak peduli. Maria berteriak-teriak, tapi tak jelas apa yang dikatakannya karena hujan batu tambah menggebu.

Orang-orang bubar setelah puas melihat darah Maria da Silva Soares menggenang di sisi kiri kanan tubuhnya. Pri tertunduk dan menggigil. Air matanya nitik. Maria melihat air mata itu, air mata dari lelaki yang dicintainya. Air mata itu menguatkan jiwanya.

“Aku ikut ke Jawa, Pri. Aku harus ikut.” Pelan sekali suara Maria di antara napasnya yang satu-satu….***

 

Keterangan :

  • Liurai = Raja/kepala desa
  • Fretelin = Paham anti-integrasi
  • Jajak pendapat = Semacam pemilu untuk menghitung yang pro dan anti-integrasi
  • Tuak mutin = Tuak putih

 

Dedi Tarhedi merupakan pegawai negeri sipil di Tasikmalaya yang suka menulis puisi dan cerpen. Sejumlah karya telah diterbitkan di media massa. Buku kumpulan puisinya Hidup makin Tak Mudah (Langgam Pustaka, 2017).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements