Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 26-27 Agustus 2017)

Dua Wanita dalam Lukisan Tua ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.jpg
Dua Wanita dalam Lukisan Tua ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

UNTUK seseorang yang sudah memasuki usia sepuh, Nyonya Tineke tergolong masih kuat. Ia memang sudah tak sanggup berjalan jauh dengan tubuhnya yang ringkih itu. Langkah kakinya pasti lambat bagai siput purba. Tapi dari keseluruhan dirinya masih terpancar tenaga kehidupan. Ingatannya masih sangat baik dan caranya berbicara menunjukkan ketegasan. Meskipun kecil, suaranya terdengar jelas seperti kicau burung di tengah kesunyian malam. Ketika Sirin menemuinya, wanita tua itu mengenakan kebaya dan kain batik. Perpaduan busana tersebut terlihat ganjil di tubuh wanita tua dengan kulit kemerahan dan rambut pirang sebagaimana orang Eropa pada umumnya.

Sirin menemui Nyonya Tineke atas permintaan ayahnya. Di ranjang kematiannya, ayah Sirin meminta Sirin mengabarkan kematiannya kepada Nyonya Tineke. Itu saja. Tak ada wasiat pemakaman, tak ada pula permintaan maaf. Tapi dari mata ayahnya yang sekarat itu Sirin seperti melihat sebuah kotak rahasia yang kuncinya dipegang oleh Nyonya Tineke.

Sirin tidak cocok dengan ayahnya. Meskipun ia anak bungsu, tidak ada keistimewaan untuknya sebagaimana yang konon dialami setiap anak bungsu. Bagi Sirin, ayahnya terlalu banyak mengumbar alasan untuk keadaan hidup mereka. Ibu Sirin meninggal dunia lantaran tak mendapat pertolongan yang tepat ketika melahirkan Sirin. Cerita itu didengar Sirin dari orang-orang. Setelah lulus SMA, Sirin memutuskan pergi dari rumah. Dengan bekal tabungan hasil mengerjakan ini-itu, ia menuju pulau seberang. Di pulau yang terkenal dengan keajaiban alamnya itu, Sirin merintis kariernya sebagai pelukis. Di samping itu, seperti sudah menjadi kebiasaannya untuk mengerjakan apa saja tanpa pilih-pilih, ia menjadi guide lepas, penjual aksesori, dan bahkan tukang cat. Tapi pelan-pelan ia mulai bisa hidup dengan hasil lukisannya. Namanya memang tidak pernah dibicarakan dalam diskusi maupun tulisan seni rupa di majalah-majalah. Tapi setidaknya ada saja yang meminati lukisannya.

“Jadi ayahmu sudah meninggal?” tanya Nyonya Tineke. “Benar, Nyonya. Seminggu yang lalu.” Sirin teringat, sehari sebelum ia menemui ayahnya, suatu perasaan ganjil menerpanya. Dari jendela kamar yang ia sewa bersama kawan-kawannya Sirin melihat permukaan laut berwarna putih. Ombak yang bergulung pelan membuat laut terlihat seperti kain yang ditiup angin. Sirin mengira dirinya sedang bermimpi. Sensasinya memang seperti itu. Tapi apa yang dilihatnya adalah kenyataan, meski hanya sesaat. Sebab, setelah seorang kawan memanggilnya dan ia memalingkan pandangan dari laut, hamparan air itu sudah kembali seperti biasa. Pada saat itu juga ia teringat akan ayahnya, dan tanpa pikir panjang, Sirin segera berkemas pulang. Sudah lama memang ia mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit, tapi ia selalu enggan pulang.

Seorang bujang keluar menyuguhkan teh untuk Sirin dan segelas air putih untuk Nyonya Tineke. “Anak yang malang,” kata Nyonya Tineke. Matanya menerawang sesaat, lalu ekor mata itu mengikuti gerak bujang yang kembali masuk rumah. Bujang itu punya bentuk tubuh yang ganjil. Kepalanya terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar. Wajahnya seperti adonan kue yang gagal. Rambutnya nyaris seperti tumpahan cat di kepalanya yang kecil itu. Ia senyum-senyum kepada Sirin seperti anak kecil yang malu-malu. Sirin tidak tahu apakah “anak yang malang” itu adalah dirinya atau bujang tadi.

“Suamiku mencampakkan ibunya ketika ia tahu aku mengetahui hubungan gelap mereka. Apakah ayahmu pernah bercerita tentang ibunya? Ehem, maksudku, nenekmu?” tanya Nyonya Tineke lagi. Sekarang Sirin paham, “anak yang malang” itu adalah ayahnya. “Tidak, Nyonya. Ayah tidak pernah bercerita. Saya tidak dekat dengannya,” jawab Sirin.

“Sofia tinggal bersama suamiku di rumah ini sampai menjelang kedatanganku. Sebagai istri sah, tentu aku marah saat mengetahui hubungan mereka. Apalagi Sofia sampai mengandung benihnya. Setibaku di sini, rupanya suamiku sudah mencampakkan Sofia. Tapi karena aku penasaran seperti apa perempuan yang telah memikat suamiku, diam-diam aku mencari Sofia.” Nyonya Tineke terbatuk di titik itu, tangannya yang keriput meraih gelas dan meneguk air putih sedikit. Gerakannya tenang dan terukur, bahkan dosis air yang diminumnya seakan telah diperhitungkan benar. “Oh, rupanya nenekku bernama Sofia, mungkin nama aslinya Sopiah,” batin Sirin.

“Aku menemui Sofia di sebuah rumah kecil di kampung pandai besi, ia tinggal bersama seorang perempuan yang aku tidak tahu namanya. Aku tidak mengerti kenapa, saat melihatnya, semua kemarahanku langsung luntur.” Ketika mengatakan itu, tangan Nyonya Tineke disapukan ke sekujur tubuhnya seakan-akan tangan itu adalah aliran air yang membersihkan sebuah benda. “Ada keteduhan pada paras Sofia. Caranya menatapku begitu tenang dan dalam. Matanya menyimpan pancaran yang lembut. Aku merasakan kasih sayang yang murni di dalamnya.” Nyonya Tineke terdiam sejenak, seolah menimbang bagian mana dari ingatannya yang mesti diceritakan. “Sofia tidak tampak ketakutan menemuiku,” dia melanjutkan. “Ia sepenuhnya sadar apa yang telah dilakukannya dan siap menghadapi apa saja karenanya. Ia perempuan istimewa.” Sirin merasakan nada kagum pada kata-kata Nyonya Tineke. “Setelah pertemuan pertama itu, aku selalu berhasrat untuk menemuinya lagi. Sofia adalah kawan berbincang yang hangat. Tutur katanya selalu menyenangkan. Untuk memudahkan pertemuan dengannya, aku putuskan untuk mengajak dia kembali ke rumah ini. Tinggal bersamaku dan suamiku. Rasanya memang aneh, tapi simpatiku padanya membuat aku berpikir itu tindakan yang wajar. Lagi pula, aku dan suamiku tak punya anak. Jadi kami bisa ikut merawat anaknya, toh, ehm, anak itu juga adalah anak suamiku.” Nyonya Tineke memijit-mijit lututnya, sementara Sirin membayangkan neneknya tinggal di rumah ini.

Sepertinya rumah ini tidak mengalami perubahan berarti sejak dibangun pada masa kolonial. Jangankan bentuknya, udara yang mengitari rumah ini juga terasa tua. Ketika memasukinya, Sirin merasa melewati pintu waktu dan berhenti di abad ke-19. Pada masa itu, para pengelola perkebunan datang dari Belanda. Sebagian besar dari mereka mengambil gadis-gadis pribumi sebagai pengurus rumah sekaligus teman hidup selama bertugas di sini. Biasanya gadis-gadis itu akan dicampakkan apabila istri-istri sah para pengelola kebun datang. Bahkan apabila mereka telah melahirkan anak dari para pengelola kebun itu.

Waktu Sirin masih kecil, keluarganya tinggal tak jauh dari sini. Karena itu, ketika tadi menyusuri jalan menuju rumah Nyonya Tineke, Sirin merasakan suasana nostalgia yang sendu. Di ujung jalan itu terhampar pantai di mana dulu berdiri pelabuhan. Di sepanjang sisi jalan banyak rumah dan gudang-gudang tua yang sudah tak dipakai. Ketika pelabuhan tersebut masih beroperasi, jalan ini selalu ramai. Banyak penginapan, toko, gudang, juga tempat hiburan. Pelabuhan ditutup beberapa tahun sebelum Sirin lahir. Setelah itu, kawasan tersebut berangsur-angsur ditinggalkan. Oleh perasaan nostalgis itu, satu per satu serpihan ingatan muncul dalam kepala Sirin, seperti benda-benda elektronik yang kembali mendapat aliran listrik. Sirin merasa dirinya menyusut menjadi bocah perempuan 7 tahun yang berpenampilan tomboi dan lebih suka bermain dengan teman laki-lakinya. Karena itu, ketika melihat Nyonya Tineke duduk di beranda rumahnya, Sirin tidak merasa sungkan. Dulu ia sering melihat wanita tua itu berjalan-jalan di sekitar pantai. Kadang-kadang wanita tua itu menyapanya sembari memberi gula-gula.

“Tapi Sofia menolak tawaranku, dan keputusan itu dipertahankan kuat-kuat.” Nyonya Tineke melanjutkan ceritanya. “Awalnya aku sedikit kecewa. Lama-lama aku tahu bahwa keputusan itu lebih bijaksana daripada yang bisa kupikirkan. Rumah tanggaku sebenarnya sudah terasa dingin dan hampa pada saat itu. Sementara Sofia sejak mula telah mengalirkan kehangatan kasih sayangnya padaku. Ia bisa menerimaku. Terus terang, hanya di depannya aku merasa benar-benar bebas. Rasa sayangku padanya kian besar, karenanya aku terus mengunjunginya.”

Sirin memang tidak pernah mendengar cerita tentang nenek atau kakeknya, tapi cerita yang disampaikan Nyonya Tineke sejauh ini sama sekali tidak istimewa. Tidak ada kunci rahasia seperti yang dibayangkannya. Pendek kata, Nyonya Tineke dan neneknya menjalin persahabatan yang erat. Mungkin seperti Kartini dan Stella. “Tapi tentu saja nenekku bukan pejuang emansipasi,” pikir Sirin. Setelah ayah Sirin lahir, Tineke dan Sofia terus menjalin hubungan. Bagi Sirin, wajar saja dua orang perempuan menjalin persahabatan meskipun berbeda bangsa dan kelas sosial. Tapi Sirin berpikir juga, memang ada terasa konflik dalam persahabatan itu. Bagaimanapun juga, keduanya pernah tidur dengan lelaki yang sama. Seandainya peristiwa itu terjadi sekarang, mungkin takkan mengurangi bobot konflik itu.

“Sampai Sofia meninggal, tak lama setelah ayahmu lahir,” ucap Nyonya Tineke, seolah memotong pikiran Sirin. Nyonya Tineke kembali meraih air dalam gelas dan mereguknya sedikit. Sirin, seakan baru ingat, turut menyeruput tehnya. Rasa teh itu pun menyusupkan suasana nostalgia. Sepertinya teh itu merek lama yang masih diproduksi, tapi tak begitu laku. Tiba-tiba seperti teringat akan sesuatu, Nyonya Tineke menghentikan tegukannya, “Oh iya, Sofia itu punya bakat melukis.” Paras Nyonya Tineke terlihat cerah ketika mengucapkan kalimat itu. “Benarkah, Nyonya?” kata Sirin, seperti baru mendapat jawaban atas pertanyaan yang lama disimpan. Meskipun tak terlalu peduli, kadang-kadang Sirin bertanya-tanya, dari mana dirinya mendapat bakat melukis. “Iya, di hari-hari terakhirnya ia bahkan melukis sosok kami berdua,” kata Nyonya Tineke. “Apa nenekku meninggal karena sakit?” tanya Sirin. Nyonya Tineke tak segera menjawab. Dari bibirnya yang keriput seperti keluar bunyi denging. “Dia terserang penyakit secara tiba-tiba. Tapi aku menduga seseorang telah meracunnya, dan aku curiga suamiku ada di balik semuanya. Mungkin suamiku tahu hubungan kami. Namun persoalan itu tidak pernah aku tanyakan padanya. Aku benar-benar kehilangan Sofia. Rasanya seperti kehilangan kebebasan. Ayahmu diambil oleh keluarga jauh nenekmu, lalu dibawa ke Kalimantan. Setelah dewasa, ayahmu kembali ke kota ini, menikah, dan tinggal di dekat sini.” Cerita selanjutnya bisa direka-reka Sirin. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, beberapa tahun kemudian keluarga mereka pindah ke timur pulau.

Sirin mencoba menggali hal-hal lain dari cerita Nyonya Tineke, tapi ia tak bisa menemukannya. Sepertinya cerita memang sampai di situ saja.

“Terima kasih sudah memberi kabar tentang ayahmu,” ucap Nyonya Tineke. “Aku tak punya apa-apa untuk membantu kalian, mohon maafkan.” Kalimat itu terdengar lirih dan sedih. Sirin segera menimpali, “Ah, Nyonya. Jangan berkata seperti itu. Saya cuma datang untuk menyampaikan pesan terakhir ayah saya. Kalaupun Nyonya memberi bantuan, saya akan menolaknya.” Nyonya Tineke tersenyum kecil mendengar kata-kata Sirin. Mungkin ia teringat akan penolakan Sofia di masa lalu. “Tapi ada yang mau saya berikan,” ucap Nyonya Tineke. “Mungkin tak terlalu berharga buatmu, tapi buatku, itu senilai separuh hidupku.” Lalu Nyonya Tineke bangkit dari kursi dan masuk ke rumah. Di pintu ia sedikit terkejut karena si bujang berdiri di balik pintu itu. Nyonya Tineke menggerutu dalam bahasa asing, lalu terus masuk. Bujang itu tampak malu, tapi masih sempat melirik Sirin.

Ketika kembali ke beranda, di tangan Nyonya Tineke tampak gulungan kanvas kira-kira berukuran seperempat meter. Nyonya Tineke memberi gulungan itu kepada Sirin. “Ini lukisan Sofia,” katanya. Seperti memegang benda purba yang rapuh namun berharga, dengan hati-hati Sirin membuka gulungan itu. Di atas kanvas terdapat lukisan tua yang hampir pudar warnanya. Lukisan itu sepertinya belum jadi. Figur dua orang wanita berpelukan erat. Pelukan yang biasa-biasa saja, tapi terasa sesuatu yang erotis memancar dari sana.

“Aku mencintai Sofia…,” ucap Nyonya Tineke. Suaranya seperti meresap ke serat-serat kanvas, seolah Nyonya Tineke sedang memberikan seluruh tenaga kehidupan yang tersisa dari dirinya ke dalam lukisan itu.

 

Bakarti, 2017

Kiki Sulistyo menulis puisi dan cerpen. Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Di Ampenan, Apalagi yang Kaucari? (2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Advertisements