Cerpen Jeli Manalu (Media Indonesia, 27 Agustus 2017)

Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BUTET, sepupuku memanggil dengan suara agak ditekan melalui jendela rumahnya. Ia berkata ada rahasia yang sedang gempar di desa. Diam-diam kami pergi dari pintu belakang saat Bapak dan Ibu tertidur selepas makan siang. Kami berhenti di ladang bekas panen padi. Semak mulai tumbuh. Sejenis rumput menjalar mengelilingi batang-batang jerami. Kupetik tangkai padi yang sengaja dibiarkan karena waktu itu bulirnya masih muda. Aku gemetaran melihat selembar daun merayap di punggung tanganku.

“Itu belalang,” kata Butet.

“Apa ini bukan daun?” tanyaku, merasa aneh sendiri. Ragu-ragu aku menangkapnya lalu mengarahkan bagian yang berdiri ke wajahku. Ia rupanya ada mata. Kecil. Seperti titik dua, namun pancarannya mengingatkanku pada ibu jari yang tertusuk peniti saat mengambil duri. Aku bergidik takut seakan darahku semua menuju kepala.

“Belalang,” kata Butet lagi—ia memang senang baca buku yang isinya memuat flora dan fauna.

“Belalang setan?”

Butet menatap lekat mataku. Dalam matanya kulihat yang berwarna hitam. Lebar. Di dalam warna hitam lebar itu ada dua sosok memanggil-manggil. Api bernyala-nyala mengelilingi mereka, membuat tubuh mereka bergoyang seperti terpal dihantam badai.

“Kau bisa meramal sesuatu?” aku bertanya pertama kalinya meski sebenarnya tak terlalu yakin.

“Tentu saja tidak. Kau mengenalku sejak kecil.”

Mengenai mataku yang melihat keanehan di dalam matanya, menurutnya, itu karena aku terlalu lama melihat ke arah matahari. Matahari putih yang terlampau terik, jika dipandangi tanpa pengaman bisa membuat mata memunculkan bayang-bayang. Bisa berupa balon-balon udara yang dimasuki seekor belalang. Bisa seperti ada yang berkejaran, katanya. Kupikir yang ia katakan ada benarnya. Setelah menutup mata sebentar penglihatanku kembali normal.

Advertisements