Cerpen Jemmy Piran (Jawa Pos, 03 September 2017)

Dalam Lingkaran Laut ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Dalam Lingkaran Laut ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

Sebagai pelaut ulung, Koli tahu kapan waktu yang tepat ikan-ikan berkumpul dalam sebuah gerombolan besar. Ia hanya perlu mendayung ke tengah laut, melihat arah angin, lalu menurunkan pukat, menunggu beberapa saat sambil menengadah ke langit, merapalkan doa-doa pendek setengah berbisik, menyentuh permukaan laut dan melihat ke ujung pukat yang telah diikat pada buah kelapa terapung. Sesaat sesudah itu pukatnya di tarik-tarik ke bawah.

Saat-saat seperti inilah yang ia tunggu, karena bukan hanya mendebarkan tapi segera ia kembali memanjatkan rasa syukur, me ngingatkan ia pada kisah dalam kitab suci bagaimana murid pertama dipanggil. Ia merasa dirinya adalah murid di zaman sekarang. Ketika orang-orang menggunakan perahu mesin, ketinting, pukat harimau, pukat jepang, pergi ke tempat yang jauh untuk mendapat ikan yang banyak, ia justru hanya menggunakan dayung dan sampan kayunya yang sudah agak lapuk. Ia meninggalkan pesisir, cukup mendayung ke tengah laut, lalu menurunkan pukatnya.

Betapa bahagia ia ketika melihat warga yang membeli hasil tangkapannya merasa bahagia. Ia selalu melebihkan beberapa ekor ikan. Kadang ia membagikan secara gratis kepada warga. Kadang memang harus diberikan secara gratis agar rezeki terus melimpah, pikirnya. Begitulah kerja alam, pikirnya lanjut.

Ia adalah saksi sejarah masa lampau. Saat orang-orang mengandalkan ilmu pengetahuan untuk menangkap ikan, ia masih menggunakan cara lama. Mengeruk sedikit bala [1], membungkusnya dalam kapas dan meletakkan kapas itu di sudut pesisir setelah merapalkan mantra, di antara bakau, dan satunya lagi ia larungkan ke laut.

Karena seperti yang diwasiatkan oleh tetua, segala yang berkeriap dalam laut punya tuan maka untuk mengambil hasil laut setidaknya ada sesuatu yang harus diberikan sebagai ganti. Begitu juga dengan semua binatang yang berkaki dan melata di darat juga mempunyai tuan. Juga tidak harus melupakan Sang Pemilik Segala: Tuhan.

Wasiat itulah yang sampai sekarang masih ia pegang dengan teguh. Hanya ada satu larangan: tidak boleh mengambil sesuatu secara berlebihan.

Sementara pada bulan sabit, ia membawa telur, kapas, miniatur piring yang terbuat dari daun lontar yang dianyamnya sendiri, yang diisi dengan beras, ke pantai. Ia membuat seremonial semacam itu karena, menurut tetua, untuk menghormati pertemuan antara raja laut dan raja darat di pantai. Mereka harus diberi makan. Maka sesajian itu rutin ia laksanakan untuk menghormati mereka. Kepercayaan ini ia pegang teguh untuk menghargai leluhurnya.

***

SEBETULNYA ada seorang lagi di kampung pesisir itu yang pandai membaca laut. Tapi, setelah terjadi beberapa kejadian aneh, keluarganya melarang agar ia tidak berhubungan dengan laut. Segala benda, anak panah, tombak, kacamata selam yang digunakannya untuk menyelam, dibakar tanpa sisa. Semua itu semata agar lelaki tersebut tidak lagi ke laut.

Begini menurut cerita si lelaki itu.

Tiap tiga purnama, pada malam gelap, dua orang wanita cantik membangunkannya dari tidur. Dua wanita cantik itu membawa obor yang terangnya melebihi cahaya di siang hari. Dengan sendirinya, seperti didorong oleh suatu kekuatan luar biasa, tanpa bisa ia tahan, ia turun dari tempat tidur, mengendap-endap tanpa suara. Membuka pintu rumah, dan dua wanita itu berdiri di sisi pintu siap menerangi jalannya.

Ia memandang ke arah laut. Dari tengah laut ada satu cahaya kecil bagai noktah di kejauhan. Pelan, tapi dalam satu kedipan mata cahaya itu menyelimuti dirinya. Di saat bersamaan kakinya terangkat, badannya tertarik ke depan. Di sisinya dua orang perempuan menenteng obor, menerangi jalannya. Orang lain berpikir ia lari dalam kegelapan tapi sesungguhnya ia lari dalam terang yang lebih terang dari cahaya matahari.

Ibunya berteriak meminta bantuan tapi terlambat. Sebelum suaranya membelah malam, lelaki itu sudah berlari dengan kecepatan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan. Cepat, cepat sekali bagai merasa dirinya terbang. Padahal sebetulnya jalan di kampung pesisir itu penuh batu, tapi malam ketika ia berlari semua bagai bentangan lantai.

Ketika orang baru terkesiap bangun ingin menghadangnya, ia sudah sampai di pesisir pantai. Begitu tersadar ia tidak tahu kenapa sudah berada di pesisir seorang diri. Bagai sebuah omong kosong, tapi memang itulah kenyataan yang ia alami. Sesudah itu, keesokan harinya, ia seperti biasa bagai tidak pernah mengalami apa-apa. Ketika ditanya ia menuturkan apa adanya.

Setelah ceritanya tersebar, warga yakin bahwa dirinya telah dinikahkan dengan harin botan [2]. Maka dipanggillah dukun untuk menangkalnya.

Dua tahun kemudian, pada suatu pagi, maut meregang nyawanya ketika ia bersama dua kawannya menyelam, menembak ikan. Menurut penuturan kawannya, ia tertinggal di belakang, dan setelah beberapa kali mereka melihat ke belakang dan tidak menemukannya muncul di permukaan, akhirnya mereka kembali. Setelah beberapa kali berputar, mereka menemukan tubuh lelaki itu terlilit tali di samping batu. Terlihat seperti ada yang mengikat erat perutnya pada batu tersebut.

Begitulah cara harin botan memilihkan maut untuk dirinya.

***

BETAPA Koli meyakinkan warga bahwa menangkap ikan bukan hanya soal bagaimana mengusai ilmu pengetahuan, menggunakan alat-alat canggih, tapi harus juga menggunakan pengetahuan yang diturunkan dari nenek moyang, warga tetap tidak percaya. Mereka berpikir ia telah menikah dengan harin botan sehingga tangkapannya selalu banyak. Dan, akan selalu banyak, sekalipun pelaut lain nyaris tidak mendapat seekor ikan pun.

Bukan hanya itu, yang lebih ekstrem lagi adalah sebagian warga kemudian menuding Koli menggunakan tuber manger [3] untuk memanggil ikan. Tapi hal ini tidak terbukti. Biasanya orang yang menggunakan cara ini, dalam beberapa jam ikan-ikan itu membusuk, atau, kalau tidak, dalam perut ikan terdapat ulat hidup setelah beberapa saat digoreng.

“Kita hanya perlu menyeimbangkan alam,” ujaranya filosofis. Tapi, warga ya tetap warga, lebih percaya pada kabar yang merebak. Warga mencibir menanggapi ceritanya.

Kabar itu segera beredar dari mulut ke mulut. Terbawa ke dalam angin, memasuki celah-celah rumah. Hidup di sebuah perkampungan kecil segala hal bisa mengalir bagai air, sekalipun itu tampak biasa-biasa saja.

Warga mulai menyoal keberadaan Koli. Mereka beralih ke pelaut lain. Tinggal satu-dua yang masih setia membeli ikannya. Itu juga karena rasa kasihan. Tapi ikan-ikan yang dibeli dari Koli akhirnya menjadi makanan anjing dan babi. Ikan-ikan hasil tangkapannya tetap melimpah, sementara pembelinya kian susut.

Kecurigaan itu semakin besar ketika Koli seakan menarik diri dari kegiatan kampung. Ia tidak menampakkan batang hidungnya saat ada kerja bakti perbaikan jalan, semenisasi. Ketika orang beramai-ramai mengumpulkan batu sebesar kepalan tangan, yang dibeli dengan anggaran desa 250 ribu per kubik, ia justru melaut.

Kadang ia hanya duduk berlama-lama di pinggir laut. Memandang ke laut lepas hingga senja lamur. Atau mengayuh sampan ke tengah laut, duduk di sana sepanjang hari tanpa berbuat apa-apa. Tentu saja yang ia pikirkan adalah kenapa warga tidak percaya kepadanya. Apakah ini ujian baginya? Sudah tidak punya siapa-siapa dibenci pula.

Nyaris saja air matanya luruh, tapi ia menahan sekuat tenaga. Menangis di tengah laut adalah pantangan yang harus ia jaga. Karena warga percaya bahwa menangis di laut akan mendatangkan petaka.

Di tengah laut, Koli bisa mengenang banyak hal tentang alam yang selalu berbaik padanya. Ia merasa telah menjaga keseimbangan alam dengan baik. Memang beberapa tahun terakhir ikan berkurang karena penangkapan yang berlebihan, tapi, baginya, itu bukan persoalan karena tangkapannya selalu mencukupi. Terumbu karang rusak karena bom. Ikan-ikan kecil dan besar mati karena diracun potas.

Ia menyentuh permukaan laut yang bergelombang. Merasakan dingin menjalar ke dalam tubuhnya. Angin kering bertiup dari darat. Ia merendahkan badannya, mendekatkan wajahnya pada permukaan laut.

Semula hanya beberapa nelayan melihat ke arahnya. Tidak sampai sejam orang-orang berkumpul di pesisir.

“Lihat, bukankah dia sedang bercakap-cakap dengan harin botan? Dia tidak membawa pukatnya, terus kenapa ia terlihat seperti itu?” celetuk seorang nelayan.

“Dia membuatku menjadi takut,” ujar seorang wanita sambil menurunkan ember dari kepalanya.

“Bukankah itu membuktikan bahwa dia telah dinikahkan dengan penghuni laut?”

“Sebaiknya kita tidak berpikir yang bukan-bukan. Kita sama seperti dia, hidup bergantung pada laut.”

Orang-orang yang berkumpul itu berdebat. Dari mulut mereka yang cerewet aroma asin laut menyatu dalam udara. Lalu mengirim ke dasar samudera.

Karena rasa penasaran, beberapa nelayan berpura-pura melaut. Saat mendekat mereka melihat Koli hanya duduk mengelamun dan melemparkan pandangan di kejauhan. Ia baru terkejut ketika ada yang memanggil namanya.

Ketika ditanya, ia selalu menjawab tidak apa-apa. Nelayan-nelayan itu pun menjadi kasihan tapi mereka merasa enggan untuk memperbaikikeadaan karena lebih memilih jalan aman—mengikuti suara terbanyak. Mereka tidak mau pada akhirnya warga mengganggap mereka telah bersekongkol dengan Koli.

Ketika senja menjulur di garis cakrawala bagian barat, ia mengayuh perahunya menuju pantai. Sebelum mengayuh ketiga kalinya, ia mendengar kecipak air di sampingnya. Ada sekelabat gerak di bawah sampannya. Begitu samar tapi ia bisa memastikan seperti ada seekor ikan menikam ke dasar laut.

***

“IA jatuh cinta dengan seorang iblis,” kelakar Arwana, pemuda kampung, disambut gelak tawa pemuda lain yang sedang menghadap sebuah botol minuman.

Lanjut lelaki yang sudah mulai oleng itu, “Pernah aku mampir ke rumahnya, pura-pura meminta umpan ikan padanya. Katanya, ada satu cara agar hasil memancing banyak. Campurlah kutu busuk dengan umpan karena bau kutu mampu membuat ikan tertarik. Katanya juga cara itu sebetulnya tidak memengaruhi kualitas ikan. Tidak ada efek samping.” Ia mengatur napas.

“’Kenapa juga ia tidak menerima sumbangan dari pemerintah? Bukankah itu lebih memudahkan pekerjaanya. Bodoh amat.” Arwana menekan nada suaranya pada kata amat. Kembali orang-orang tertawa. Tepat saat itu Koli lewat. Ia mendengar kelakar itu dengan hati pedih.

Ia melangkah meninggalkan kumpulan anak muda tanpa meladeni mereka. Tidak ada gunanya berdebat dengan mereka yang sudah setengah sadar, di bawah pengaruh alkohol, pikirnya. Ia mengelap air mata yang meleleh di sudut matanya. Mengelus dadanya dengan tangan gemetar.

Hari itu ia pulang dengan dada terluka. Ia sesenggukan di tempat tidurnya yang penuh dengan kutu busuk. Akhirnya ia kelelahan dalam letih pikirannya.

***

PAGI, sebelum warga bangun, sebelum fajar membelah langit, lelaki tua itu mengambil dayungnya. Mengambil rebusan ubi sisa semalam, menyimpannya dalam plastik hitam. Ia mengantungkan plastik tersebut pada dayung, mengambil sisa pukat di dapur—menggayutkan pukat itu di bahu kanannya. Meletakkan gagang dayung pada bahu kirinya. Ia pergi.

Pagi ini ia sudah berpikir untuk membawa tangkapan ikan ke pasar.

Di bibir pantai ia menunggu hingga matahari di tubir bukit. Ia menolak perahunya. Ketika seluruh wajah matahari terlihat, ia naik ke perahu kecil itu dengan dada yang lebih ringan. Ia bersiul-siul kecil sambil mengayuh. Perahu terdorong ke depan setiap ia mendayung, kian ke tengah laut. Terus ia mengayuh hingga daratan di belakangnya makin menjauh dan terus menjauh, hingga lenyap.

Koli menoleh ke belakang. Ia tersenyum. Perahunya semakin melaju tenang di tengah laut.

Tiba-tiba di depannya ia melihat gulungan ombak dari kejauhan. Ia semringah sambil merentangkan tangan, membiarkan dirinya menyatu dalam pelukan ombak yang lembut. Sebelum ombak memisahkan ia dari perahunya, lelaki itu melihat segumpal cahaya yang melesap cepat dari arah langit kemudian menyatu dalam dirinya.

Dalam laut itulah beberapa wanita cantik menyambutnya dengan senyum mengembang. Di sana istrinya sedang duduk manis sambil merentangkan tangan menyambutnya dengan hangat. Ia tidak percaya kenapa harus menghadap harin botan. Sebelum ia menemukan jawaban, wanita itu telah melumat bibirnya dengan ganas. ***

 

Alak, April 2017

 

Catatan

[1] Belalai/gading gajah selain sebagai mahar, juga digunakan untuk ritual tertentu.

[2] Masyarakat Lamaholot, Flores, percaya bahwa harin botan adalah sang penjaga laut. Ia bisa berubah wujud menjadi apa saja saat menampakkan dirinya pada orang-orang tertentu.

[3] Merujuk pada penggunakan bagian tubuh mayat (tulang belulang, kuku dan rambut) untuk kepentingan tertentu.

 

Jemmy Piran lahir di Sabah, Malaysia, 18 Februari. Alumnus PBSI Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Advertisements