Cermin Iliana Loelianto (Suara Merdeka, 03 September 2017)

Rahasia Restoran Tuan Owen ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Rahasia Restoran Tuan Owen ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Tuan Edgard duduk termenung di restorannya. Sudah dua bulan ini hanya ada beberapa orang yang makan di restorannya. Sementara restoran Tuan Owen yang ada di ujung jalan tampak sangat ramai.

“Huh! Mengapa mereka lebih senang makan di restoran Tuan Owen daripada di restoranku, ya?” keluhnya.

Padahal, selama ini restoran Tuan Edgard selalu menjadi restoran terbaik dan terlaris di Negeri Olio. Selain cita rasanya yang enak, harganya juga sangat terjangkau. Itu sebabnya, Tuan Edgard yakin Tuan Owen menyimpan rahasia di balik keberhasilan restorannya itu.

Pasti Tuan Owen memasukkan bumbu ajaib ke dalam masakannya. Atau, Tuan Owen menggunakan mantra sakti agar restorannya selalu laris manis.

“Aku harus segera mencari tahu apa rahasia Tuan Owen,” gumamnya tak sabar.

Tuan Edgard menutup restorannya lebih cepat hari ini. Ia mengikuti Tuan Owen pergi ke pasar. Ia berpura-pura sedang belanja bahan untuk keperluan dapur. Kemudian, Tuan Edgard menyapa Tuan Owen yang sedang memilih tomat segar.

“Hai, Tuan Owen. Kulihat restoranmu selalu laris manis. Maukah kau membagikan sedikit rahasianya padaku?”

“Aku tak punya rahasia apa-apa, Tuan Edgard,” jawab Tuan Owen.

Tetapi, Tuan Edgard tak mau percaya begitu saja. Ia yakin Tuan Owen tak ingin memberitahukan rahasianya karena takut tersaingi. Tetapi, bukan Tuan Edgard namanya jika tidak mencari tahu.

***

Dari balik jendela dapur, Tuan Edgard mengintip kegiatan Tuan Owen di dapur. Ia mengamati gerakan lincah tangan Tuan Owen saat meracik bumbu masakannya. Ia juga memperhatikan bagaimana Tuan Owen menyajikan makanannya.

Ketika Tuan Owen mengantar pesanan, Tuan Edgard pun beraksi. Ia menyelinap masuk ke dapur Tuan Owen lewat pintu belakang yang tak terkunci.

Tuan Edgard mendekati rak kayu yang berisi bumbu-bumbu dalam toples. Satu per satu diperiksanya dengan teliti. Termasuk perkakas dapur yang sering digunakan Tuan Owen untuk memasak.

Tuan Edgard mendesah kecewa. Tak ada tanda-tanda adanya bumbu ajaib atau mantra sakti di dapur Tuan Owen. Kemudian, pandangannya menyusuri setiap sisi dapur.

Senyum di wajahnya tiba-tiba mengembang. Di bagian atas rak kayu tempat perkakas makan ada sebuah gulungan kertas. Tuan Edgard yakin pasti ada petunjuk di sana. Dengan penuh semangat, ia memanjati rak kayu itu.

Alangkah terkejutnya Tuan Edgard ketika rak kayu yang menjadi pijakannya tiba-tiba ambruk. Suara berdebum terdengar. Tuan Edgard terjatuh. Setengah berlari Tuan Owen kembali ke dapurnya.

“Oh, Tuan Edgard! Apa yang kau lakukan di dapurku?” tanya Tuan Owen sambil membantu Tuan Edgard berdiri.

“Maafkan aku, Tuan Owen,” ucapnya penuh penyesalan.

Lalu, Tuan Edgard menceritakan tujuannya masuk ke dapur Tuan Owen sambil mengangkat kembali semua perkakas makan yang terjatuh. Tuan Owen terkekeh saat Tuan Edgard mengira gulungan kertas itu adalah kertas mantra. Ia mengambil gulungan kertas yang dimaksud lalu membukanya.

“Ini adalah angket kepuasan pelanggan, Tuan Edgard. Dengan angket ini para pelanggan bisa memberikan skor untuk pelayanan dan kebersihan di restoranku. Jika skor mereka tinggi berarti mereka puas dan aku merasa senang. Jika mereka kurang puas, aku akan memperbaikinya. Para pelanggan juga diperbolehkan untuk menuliskan saran dan kritik bila ada.”

Tuan Owen juga menjelaskan bahwa dengan adanya angket itu, dirinya sangat terbantu. Ia jadi tahu bagaimana selera makanan tiap pelanggannya. Seperti Nyonya Rumi yang tidak suka makanan pedas, Tuan Patrick yang sangat menyukai makanan manis, juga Nyonya Eli yang suka makanan asam.

Seorang pelanggan berjalan menghampiri Tuan Owen. Ia merogoh saku untuk mengambil dompet. Setelah membayar, Tuan Owen memintanya mengisi angket. Selesai mengisi angket, pelanggan itu tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Terima kasih. Selamat datang kembali,” ucap Tuan Owen dengan riang gembira.

Tuan Edgard memperhatikan semua itu. Ia tersadar kalau selama ini ia selalu menganggap restorannya adalah yang terbaik. Tanpa pernah memikirkan apakah pelanggannya merasa puas atau tidak. Tuan Edgard tertunduk sedih. Dalam hatinya ia berjanji akan lebih memperhatikan pelayanan di restorannya.

Tak lupa ia juga meminta maaf kepada Tuan Owen, karena telah berprasangka buruk. Ternyata, Tuan Owen adalah orang yang baik dan jujur. (58)

Advertisements