Fabel Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 27 Agustus 2017)

Lalat Pengantar Tidur ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka.jpg
Lalat Pengantar Tidur ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Suatu pagi seekor rusa mendapat musibah. Ia terperosok ke lubang yang tertutup dedaunan kering. Tak lama kemudian muncul pemuda yang tersenyum gembira, karena lubang jebakan yang ia buat telah mendapatkan mangsa. Pemuda itu membawa rusa pulang ke rumah.

Pemuda itu mengikat leher rusa dengan tali anyaman bambu dan menambatkannya pada pagar halaman.

“Aku akan memanggil teman-teman. Kami akan pesta sate rusa yang lezat,” kata pemuda itu lalu pergi.

Rusa gelisah dan berusaha untuk kabur. Tetapi tali anyaman bambu itu begitu kuat. Leher rusa berdarah karena tergores tali.

“Aku harus cari cara lain,” kata rusa bergumam.

Tak lama kemudian muncul seekor lalat.

“Apa kabar, Rusa? Kamu sedang apa?” tanya Lalat.

“Kabar baik, Lalat. Aku sedang istirahat. Aku mengantuk sekali. Aku mau tidur,” jawab Rusa.

“Mengapa lehermu diikat?” tanya Lalat.

“Oh, tali anyaman bambu ini, maksudmu? Aku suka berjalan sendiri saat tidur. Karena itulah aku mengikatkan tali ke leherku, agar aku tak berjalan saat tidur,” kata Rusa.

“Oh, begitu rupanya? Tetapi, ini masih pagi. Mengapa kamu mau tidur?” tanya Lalat.

“Semalam aku tidak bisa tidur,” jawab Rusa.

“Mengapa begitu?” tanya Lalat.

“Kamu tahu, biasanya ada jangkrik yang bernyanyi, sehingga aku bisa tidur. Tetapi, tadi malam tak ada jangkrik,” jawab Rusa.

“Oh, begitu? Jadi, kamu bisa tidur kalau ada yang bernyanyi di dekatmu?” tanya Lalat.

“Benar. Maukah kamu membantuku?” tanya Rusa.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu?” sahut Lalat.

“Aku lihat sayapmu sangat indah. Dari kepakan sayapmu terdengar nyanyian yang merdu. Apalagi kalau kamu bersama teman-temanmu, tentu nyanyian kalian akan semakin merdu. Maukah kamu memanggil teman-temanmu ke sini?” tanya Rusa.

“Untuk apa aku harus memanggil teman-temanku?” sahut Lalat.

“Kalian terbanglah mengelilingi tubuhku. Aku ingin mendengar nyanyian yang merdu dari kepakan sayap kalian, agar aku bisa tidur nyenyak,” jawab Rusa.

“Oh, begitu? Baiklah, aku akan memanggil teman-temanku,” kata Lalat lalu pergi.

Tak lama kemudian Lalat kembali bersama teman-temannya.

“Kami datang, Kawan,” kata Lalat.

“Kami terbang di atas tubuhmu. Kami akan menyanyikan lagu yang merdu untukmu, agar kamu bisa tidur nyenyak.”

“Terima kasih, Kawan,” jawab Rusa, lalu merebahkan tubuh dan memejamkan mata.

Tak lama kemudian datanglah si pemuda bersama teman-temannya. Pemuda itu tekejut melihat rusa tergeletak tak bergerak dan banyak lalat mengerubungi tubuh rusa.

“Oh, tidak. Rusa ini mati,” kata si pemuda terkejut.

“Kamu terlalu kencang mengikat tali ke leher rusa ini. Lihat, leher rusa ini berdarah dan banyak lalat merubungnya. Rusa ini telah mati,” kata seorang teman pemuda.

“Benar, rusa ini telah mati. Kita batal mengadakan pesta sate. Ah, sayang sekali,” sahut temannya yang lain.

“Maafkan aku. Aku telah mengecewakan kalian. Tapi mau bagaimana lagi? Rusa ini telah mati. Mari bantu aku membuang mayat rusa ini,” kata si pemuda, lalu bersama teman-temannya membawa rusa itu pergi ke sungai. Mereka membuang rusa ke sungai, setelah itu mereka pergi.

Tubuh Rusa mengapung di permukaan air sungai. Tiba-tiba rusa bergerak, lalu berenang ke tepi sungai. Rusa bersyukur dirinya selamat dengan berpura-pura mati. Tentu ini juga karena bantuan lalat dan teman-temannya yang terbang mengelilingi tubuh rusa, sehingga siapa pun yang melihat akan mengira rusa telah mati.

Rusa merasakan perutnya lapar. Rusa melangkah untuk mencari makan. Kali ini rusa melangkah hati-hati dan waspada agar tidak terperosok ke lubang jebakan seperti tadi. (58)

Advertisements