Cerpen Uri Pradanasari (Suara Merdeka, 10 September 2017)

Nol ilustrasi Suara Merdeka
Nol ilustrasi Suara Merdeka

Mati. Semua pasti kembali. Jauh melampaui galaksi. Tenang, semua melayang. Menjadi satu mata untuk seribu mata. Tak perlu berpindah tempat, cukup dari satu titik. Terlihat semua. Kamu, dia, dan mereka.

Tak perlu melalui jalan terjal ketika ingin melihat Pantai Sundak. Tak perlu bersusah-payah melewati jalan setapak untuk menikmati pemandangan dari puncak Mahameru. Karena semua tempat takkan lepas dari pandangan.

Aku bisa melihat senyum ayahku sembari menyaksikan keindahan Raja Ampat dalam satu waktu. Tak perlu berpindah tempat. Cukup melayang. Bersama bintang, meski tak terlihat.

Sendiri. Ketika malam mulai sunyi. Membangkitkan ingatan yang telah terpatri. Rumah cat hitam dan kakek tua. Meninggalkan luka dan beban yang teramat dalam. Luka yang tak pernah kutemu obatnya. Jahanam.

“Disa, kemarilah!” Suara itu selalu terdengar di telingaku selama lima tahun saat sore menjelang. Senyum manis seorang kakek yang sudah beruban. Tubuhnya kurus. Kumisnya memutih dan kulitnya keriput, dengan mata terbuka lebar. Hidup dalam kesendirian. Selalu, aku selalu dia beri sebuah permen lolipop, permen kesukaanku. Dan kau tahu, kakek itu juga menjual balon. Balon? Ya, aku sangat menyukainya. Di pojok kamarku selalu ada balon. Merah. Balon yang kubiarkan menyundul langit-langit kamar dengan seutas tali panjang yang diikatkan pada sebuah batu. Aku menyukainya. Jika balon itu kempis, Ayah akan membelikan untukku. Tak lain, di tempat kakek itu.

“Disa, kemarilah! Kakek punya permen untukmu.” Suara itu kembali mengusik telingaku sore itu. Sepeda kuletakkan begitu saja. Aku pun berlari. Menyeberang jalan, menghampiri permen dari kakek itu.

Pim, pim, pim! Brak! Seketika gelap.

Sejak saat itu aku berjalan memakai alat bantu. Sepi, sunyi. Pedih. Detik berganti menit, menuju jam, menjelma hari dan menuntun bulan. Tahun pun tetap mengikuti. Di sini, dalam sebuah kamar berukuran 5 x 5 meter kuhabiskan sebagian masa dalam hidupku. Tak kupercaya semua. Ibuku sudah tiada. Ayah kerja. Sementara aku berteman dengan pena dan kertas atau terkadang tembok. Satu yang tak pernah kulupa: balon. Meski kutahu balon itu dari kakek tua. Namun, entah, aku tak bisa membenci balon. Itulah teman-temanku.

Mentari tak bersahabat siang ini. Angin bertiup membawa dedaunan yang terlepas dari tangkai dan beterbangan. Awan memucat. Klakson kendaraan masih saja bersahutan. Diiringi suara mangkuk yang dipukul dengan sendok. Ting, ting, ting, ting! Tanda penjual bakso berhenti di depan rumah. Penjual bakso langganan Ayah. Segera kuambil alat bantu jalan.

“Bakso satu, Pak. Seperti biasa, tanpa micin dan saus,” kataku sembari mengulurkan sebuah rantang.

Penjual bakso itu meracik bakso. Aku berdiri dengan alat bantu, kemudian masuk ke rumah. Lupa aku mengunci pintu. Bakso kutaruh meja. Ketika aku ingin memakan, krik! Pintu terbuka. Di hadapan pintu, tepat di depan mataku, kakek yang suka memberiku permen.

“Pergi! Pergi! Pergi dari sini!” teriakku sambil mengacungkan telunjuk kananku.

Kakek itu hanya tersenyum. “Kau tak mau permen lagi dariku? Bukankah kau menyukainya?” ujar kakek itu mendekatiku, membawa sebuah permen lolipop.

“Pergi! Pergilah!” teriakku makin menjadi.

Kakek itu mendekat. Hujan pun turun.

“Pergi!” teriakku, mengguyurkan bakso ke hadapan kakek itu.

Ia tertawa. Makin menjadi.

“A-ha-ha-ha. Sekarang kau tak bisa pergi lagi dariku! Hari ini hari yang kutunggu, Anak Manis. Ha-ha-ha,” kata kakek itu makin dekat.

“Pergi! Kau telah membuatku cacat! Enyah dari hadapanku! Pergi!”

“Ha-ha-ha. Kaupikir hanya kau yang sakit? Kau di tanganku sekarang. Ha-ha-ha-ha. Salahkanlah ibumu!”

“Diam kau! Pergi!”

Kakek itu memegang keras pergelangan tanganku. Dan biadab! Dia merenggut kesucianku di tengah hujan deras dan petir yang sesekali menyambar. Aku hanya bisa menangis.

“Akhirnya lunas sakit hatiku, Anak Manis. Ha-ha-ha. Salahkan ibumu! Dia yang telah membuatku seperti ini! Dia batal menikah denganku hanya karena aku mantan pencandu dan dia lebih memilih ayahmu.”

Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kanan. Kotak itu berisi cincin berwarna kuning.

“Cincin ini! Cincin ini! Seharusnya ibumu yang memakai! Namun dia meninggalkan aku dan pindah ke kota ini. Lebih sakit mana, Disa? Lebih sakit mana! Belasan tahun aku menunggunya, hingga saat ini,” teriak kakek itu, kemudian keluar.

“Pergi!” teriakku sambil menangis.

Aku tersungkur. Sakit. Pedih. Salah apa aku pada kakek itu? Salah apa!

Semenjak hari itu, aku makin mengurung diri di dalam kamar, tak mau keluar rumah. Apakah Ibu benar seperti kata kakek itu? Ingatan siang itu membuatku makin tersungkur. Diam. Tak berani cerita pada Ayah. Ingin rasanya melempari rumah kakek tua itu dengan telur busuk atau bahkan meriam.

Tak ada yang bisa kuajak cerita, kecuali dinding kamar dan kertas-kertas putih. Aku bertahan. Menggambar segala impian di tembok. Tentang mimpi dan harapan yang telah dipupuskan keadaan. Keadaan yang harus kutanggung tanpa tahu apa salahku. Terlebih tentang kakek bejat itu.

Kugoreskan setiap harapan dan impian. Hari demi hari. Kugambar di tembok kamarku. Tentu, di sana ada sketsa wajahku, Ayah, dan Ibu. Ada mimpi dan kehidupan yang kuinginkan. Keindahan bulan purnama di Ara-ara Amba. Ya, saat bulan sempurna dengan cahayanya. Dan saat bintang-bintang bertaburan diselimuti hawa dingin pegunungan, kata orang. Entah. Aku hanya terhanyut dengan mimpiku. Mencoba menghibur diri sebelum aku kembali. Karena tak ada yang bisa membuatku bertahan lagi.

Sisi tembok kamar penuh sketsa. Berpuluh-puluh rim kertas, sama sudah habis berisi sketsa. Yang tersisa sebuah pensil yang tinggal separuh. Tak ada lagi teman, kecuali balon yang seolah berteriak, “Bawa aku pulang!”

“Waktu, cinta, dan derita. Ramuan rasa yang tak bisa kutanggung lagi. Dan kini aku akan kembali. Pada waktu yang kutentukan sendiri. ~Nol~”

Tulisan itu tercoret di kertas yang kugulung, kemudian kutalikan dengan balon, kubawa ke jendela. Sebelum kuterbangkan, aku berdoa, semoga sampai di tempat tujuan. Kedamaian. Sembilan belas. Tujuh. Dua ribu lima belas. Tepat pada usia sembilan belas tahun.

Kendaliku hilang. Aku melayang. Memutus kepedihan. Dan melunaskan ketidakberdayaan. Yang kulihat di hadapanku, raga yang kini terkapar. Pergelangan tangan kiri bersimbah darah. Dan aku tenang. Tak ada lagi ketakutan. Menembus dinding waktu dan tahu ke mana balon itu membawa tulisanku. Nol. Hilang.

Segera kutuntaskan rasa sakit dan penderitaan. Kuhampiri kakek itu. Kupukul badannya. Kutendang kakinya. Kusiksa sepuasku. Namun semua sia-sia. Pukulanku tak mengenai badannya, tendanganku tak mengenai kakinya. Sialan.

Jengkel dan ingin tertawa, karena aku berani menghadapinya. Aku bahagia, melihatnya tak berdaya. Menua dan sakit.

Aku kembali melayang. Menyaksikan bintang dan pemandangan. Terkadang singgah di pepohonan. Terkadang berdiri di ujung menara dan bermain dengan petir. Tenang. Damai. Nol. Aku kembali.

“Bangun!” Belai lembut tangan Ibu mengelus keningku. Aku tertidur dalam imajinasiku. Kucubit pipi kanan-kiriku. Aku masih hidup. Dan Ibu masih di sisiku. Bergegas aku memeluknya. Kulihat kertas di atas meja belajarku. Terbentuk peta dari air liurku, bertuliskan “nol”. Aku tersenyum dalam pelukan Ibu. “Tentu aku akan kembali.” (44)

 

– Uri Pradanasari, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Advertisements