Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 03 September 2017)

Kambing-Kambing Peninggalan Ibrahim ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Kambing-Kambing Peninggalan Ibrahim ilustrasi Suara Merdeka

Malam yang begitu gelap mengantarkan jamaah masjid ke obrolan setengah formal. Beberapa duduk bersila menyimak paparan Karim, takmir masjid. Pertemuan itu digelar untuk rembuk kurban pada Hari Raya Kurban. Meskipun pertemuan itu sedikit lebih formal, masih tampak keakraban di antara mereka dengan canda tawa yang menghiasi.

Penentuan hewan kurban pun mereka sepakati atas usul Karim dan beberapa anggota jamaah lain. Selain mengajukan proposal, ada banyak warga akan berkurban. Begitu juga jamaah yang ikut rapat. Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan bulat untuk membentuk panitia kurban.

Setelah beberapa pihak yang akan berkurban dimintai konfirmasi, Masjid Kiyamuna memiliki 200 ekor hewan kurban. Ada 50 ekor sapi dan 150 ekor kambing. Warga yang berkurban terbanyak hanya Haji Salman. Dia menyumbangkan kambing kurban 24 ekor dan seekor sapi. Katanya, biar genap seperti para rasul yang berjumlah 25 dan nabi terakhir adalah Muhammad. Haji Salman berlogika seperti itu sesuai dengan perhitungan spiritual.

***

Tak banyak warga menyimpan curiga atas kemurahan hati Haji Salman. Dia memang bergelar haji, tetapi memiliki latar belakang maling. Dulu sebelum berangkat haji, kebiasaan dia begitu. Namun saat hewan-hewan itu akan disembelih usai salat id, sebagian warga mengobrolkan soal hewan kurban Haji Salman.

“Eh, aku kok menaruh curiga ya pada hewan-hewan kurban Haji Salman,” kata Amri yang mulai menyiapkan pisau.

Emang kenapa, Ri?” tanya Hasan yang sedang mengasah sebilah pisau besar.

“Kita kan tahu sebelumnya dia mantan maling.”

“La, jangan berburuk sangka, Ri.”

“Bukan…,” omongan Amri terputus.

Dari belakang, Haji Salman sudah menyimak dengan baik percakapan Amri dan Hasan. Mereka berdua seperti mati kutu. Tak ada pembicaraan lagi. Hasan memelankan mengasah sebilah pisau. Dia menunggu saat Haji Salman bicara.

“Mohon maaf ya,” kata Haji Salman sedikit ramah. “Itu kambing-kambing yang saya kurbankan murni hasil usaha saya. Itu kambing-kambing peninggalan Nabi Ibrahim.” Dia berujar tanpa merasa tersinggung oleh obrolan Amri dan Hasan.

Amri dan Hasan tak berkutik. Setelah Haji Salman menjauh dan melihat hewan-hewan yang akan dipotong, mereka beringsut tanpa suara ke tempat penyembelihan. Di dekat warga dan jamaah masjid, Haji Salman menceritakan kehidupan Nabi Ibrahim saat menyembelih kambing sebagai pengganti sang anak, Ismail. Warga memang tampak memperhatikan ceritanya, meski kurang yakin atas cerita mulia itu. Itu seperti bualan. Bukan karena kisahnya tak inspiratif, melainkan karena yang bercerita Haji Salman yang di mata mereka masih tampak sebagai raja maling yang berlaku baik di lingkungan sosial.

“Sudahlah, ayo kita lanjut menyembelih,” kata Amri dan Hasan setelah Haji Salman menjauh. Mereka bersama jamaah dan warga serempak menyembelih hewan kurban satu per satu. Penyembelihan berjalan lancar hingga pada pembagian untuk setiap warga: dari yang miskin, yatim-piatu, dan warga biasa lain dengan jumlah berbeda tentu.

***

Setelah Hari Raya berlalu, daging kurban yang sudah menyatu dengan daging manusia itu juga lenyap menjadi aktivitas sehari-hari. Sebuah kabar angin beredar dari beberapa desa. Ada sebagian warga kehilangan kambing sebelum Hari Raya tiba. Tepatnya, seminggu sebelumnya.

Dugaan Amri bersambut. Dia makin yakin atas kecurigaannya pada Haji Salman. Lalu dia menemui Hasan dan Karim, takmir masjid penyelenggara kurban.

“Mas, kamu sudah dengar kabar gak?” tanya Amri yang datang bersama Hasan.

“Kabar apa, Mas?” tanya Karim.

“Di desa sebelah ada beberapa warga kehilangan sapi sebelum Hari Raya. Tapi kabarnya baru tersebar sejak kemarin,” kata Amri sedikit menceritakan kabar yang menyeruak pelan.

“Lalu kita hendak menuduh Haji Salman yang menjadi dalang?” tanya Karim setengah resah.

“Bisa saja begitu,” kata Hasan. “Sebagian di antara mereka menyebut begitu. Karena sebelum kehilangan kambing, mereka melihat Haji Salman berkeliling desa bersama beberapa orang.”

Karim merasa agak resah jika daging halal itu bercampur daging haram dari kambing dan sapi Haji Salman yang diduga curian. Perbincangan mereka makin mendalam. Mereka berusaha bersikap tenang. Di sana memang lumrah diketahui, meski Haji Salman tampak baik secara sosial, di belakang suka mencuri dan bertindak kriminal lain. Mereka tak ingin menjadi korban Haji Salman. Persoalannya, jika obrolan itu diketahui Haji Salman akan menjadi ancaman bagi mereka.

“Di desa sebelah, warga yang kehilangan kambing menemukan bekas sandal Haji Salman,” kata Hasan.

“Kok bisa langsung bekas sandal itu milik Haji Salman?” tanya Karim dengan dahi mengernyit. “Kan ada banyak sandal bermodel sama?”

“Siapa tak kenal bekas sandal mahal milik Haji Salman?” tanya Amri pada diri sendiri. “Sandalnya mahal. Hanya dia yang memiliki. Itu pun dia beli saat berhaji ke Makkah.”

“Apa kita harus melapor polisi saja?” tanya Karim semangat.

“Aku tak berani mengusulkan itu,” kata Amri. “Kalau ketahuan kita yang memiliki inisiatif itu, kita akan menjadi incaran orang-orang Haji Salman.”

Mereka duduk bersila dengan termangu. Obrolan terhenti begitu saja tanpa solusi. Rasa bersalah dan berdosa meliputi hati dan pikiran mereka. Mereka yakin itu daging hasil curian. Pada mulanya jamaah dan warga tak membicarakan soal hewan kurban Haji Salman. Mereka berpikir positif saja. Namun setelah ada kabar warga kehilangan hewan ternaknya, rasa berdosa menjadi duri yang terus menusuk-nusuk naluri.

Kebekuan itu kembali mencair setelah Karim mengusulkan untuk menemui warga yang kehilangan hewan ternak sebelum Hari Raya. Mereka akan menanyakan perihal itu. Semacam investigasi kecil-kecilan untuk mencari kebenaran cerita itu. Mulai dari soal bukti-bukti bekas pencuri hingga kecurigaan mereka atas sang pencuri.

Di sana, mereka bercakap-cakap dengan sebagian warga yang kehilangan hewan ternak dan beberapa warga lain. Benar, mereka memiliki dugaan sama: Haji Salman dalangnya. Namun mereka tak berani menyuarakan kecurigaan itu. Untuk melapor ke polisi tentu menghabiskan uang yang tak seberapa dibanding dengan harga hewan ternak yang hilang. Selain itu, mereka akan merasa terancam jika ketahuan menjadi pelapor.

Kebejatan Haji Salman mereka biarkan begitu saja. Mereka hanya akan berani melapor jika melihat langsung sang pencuri. Memang, bukti bekas sandal sudah mereka kantongi. Namun mereka rasa masih belum kuat. Mereka lebih memilih diam daripada membahayakan jiwa sendiri dan orang-orang terdekat. (44)

 

Yogyakarta, 22 Agustus 2017

Junaidi Khab, asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Kini, dia bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Advertisements