Dongeng Bisri Nuryadi (Suara Merdeka, 20 Agustus 2017)

Dinding Berdendang ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Dinding Berdendang ilustrasi Suara Merdeka

Meski sudah berbulan-bulan berlatih pencak silat, Sena masih kurang percaya diri. Ia merasa kemampuannya memainkan jurus-jurus pencak belum sempurna. Apalagi Kakek yang sekaligus menjadi guru pencaknya tidak bisa mendampingi Sena di acara Festival Tari Pencak. Sena harus berangkat sendiri.

Sepanjang perjalanan, Sena selalu bersembunyi saat berpapasan dengan teman-temannya. Sena takut ditertawakan oleh mereka. Selama ini Sena sering diejek oleh teman-temannya.

“Ah, anak laki-laki kok menari, seperti anak perempuan saja. Ah anak desa tidak mungkin bisa menang!” kata mereka.

Sesampainya di arena festival, nyali Sena semakin kendur.

“Aku tidak mungkin menang,” ujarnya lirih sambil beranjak pergi.

Sena lalu melangkah gontai menuju dinding pagar belakang kerajaan. Sena menyandarkan tubuhnya pada dinding yang kusam. Kepalanya tertunduk meratapi nasibnya. Sena merasa tak setampan peserta lain yang memakai baju mewah. Pakaian Sena selusuh karung goni. Sena khawatir dirinya tak menarik perhatian penonton. Di tengah kegalauannya, tiba-tiba Sena mendengar suara orang berdendang.

“Hei…hei…hei! Lihat ke kanan, ada ksatria tampan! Lihat ke kiri, ada ksatria pemberani! Lihat ke sini ada ksatria bersembunyi!”

Sena terkejut. Suara itu hilang, tepat saat Sena menoleh ke kiri dan ke kanan. Kepalanya mendongak, menatap ke atas dinding pagar. Tidak ada siapa-siapa. Hmmm…mungkin ia bersembunyi di balik pagar. Sena pun memanjatnya. Matanya menyapu ke segala arah. Sepi!

Sena mengempaskan kembali tubuhnya di dinding. Hatinya dongkol. Suara dendang kembali terdengar berkumandang.

“Lihat, lihat anak yang bimbang! Lihat, lihat ia berwajah muram!”

Sena kembali memandang ke sekelilingnya. Tidak ada orang berdendang.

***

“Lihat, lihatlah si pecundang kebingungan. Lihat, lihat, ia takut masuk gelanggang.”

Seperti semula, suara itu menghilang saat Sena membalikkan badan hendak memanjat dinding. Suasana di balik dinding tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda pemilik suara.

Setelah menunggu cukup lama, Sena kembali turun. Berulang-ulang Sena naik dan turun dinding saat suara dendang terdengar lagi.

“Hei, hei, hei ada pendekar berwajah muram. Hei, hei, hei semangatnya pudar, hilang kepercayaan.”

“Tunjukkan wajahmu!” teriak Sena sambil berkacak pinggang.

Dendang terdiam. Sena kesal dan melangkah pergi. Sesampainya di depan pintu gerbang kerajaan, Sena melihat dua dinding di depannya bergetar. Terdengar suara dendang yang lantang.

Sena tidak percaya. Ia mengucek-ucek kedua matanya. Tapi dinding dan suara itu tak kunjung diam. Sena memberanikan diri menyentuh dinding. Aneh! Setiap tangan Sena mendekat, dinding itu diam dan suara dendang pun menghilang.

Tak lama kemudian, Sena mendengar namanya dipanggil untuk tampil di atas panggung. Sejenak Sena terdiam, ragu.

“Pulanglah, pulang! Jangan permalukan Kakekmu tersayang!”

“Kakek,” gumam Sena lirih.

***

Sena teringat Sang Kakek yang sedang sakit. Sebelum berangkat, Kakek berpesan agar Sena tetap menari, apa pun yang terjadi. Pesan Kakek membuat keberanian Sena tumbuh kembali. Ia segera menuju panggung.

Oouch…tapi apa yang terjadi… Tepat saat Sena mendekati arena, kakinya tersandung anak tangga. Ia terjatuh di atas panggung dan ditertawakan penonton. Sena tersipu malu. Ia nyaris kehilangan keberanian lagi. Panggung terasa bergoyang dan dinding kembali berdendang.

“Aku harus konsentrasi,” batin Sena sambil memperbaiki posisi kedua kakinya.

Sena pun memulai tariannya. Saat ia menggerakkan tubuhnya, terdengar dinding berdendang memberikan pujian. Semakin keras dinding berdendang, semakin larut Sena dalam tarian.

“Lihat ksatria pemberani, menari penuh percaya diri. Gerakannya lincah, tariannya indah. Dialah yang berhak mendapat plakat emas yang mewah.”

Dinding tak lagi berdendang saat Sang Raja memberikan plakat emas kepada Sena sebagai tanda kemenangan. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton terus terdengar sampai Sena meninggalkan panggung.

Sena begitu girang dan bahagia. Apalagi Sang Raja juga memintanya untuk tampil di Pesta Panen Raya. Pada saat itu tari pencak tidak hanya ditampilkan, tapi juga kan dipertandingkan. Namun anak seusia Sena belum diperbolehkan mengikuti pencak silat karena berbahaya. Pesilat bisa terluka bahkan cedera karena pukulan atau tendangan lawan. Dalam pencak silat, seseorang harus mengalahkan lawannya untuk menjadi pemenang. Sementara dalam tari pencak, siapa yang paling baik dalam memainkan jurus-jurus maka merekalah yang menang. Dan Sena nantinya akan menari pencak silat, tanpa dipertandingkan.

Sebelum pulang Sena menghampiri dinding-dinding yang berdendang untuk mengucapkan terima kasih. Jika dinding tak berdendang, mungkin Sena tidak tampil sebagai pemenang.

Sesampainya di rumah, Sena menceritakan pengalamnnya kepada Sang Kakek.

“Mengapa dinding itu mengejek dan memujiku, Kek?” tanya Sena kepada Kakek.

“Ejekan dinding mencerminkan perasaanmu yang kurang percaya diri, sedangkan pujian itu menggambarkan kegembiraanmu saat menari. Itu adalah suara dinding hatimu, Sena,” ucap Kakek sambil memeluk Sena dengan penuh kasih sayang dan keharuan. (58)

 

Advertisements