Cerpen Doni Ahmadi (Koran Tempo, 16-17 September 2017)

Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg
Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangat ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Sebelum para polisi itu membawa saya ke kantor polisi, bahkan sebelum mereka memukuli saya secara bergantian sampai babak belur, dan jauh sebelum saya diteriaki sebagai orang gila, sinting, dan semacamnya, biar saya beri tahu kepada Anda tentang duduk perkaranya dengan sejujur-jujurnya. Meskipun hal ini terdengar irasional, percayalah, saat itu saya memang berada pada kondisi yang tidak saya mengerti sama sekali. Tapi saya berani bersumpah bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi dan bukanlah karangan semata. Selanjutnya, silakan Anda tentukan sendiri, pantaskah saya menerima pukulan sampai babak belur begini, dan siapakah yang waras dan siapakah yang betulan gila.

Itu bermula ketika Anto Lakban menghubungi saya via telepon pada suatu sore. Ngomong-ngomong, Anto Lakban itu adalah teman baik saya. Kami bahkan sudah berteman puluhan tahun sejak kami belajar di pondok pesantren. Saya dan Anto Lakban bahkan pernah kabur bersama untuk beberapa hari dari pesantren. Lalu, setelah lulus dari pesantren, kami akhirnya pisah. Saya kuliah dan Anto Lakban bekerja. Meskipun begitu, kami tetap berteman.

Oh iya, saat itu saya sebetulnya tidak tahu-menahu apa yang membuat Anto Lakban secara mendadak menyuruh saya menunggu di warkop perempatan tempat kami biasa ngobrol ngalor-ngidul. Hal itu memang sedikit ganjil dan di luar kebiasaan—maklum saja biasanya kami ke tempat ini hanya pada malam hari dan tidak pernah pada sore hari begini—apalagi jam segini adalah waktu Anto Lakban biasanya bekerja dan saya juga biasanya bekerja. Karena saat itu saya sedang tidak ada kerjaan sama sekali, jadi saya mengiyakan ajakannya.

Saya yang saat itu sedang berada di rumah langsung bergegas menuju warkop perempatan dengan berjalan kaki. Saya sebetulnya bisa saja naik motor, namun saat itu motor saya baru saja dicuci. Lagi pula jarak dari rumah saya ke warkop perempatan tidaklah begitu jauh, hanya sekitar lima belas menit jika dilalui dengan berjalan kaki, jadi tidak ada salahnya saya berjalan kaki.

Sore itu cuaca cukup sejuk, dan saya tiba-tiba kepingin teh hangat. Sembari menunggu kedatangan Anto Lakban, saya langsung memesan teh hangat untuk nantinya bisa dinikmati sambil merokok. Belum lama teh hangat saya jadi dan disajikan, Anto Lakban sekonyong-konyong memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya. Sial, rencana untuk menikmati rokok sembari minum teh hangat sore itu gagal total. Saya pun langsung menuruti perintahnya dan naik ke motor Anto Lakban. Ia yang mengemudi dan saya diboncengi.

Saat saya baru saja duduk di motor, Anto Lakban langsung tarik gas. Padahal saat itu saya belum selesai memakai helm. Saat saya tanya ke mana tujuan kami, Anto Lakban tidak menjawab dan hanya fokus mengendarai motornya. Saya pun menanyakannya kembali. Saya bilang, saya juga berhak tahu tujuannya. Lalu Anto Lakban pun menjawab, kau jangan banyak tanya dulu, nanti juga kau akan tahu sendiri. Saya semakin curiga, namun saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Anto Lakban, sahabat saya itu, memang memiliki kadar emosi yang tidak wajar. Emosinya bisa tiba-tiba membuncah, baik ketika ia sedang merasa senang maupun sebaliknya, dan saya sangat yakin saat itu ia betul-betul sedang emosi.

Setelah hampir setengah jam jalan, saya kini mulai yakin bahwa tujuan Anto Lakban saat itu sudah pasti menuju rumah Amat Obeng yang terletak di komplek asrama polisi. Dalam kepala saya, saat itu hanya terdapat dua kemungkinan. Pertama, Anto Lakban sedang tertimpa masalah dan membutuhkan pertolongan Amat Obeng—yang tak lain adalah anak kepala polisi. Dan kedua, ia sedang memiliki masalah dengan Amat Obeng. Tapi saya lebih yakin dengan kemungkinan pertama, terlebih siapa yang ingin cari gara-gara dengan anak kepala polisi, melawan polisi kelas coro saja sudah merepotkan, apalagi ini. Lagi pula Amat Obeng juga merupakan teman baik kami sedari kami pesantren, meskipun ia tidak sampai lulus. Saya makin yakin bahwa kemungkinan pertama adalah yang paling tepat.

Karena jalan utama sedang macet-macetnya dan karena saya sudah mengetahui tujuan kami, saya bilang agar Anto Lakban memutar arah untuk lewat jalan tikus. Saya bilang bahwa saya ingat betul jalannya, apalagi saya juga punya saudara yang tinggal di jalan itu. Namun Anto Lakban diam saja. Ia bergeming dan mengabaikan ajakan saya. Mungkin ia tidak dengar dan terlalu berfokus pada jalan, pikir saya. Setelah itu saya juga diam saja dan tidak memberitahunya kembali. Ketimbang saya dan Anto Lakban harus kembali memperdebatkan hal sepele, mending saya diam.

Sesampainya di rumah Amat Obeng, kami pun dipersilakan masuk olehnya. Setelah duduk di ruang tamu, ia pun menawarkan minum. Kebetulan sekali saya baru saja gagal menikmati teh hangat. Saya lalu menjawab ingin teh hangat dan Anto Lakban diam saja. Saya bilang kepada Amat Obeng bahwa bikinkan saja dua, dan ia langsung bergegas ke arah dapur. Ketika Amat Obeng baru saja menyajikan teh hangat di atas meja, tiba-tiba saja Anto Lakban langsung berdiri dan mengeluarkan sebuah bedil dari tas kecil yang ia bawa. Bedil itu pun langsung ditujukan ke arah kepala Amat Obeng. Karena saat itu masih jam kerja, otomatis di rumah Amat Obeng tidak ada seorang pun kecuali kami bertiga, dan itu berarti tidak ada seorangpun yang akan melerai tindakan Anto Lakban.

Kehadiran saya bisa dinyatakan hilang sejenak. Saya begitu kaget dengan peristiwa itu. Lalu mereka berdua terlibat adu mulut. Lewat adu mulut antara Anto Lakban dan Amat Obeng itulah akhirnya saya mendapat sebuah fakta yang menjadi latar belakang ajakan Anto Lakban ini. Ternyata yang membuat emosi Anto Lakban tak lain adalah kelakuan Amat Obeng yang diketahui pernah menggarap kekasih dari Anto Lakban.

Menurut saya, kelakuan Amat Obeng tidak bisa sepenuhnya disalahkan, apalagi kekasih Anto Lakban memang berprofesi sebagai penyanyi di kafe malam yang riskan sekali dengan hal semacam itu. Lalu si pemilik kafe tempat kekasih Anto Lakban bekerja juga merupakan seorang yang sudah terkenal bajingan alias pria hidung belang yang kerap jajan dan gila wanita. Namun pendapat itu tidak saya ungkapkan dan hanya terdapat di dalam pikiran saya. Lagi pula salah bicara pada saat-saat seperti itu bisa berakibat fatal dan berujung pada hal yang tidak diinginkan, dan pilihan untuk diam memang pilihan terbaik.

Oh iya, dalam kondisi terancam begitu, Amat Obeng lantas mengakui perbuatannya dan segera meminta maaf—bahkan ia hampir bersujud di kaki Anto Lakban! Katanya ia melakukan itu secara tidak sadar. Saat itu juga ia dalam kendali alkohol dan sama sekali tak menyangka bahwa perempuan yang digarapnya adalah kekasih Anto Lakban. Amat Obeng juga bilang bahwa ia betul-betul khilaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, lalu ia mengungkit-ungkit kisah persahabatan mereka berdua. Bahkan saya juga baru mengetahui ternyata bedil yang kini ada di tangan Anto Lakban adalah bedil milik Amat Obeng. Tapi pembelaan-pembelaan yang dilontarkan Amat Obeng itu tidak ada gunanya sama sekali.

Beberapa detik setelah Amat Obeng selesai bicara, Anto Lakban langsung menembakkan timah panas ke arah Amat Obeng. Saya bahkan tidak menduga akan terjadi penembakan secepat itu. Padahal, seperti yang saya ceritakan barusan, baik saya, Anto Lakban, maupun Amat Obeng adalah teman baik. Karena peristiwa itu terjadi begitu cepat, saya sedikit pun tidak sempat melerainya.

Mendengar suara tembakan, tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar rumah Amat Obeng pun langsung bergegas menuju sumber bunyi. Mereka yang datang berteriak histeris melihat Amat Obeng sudah terbujur kaku. Anda tahu, saat itu membunuh anak kepala polisi untuk kata keadilan bukanlah hal yang heroik sama sekali, apalagi Anda membunuhnya tepat di rumahnya, di perumahan para anggota kepolisian lainnya.

Selanjutnya Anda bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi. Namun, sebelum Anda menebak-nebak lebih jauh, biar saya beri tahu bahwa hal yang terjadi setelah peristiwa penembakan itu belumlah sempat terjadi. Tepat pukul 17.45, saya mengalami peristiwa aneh yang lambat laun saya pelajari dan saya ketahui sebagai peristiwa gempa waktu. Gempa waktu adalah kerusakan mendadak dalam kontinum ruang—waktu yang mengakibatkan segala sesuatu di dunia ini bertindak persis seperti yang sebelumnya terjadi dalam jangka waktu tertentu. Menurut ilmuwan bernama Kilgore Trout, gempa waktu adalah peristiwa yang akan membawa semua orang dan segala sesuatu kembali dalam sekejap, yang kemudian membuat Anda harus mengulang kembali apa yang terjadi barusan dalam kendali otomatis. Tetapi, tatkala Anda merasakan kehendak bebas, Anda akan menyadari bahwa Anda sedang mengalami hal yang berulang itu (semacam déjà vu, tapi berbeda), dan Anda mampu berhenti menempuh jalan yang dibuatkan untuk Anda dalam waktu yang sebelumnya atau dengan kata lain Anda dapat mengubah apa yang akan terjadi setelahnya.

Karena hal itulah saya kembali berada di warkop perempatan, menunggu Anto Lakban dan belum lama memesan teh hangat. Lalu ketika teh hangat saya baru saja jadi dan disajikan, sekonyong-konyong Anto Lakban memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya.

Anda pasti tahu bukan, yang terjadi setelahnya persis seperti apa yang barusan saya ceritakan, saya langsung naik ke motor Anto Lakban, menanyakan tujuan dan persis seperti waktu yang saya lalui sebelumnya. Namun, saat melewati jalan macet, saya sudah tidak ada dalam kendali otomatis, di situlah kehendak bebas muncul. Saya bilang agar Anto Lakban memutar arah untuk lewat jalan tikus. Saya katakan kepadanya tiga sampai empat kali, ya tiga sampai empat kali! Anto Lakban akhirnya menurut karena saya bilang ia akan menghemat sekitar sepuluh menit.

Saya ingat, di jalan tikus itu juga terdapat rumah saudara saya, yakni rumah Bude saya. Kebetulan kami melewatinya dan kebetulan juga Bude melihat saya, lalu memanggil. Saya bilang kepada Anto Lakban supaya ia berhenti sebentar. Awalnya ia menolak dan geram bukan main sembari menggerutu. Lalu saya bujuk agar dia mau berhenti barang sebentar. Ia pun mau dengan memberi saya syarat, tidak lebih dari satu menit! katanya. Namun tiba-tiba saja pikirannya berubah. Anto Lakban langsung mematikan kendaraannya ketika ia melihat sepupu saya bernama Rinai Delima ke luar rumah. Saya yakin betul, apalagi itu tampak sorot matanya. Anda tahu, karena hal inilah peristiwa penembakan Amat Obeng di kediamannya tidak pernah terjadi.

Saat Anto Lakban mematikan mesin motornya, saya langsung turun menghampiri Bude dan sepupu saya, Rinai Delima. Bude bilang agar saya mampir dulu ke rumah. Saya pun mengiyakan dan mengajak Anto Lakban. Tak disangka Anto Lakban juga mau. Tak lama, Rinai Delima pun disuruh Bude saya untuk bergegas kembali membukakan pintu rumah dan membuatkan teh hangat untuk kami. Ketika saya dan Anto Lakban masuk ke ruang tamu dan duduk, tiba-tiba Bude saya meminta maaf karena tidak bisa menemani dan izin untuk pamit, katanya ia hendak pergi sebentar ke supermarket. Berhubung jarak dari rumah Bude ke supermarket harus melewati jalan utama yang macet itu, saya pun menawarkan diri untuk mengantar beliau dengan meminjam motor Anto Lakban. Awalnya Bude saya menolak, namun saya memaksa hingga akhirnya ia setuju. Saya berpikir, mungkin waktu yang saya gunakan untuk mengantar Bude saya tentu akan turut berpengaruh pada emosi Anto Lakban. Dengan menikmati teh hangat sembari ditemani sepupu saya, Rinai Delima, yang anggun itu mungkin Anto Lakban bisa sedikit berpikir jernih atau bahkan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk balas dendam.

Rencana saya berjalan baik, namun firasat saya berkata sebaliknya. Tanpa menunggu Bude saya selesai belanja, saya langsung tancap gas, kembali ke rumah Bude dan untuk memastikan bahwa firasat saya itu sama sekali tidak benar. Sesampainya di rumah bude, saya langsung masuk menuju ruang tamu dan tidak menemukan siapa-siapa, hanya ada dua gelas berisi teh—yang satu masih utuh dan yang satu lagi kelihatan baru disesap beberapa kali. Pasti ada yang tidak beres, pikir saya, dan benar saja, Anto Lakban kembali berulah. Saya jadi tampak bodoh dengan meninggalkan sepupu saya yang cantik itu bersama seorang gila yang membawa bedil. Saat itu saya melihat dengan kepala saya sendiri bahwa Anto Lakban tengah menggarap Rinai Delima, sepupu saya, tepat di kamarnya sendiri dengan bedil yang diarahkan ke kepala Rinai Delima. Menyadari kedatangan saya, Anto Lakban sekonyong-konyong mengarahkan bedilnya ke arah saya. Kau jangan macam-macam, katanya. Bangsat! Saat itu saya betul-betul geram.

Dalam pikiran saya, kemungkinan yang akan terjadi setelahnya adalah Anto Lakban akan menembak kami berdua, namun kemungkinan itu tidak pernah terjadi. Selanjutnya, tepat pada pukul 17.45, gempa waktu itu kembali terjadi. Saya kembali ke warkop perempatan, menunggu Anto Lakban dan belum lama memesan teh hangat. Lalu, ketika teh hangat saya baru saja jadi dan disajikan, sekonyong-konyong Anto Lakban memukul pundak saya. Ayo cepat naik ke motor, katanya.

Saat itu kendali otomatis berhenti dan kehendak bebas kembali berperan. Yang saya lakukan setelahnya adalah saya ke luar warkop dan melihat ke arah motor Anto Lakban, ternyata tas kecil itu tergantung di motornya. Lalu saya pun kembali masuk ke warkop, mengambil teh hangat dan menyalakan sebatang rokok. Anto Lakban tampak geram dengan tingkah saya yang ia anggap mengulur-ulur waktu. Ia pun memaki saya. Kau ini lama sekali, ayo cepat naik! katanya. Lalu, tanpa membalas makian Anto Lakban, saya langsung menyiram teh hangat saya tepat ke arah wajah Anto Lakban. Tampaknya teh itu masihlah panas. Maklum saja, penjaga warkop memang kadang berbuat begitu. Saat Anda memesan hal yang hangat, ia terkadang membuatnya tidak sesuai pesanan, alias masih betul-betul panas, terserah si penjaga warkop itu. Dan setahu saya, tidak ada yang mengajukan komplain sama sekali atasnya. Hal itulah yang membuat Anto Lakban tampak kesakitan. Ia terlihat menahan perih dengan beberapa kali mengusapkan kedua tangan ke wajahnya sambil mengucapkan makian disertai sumpah serapah. Setelah itu saya langsung berlari ke arah motor, mengambil tas kecil yang tergantung, mengeluarkan bedil, dan langsung mengarahkannya ke Anto Lakban.

Anda tahu, saat itu saya membayangkan wajah Anto Lakban saat ia tengah menggarap Rinai Delima, sepupu saya. Bangsat! teriak saya, yang tak lama disusul letusan timah panas. Setelah penembakan itu, saya lantas melemparkan bedil itu serampangan, lalu berjalan pulang sembari melanjutkan merokok.

Pukul 17.45, tepat saat masjid samping rumah saya membacakan ayat-ayat suci al-Quran—surat yang dibacakan itu adalah surah Al-Furqan ayat 14 [1], saya ingat betul itu, apalagi saat saya dulu ketahuan kabur dari pesantren, saya mendapat hukuman untuk menghafal surat itu—beberapa petugas kepolisian datang ke rumah. Saat itu tidak ada lagi gempa waktu. Saya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

 

Agustus, 2017

Doni Ahmadi. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta, pegiat sastra dan seni di komunitas Tembok, redaktur buletin sastra Stomata, serta turut mengurus rubrik prosa di webzine Jakartabet.net. Beberapa cerpennya telah dimuat media dan termaktub dalam antologi Desas-Desus tentang Kencing Sembarangan (2016).

 

Catatan:

[1] QS 25:14 (akan dikatakan kepada mereka) , “Janganlah kamu mengharapkan pada hari ini satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang berulang-ulang.”

Advertisements