Cerpen Sabda Langit (Media Indonesia, 20 Agustus 2017)

Tina dan Perahu Tua Ege ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Tina dan Perahu Tua Ege ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ARUS sungai bergolak kencang, suaranya bergemuruh saat jembatan papan kayu rubuh. Berapa orang anak berseragam sekolah yang baru sampai di seberang sungai, menjerit panik. Tina langsung bangun dari mimpinya. Nafasnya terasa sesak, segera ke dapur mengambil air wudhu, untuk melaksanakan salat subuh.

***

Pagi pukul 06.30 wita. Di pinggiran kota kecil, Kendari, dalam gubuk menghadap sungai, Tina sedang merajut atap dari daun nipah. Anak laki-lakinya, Ege, sedang mengiris kulit rotan untuk dijadikan pengikat atap. Mata anak itu mengamati jembatan papan yang bergetar di dera arus sungai.

“Tina!” Terdengar suara dari samping rumah. “Saya mau beli atap!” Laki-laki paruh baya mengenakan kaos biru, muncul di muka pintu. “Rumahku bocor beh…!” keluhnya.

“Mungkin sudah lapuk atapnya, Somba,” kata Tina seadanya.

“Betul mi itu!” tukas Somba, naik di atas panggung rumah Tina.

“Somba, baru lima lembar yang selesai,” kata Tina, mengikat rambutnya yang panjang dengan karet, lalu menghampar atap di lantai rumahnya. “Berapa lembarkah yang ko perlukan?”

“Hanya tiga lembar ji!” jawab Somba singkat.

“O, pilih mi kalau begitu! Saya kira banyak yang kau butuh!”

Tina berdiri membiarkan Somba memilih tiga lembar atap yang kelihatan sudah kering.

“Lima belas ribu ji toh?” kata Somba.

“Iyo, soalnya itu atap lebar,” tukas Tina.

“Saya tau ji!” balas Somba, menyerahkan uang pada Tina, lalu meloncat turun dari tangga.

“Hati-hati, Somba! Ko sudah tua mi hae itu!” tegur Tina dengan aksen Tolakiya yang kental.

“Hehehe…” Terdengar tawa Somba yang berjalan di samping rumah, dan menghilang masuk ke dalam rumahnya.

Di atas, langit terlihat mendung. Sudah berapa hari ini hujan turun terus. Biasanya dimulai dari sore dan berhenti di waktu malam. Di jembatan, berapa anak berpakaian seragam sekolah SD, melintasi jembatan dengan hati-hati sekali.

“Ina (Ibu), kenapa mereka masih jalan di jembatan itu?”

Tina menoleh sesaat, berapa lembar papan sudah bergeser miring dari tempatnya. “Mungkin mereka belum tau, Ege,” jawab Tina kemudian.

“Bahaya, Ina! Jembatan itu sudah mau rubuh!” tukas Ege, was-was melihat mereka yang sedang menyeberangi jembatan itu. “Kasihan kalau terjadi apa-apa…,” gumamnya.

Ege, sekolahnya hanya sampai di SD. Lahir di pinggir sungai Wanggu, dua belas tahun yang lalu. Amanya (Ayah) seorang Papalimbang (tukang perahu), memperoleh uang dari penumpang perahunya, dan hasilnya pas-pasan untuk makan sehari.

Saat ini Amanya Ege sudah tak ada lagi. Ombu Taala (Tuhan) sudah memanggilnya untuk selamanya. Meninggalkan sebuah perahu kecil sebagai warisan, yang sekarang digunakan Ege mengambil daun nipah, dan menyeberangkan orang dari sungai bila diperlukan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, desah Tina. Mengenang kejadian dua tahun yang lalu. Ama Ege ditemukan tak jauh dari perahunya, mengambang di sungai, mati dalam keadaan mengenaskan.

Sejak itu pula, Tina belajar mencari nafkah sendiri. Menjual atap dari daun nipah. Bila Ege tidak pergi mappalimbang, anaknya itu yang pergi mengambil daun nipah, lalu dijemurnya sampai kering, untuk dibuat menjadi atap.

Pukul 10.30. Tina melihat Ege menyambar dayung dan meloncat di atas perahu kecilnya. Sementara itu, di permukaan sungai, air mengalir begitu deras. Tina menjadi khawatir…

“Mau kemana, Ege?” teriak Tina, di antara kerasnya suara gemuruh air di sungai.

“Pancing ikan, Ina!” balas Ege.

“Adakah ikan kalau arus kencang begini?!” Tukas Tina ketus.

Ege menggaruk-garuk kepalanya, sedang berpikir mencari alasan yang kuat. “Saya mau cari daun nipah juga, kemarin saya lihat sudah banyak yang lebar!” katanya kemudian, langsung mendayung perahunya mengikuti arus sungai.

Tina tak bisa membuka mulutnya lagi, Ege sudah jauh. Di lekukan sungai yang banyak ditumbuhi pohon nipah, perahu itu menghilang. Tina hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan pekerjaannya merajut atap.

Pukul 11.30. Tina gelisah. Berapa kali kompor dinyalahkan, tapi hanya menyala sedikit lalu pelan-pelan mati. “Mungkin sumbunya basah,” gumamnya. Matanya menoleh sesaat di lekukan sungai, tempat sege menghilang tadi. Tapi belum ada tanda-tanda bila Ege akan muncul di situ.

Tina mengalihkan pandangannya ke jembatan, di bawah jembatan arus mengalir deras sekali. Berapa anak sekolah berseragam SD muncul dari balik pohon mangga, terlihat mereka jalan tergesa-gesa. Awan hitam yang tebal menebar di langit. Sebentar lagi hujan akan turun, keluh Tina.

Baru saja Tina berniat menyalahkan kompornya lagi, matanya melihat jembatan itu bergerak, dan mendengar suara papan yang patah. Hanya berapa detik saja jembatan itu sudah rubuh terbawah arus, dengan seorang anak perempuan yang baru saja akan menginjakkan kakinya di tanah, menghilang di telan sungai dalam sekejap.

“Tati…!!!” Terdengar suara ramai anak-anak sekolah menjerit panik di tepi sungai.

Tina tercekat, langsung meloncat turun dari rumahnya, berlari kencang ke tepi sungai. Matanya tajam mengawasi permukaan air, tapi tak terlihat jejak anak itu sama sekali. Tina langsung merinding. Mimpi buruknya kini menjadi kenyataan.

“Tati…!!!” Tanpa sadar Tina sudah berteriak pula menyebut nama anak itu, nama yang asing di telinganya, tapi begitu jelas dalam mimpinya.

Bersamaan dengan teriakan Tina, hujan turun seketika. Ada rasa putus asa merambat di hati Tina, pandangannya menjadi kabur oleh curah hujan yang menimpa wajahnya. Tina menjatuhkan dirinya duduk bersimpuh di tanah, membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Dengan hati yang menjerit membayangkan anak itu, saat melayang jatuh ke sungai.

Samar-samar teringat perkataan Ege pagi tadi. “Ina, jembatan itu mau rubuh. Kasihan kalau terjadi apa-apa….”

Tina langsung menghapus air matanya yang bercampur hujan. Bangun dan berlari mengikuti arus sungai lagi. menerobos masuk ke semak yang tajam, menatap sungai yang mengalir kencang, lalu berhenti dengan putus asa. Di hadapannya ada sebuah pohon bakau besar, merintangi jalannya. Tina pun mengeluh putus asa. Pencariannya terbatas sampai disitu saja.

Sementara itu, di jembatan yang rubuh, semakin banyak orang berkumpul. Seorang perempuan yang dipeluk kuat-kuat oleh lelaki yang mungkin suaminya, berontak melepaskan pelukan lelaki itu, lalu berlari ke tepi sungai, berteriak histeris memanggil anaknya.

Pukul 12. 45. Hujan mulai redah. Di ujung lekukan sungai, sebuah perahu berjalan lamban, melawan arus sungai yang deras. Ege sudah pulang. Tina mengangkat kepalanya, melihat Ege yang kepayahan mendayung perahu tuanya. Ketika perahu itu sudah dekat, Tina terhenyak. Seorang anak perempuan berseragam sekolah dengan pakaian basah, duduk di perahu Ege.

“Tati!” teriak Tina tanpa sadar. “Allahu Akbar!” teriaknya lagi, sambil melambai tangannya pada orang yang berkerumun di jembatan yang tersisa.

Suara Tina keras menggema, membuat orang yang mendengarnya, langsung berlari menyusuri arus sungai dengan tergesa-tergesa. Saat mereka tiba di tempat Tina berdiri, Tina sedang tertawa menggendong anak itu, mereka pun langsung berteriak heboh.

“Tati sudah ditemukan!” Terdengar salah seorang berteriak keras, disambut dengan teriakan ramai di jembatan rubuh. “Allahu Akbar!”

Hanya dalam sekejap, tempat Tina berdiri sudah dipenuhi orang, dan seorang perempuan yang matanya sembab karena habis menangis, mengambil alih anak itu dari pelukan Tina, lalu menggendongnya erat-erat, sambil menangis terisak-isak.

Tati sudah selamat dari amukkan sungai yang mengalir deras. Semua orang yang ada di situ, terlihat senang. Mereka melupakan Tina sesaat. Tapi Tina sudah ada di atas perahu, membiarkan Ege mendayung perahunya melawan arus, sambil membersihkan bajunya yang kotor akibat percikkan tanah liat.

“Ina, saya lihat Ama di sana tadi,” kata Ege dingin, saat mereka sudah jauh, meninggalkan kerumunan orang yang memeluk Tati secara bergantian.

Tina terhenyak!

“Ama menarik krah bajuku sampai ke darat, saat meloncat turun ke air, menyeret anak itu yang terbawa arus sungai!” kata Ege lagi, sambil mengusap air matanya.

Tina tak bisa bicara. Matanya tajam menatap Ege. Wajah anaknya itu terlihat pucat tak bergairah. Ada rasa sedih yang muncul di hati Tina secara tiba-tiba. Rasa sedih yang hampir membuat kesadarannya hilang. Sebagai ibu yang membesarkan anaknya, dia merasa, bahwa bukan Ege yang mengajaknya bicara saat ini. Suara Ege yang di hadapannya kini, adalah suara yang pernah didengarnya dua tahun yang lalu. Tina pun menjadi geram, dengan sinar mata yang dingin, dia menoleh ke lekukan sungai yang dipenuhi pohon bakau. Di sana, dia melihat Ege dan Amanya, sedang memandangnya dengan tatapan dingin pula. ***

 

2017

Penulis lepas yang menetap di Sulawesi. Sejumlah karyanya telah diterbitkan di media massa.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements