Cerpen Lamia Putri Damayanti (Koran Tempo, 02-03 September 2017)

Di Jok Belakang Mobil ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.jpg
Di Jok Belakang Mobil ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Aku tak pernah tahu mengapa pria itu membunuhku. Bahkan aku tak pernah bisa mengingat bagaimana kehidupanku sebelum mati. Seolah terlahir kembali seperti bayi, tanpa memori, tanpa kenangan. Setelah terlahir dari kematian, aku tak pernah mengingat semua ingatan dalam Rahim kehidupan. Sesaat setelah lepas dari tubuh, aku hanya melihat seorang pria menangis tersedu-sedu—di dekat jasadku. Awalnya aku sempat berpikir bahwa dia adalah anggota keluarga yang kutinggalkan. Mungkin dia kakekku, atau bahkan ayahku. Wajahnya terlihat cukup tua.

Namun pria itu hanya membiarkan tubuhku begitu saja selama tiga hari, lengkap dengan bajunya. Yang dilakukan pria itu hanyalah menangis menjerit-jerit. Sesekali sambil membentur-benturkan kepalanya atau menubrukkan badannya, baik ke dinding maupun lantai. Melalui racauan penyesalannya, kuketahui bahwa aku mati karena dibunuh olehnya. Meski pria itu tak menjelaskan mengapa ia membunuhku. Dan aku pun masih tidak tahu, siapa pria itu sesungguhnya?

Di hari ketiga setelah kematianku, pria itu pergi ke gudang, mengambil sebotol cairan formalin untuk mengawetkan tubuhku. Berulang kali dia menceracau, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak mati, sebab sebentar lagi aku akan menjadi utuh kembali. Sehat lagi. Bisa berjalan-jalan, berlari-larian, dan tertawa-tawa lagi. Baginya, mengawetkan tubuhku adalah salah satu cara menganggapku masih hidup.

Padahal tidak. Aku sudah mati terbunuh di usiaku yang masih sangat muda. Terlihat dari jasadku, aku pasti masih kanak-kanak. Mungkin berusia sebelas atau duabelas.

Meski begitu, pria itu sepertinya tidak ingin terburu-buru menganggapku telah mati. Ia berpura-pura bahwa aku masih hidup dan membawa awetan tubuhku ke mobilnya, meletakkanku di jok belakang mobil. Ia kemudian membawaku berkeliling tanpa arah dan tujuan selama sebelas tahun penuh tanpa ada satu pun tempat yang benar-benar kami singgahi. Selama sebelas tahun itu, kami berdua “hidup” bersama di dalam mobil usang ini. Aku sebagai roh seorang anak lelaki berusia duabelas tahun yang setia mengikuti awetan tubuhnya dan seorang pria yang terus menua.

Advertisements