Cerpen Faisal Oddang (Koran Tempo, 19-20 Agustus 2017)

Gelang Tali Kutang ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo
Gelang Tali Kutang ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Dia melekatkan ujung pistol di keningnya. Tangisannya belum berhenti. Air mata membelah sepasang pipinya yang tirus-legam dan mulai keriput. Sebelum pelatuk dia tarik, sebelum dia mengakhiri hidupnya, dia sadar bahwa sudah hampir sebulan pistol itu tidak berisi. Dia masih punya badik di pinggang kirinya, tetapi ….

“Saya harus menemukannya sebelum meninggal. Saya harus menepati janji saya.”

Sehari sebelumnya, dia turun gunung ketika mengetahui gerakannya resmi bergabung dengan Darul Islam Tentara Islam Indonesia. Itu bukan cita-cita perjuangannya. Dia berjuang untuk penerimaan Kesatuan Gerilya Sulawesi-Selatan sebagai tentara resmi, bukan untuk kepentingan agama tertentu.

“Saya tidak bisa menerima Sulawesi sebagai bagian Negara Islam Indonesia.”

Dia menggebu-gebu.

“Kita kekurangan makanan, persenjataan dan bahkan anggota. Kita butuh bantuan dari DI/TII di Jawa.”

Dullah, sahabatnya, kini di pihak yang lain.

“Saya tidak memaksa kalian, termasuk kau, Dullah. Saya kehilangan satu lengan saya tetapi tidak pernah saya sesali karena saya mencintai KGSS. Bahkan ketika Rahing menyerah dan turun gunung, saya tidak terpengaruh. Tetapi, keadaan tidak lagi sama,” Hamma menghela napas kemudian melanjutkan, “Kau lihat ini,” dia mengangkat senapan yang tadinya tersampir di pundak, “ketika saya melewati senapan ini, kita sudah berada di sisi berseberangan.” Kalimat itu, Hamma selesaikan dengan helaan napas yang berat disusul dengan melemparkan senapannya ke arah kaki gunung, sekuat tenaga. Belasan pasukan gerilya yang melihatnya hanya diam. Kecuali Dullah yang memberinya pelukan.

Hamma berjalan menjauh, tangan kirinya menjinjing bungkusan sarung berisi sebilah badik, sebuah pistol serta lengan kanannya yang putus oleh granat di bulan-bulan pertama dia berada di hutan-dua tahun yang lalu. Lengan itu dia bawa setiap berpindah pos. Dia sudah berkali-kali pindah karena tentara semakin nekat memasuki hutan. Lengan yang sisa tulang itu, dia kubur di pos baru dan dia gali kembali ketika harus pindah.

***