Cerpen Kristin Fourina (Media Indonesia, 03 September 2017)

Gadis Embun ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Gadis Embun ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SELEPAS subuh, berjalanlah dengan pelan ketika kau melewati Jembatan Bantar, jembatan yang menghubungkan Bantul dengan Kulonprogo. Kau akan menemukan seorang perempuan tua yang duduk di pinggir jembatan dengan gusar. Ketika matahari berhenti di pelepah pohon pisang, kau akan melihat perempuan tua itu pergi meninggalkan jembatan dengan gelisah. Wajahnya pucat sebab saat itu sudah tak ada sisa setetes embun pun yang mampu menyejukkan hatinya.

Orang-orang sudah menganggapnya gila setelah tak ada kabar berita tentang anak gadisnya. Perempuan tua itu selalu memilih duduk di pinggir Jembatan Bantar selepas subuh hanya untuk merasakan sejuknya embun yang menyentuh tangannya. Sungguh, ia hanya ingin merasakan sejuknya embun sambil sesekali berharap bahwa anak gadisnya akan muncul bersama tetesan-tetesan embun di pinggir Jembatan Bantar.

Perempuan tua itu sesekali tampak gembira bisa merasakan sejuknya embun seperti ia sedang berjumpa dengan anak gadisnya yang sedari dulu ingin menjelma tetesan embun.

“Seperti embun, Ibu. Ya, setetes embun sehabis itu menguap dan lenyap. Mestinya Tuhan menciptakanku sebagai setetes embun, bukan sebagai seorang anak gadis yang tak diharapkan oleh seorang lelaki pun di dunia ini.”

“Kau menyesal telah terlahir dariku, Nak?”

“Justru aku adalah hadiah terburuk yang diberikan Tuhan untuk ibu.”

“Kau adalah anakku satu-satunya yang kupunyai, Nak. Kenapa anakku satu-satunya justru mengatakan padaku hal yang menyesakkan?”

“Justru karena aku adalah anak gadis ibu satu-satunya, maka aku merasa menjadi patung yang tak berguna.”

“Suatu hari kau akan tahu betapa beruntungnya ibu memilikimu, Nak.”

“Aku hanyalah seorang gadis yang serupa pasir, Ibu. Aku ingin menjelma setetes embun yang sejuk.”

Advertisements