Fabel Bisri Nuryadi (Suara Merdeka, 13 Agustus 2017)

Si Cantik dan Buruk Rupa ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Si Cantik dan Buruk Rupa ilustrasi Suara Merdeka

Di depan rumah sederhana, terdapatlah bunga sepatu yang mekar di atas pot. Bunga-bunga itu tampak mempesona berwarna-warni. Ada putih, ungu, dan merah. Suatu hari datanglah si kuning, seekor kupu-kupu cantik menghampiri.

“Waahh… Bunga yang elok dan segar. Pasti banyak serbuk sari yang bisa aku makan,” ucap si kuning sembari menciumi harum mahkota bunga.

Dengan gembira, ia lalu menuju kepala sari bunga. Di situlah si kuning mendapatkan makanan tersebut.

“Lezat sekali serbuk sari bunga ini,” gumam si kuning.

Setelah perutnya kenyang, ia segera pulang. Si kuning beranggapan bunga itu bisa menjadi cadangan makanan selama sebulan. Karena itu, esoknya ia kembali lagi untuk sarapan pagi.

“Selamat pagi bunga-bungaku yang cantik,” si kuning menyapa bunga sepatu.

Lalu ia melakukan hal yang sama seperti kemarin, yaitu menuju ke kepala sari yang berada di tengah-tengah mahkota bunga dan memakan serbuk sarinya.

Belum lama makan, ia mendengar suara siulan dari bawah.

“Suiiit… suiitt.”

“Eh.. siapa yang bersiul di bawah?” tanya si kuning.

“Ini aku si coklat, kamu siapa?” terdengar jawaban dari bawah.

Karena penasaran, si kuning lalu terbang dan hinggap di kelopak bunga.

“Aku si kuning. Kamu di mana?” kata si kuning sambil turun menghinggapi setiap daun-daun hijau yang rimbun.

Akhirnya si kuning menemukan dari mana asal suara tersebut. Namun alangkah terkejutnya, karena melihat binatang yang ia anggap sangat menjijikan.

“Iiihhh.. Binatang apa kamu? Kotor dan bau,” kata si kuning sambil menutup hidungnya.

Mendengar ucapan si kuning, si coklat menjadi minder.

“Maafkan aku. Aku hanya seekor cacing,” ucap si coklat menunduk.

“Hey… Cacing coklat jelek, kenapa kamu bisa ada di sini? Ini bunga makananku. Setiap hari aku ke sini,” bentak si kuning.

Si coklat mencoba menjelaskan, namun si kuning tetap tidak bisa menerima alasan tersebut. Bahkan si kuning dengan tega mengusir si coklat.

“Cacing jelek dan bau. Kamu harus pergi dari sini sekarang juga!”

Mendengar bentakan itu, si coklat menjadi sedih dan menangis. Kemudian badannya yang panjang pelan-pelan melata meninggalkan pot dan tanah kesayangannya.

Sejak saat itu, si kuning menjadi senang karena tidak lagi bertemu dengan si buruk rupa yaitu cacing coklat. Ia pun bisa menikmati hidangan serbuk sari dari waktu ke waktu.

***

Suatu hari bunga sepatu terlihat layu. Serbuk sarinya pun menjadi hambar di mulutnya. Karena tidak kuat menahan lapar, kupu kuning segera mencari bunga yang lain. Setelah terbang ke sana ke mari akhirnya terlihat juga bunga yang sedang mekar. Namun ada kupu-kupu lain yang hinggap terlebih dulu. Kupu-kupu itu bernama si oranye.

“Perutku lapar, bolehkah aku ikut menikmati sari bunga itu?” tanya si kuning memelas.

“Maaf, bunga ini menjadi persediaan makananku setiap hari,” jawab si oranye.

“Tolonglah aku, dari pagi aku belum makan,” rengek si kuning.

Merasa kasihan, si oranye akhirnya mempersilakan tamunya untuk makan.

“Memangnya persediaan makananmu yang dulu di mana?” tanya si oranye.

“Di depan rumah ujung sana.” Tangan Si kuning menunjuk ke barat.

Si kuning melanjutkan, “Tapi beberapa hari ini terlihat layu dan tidak segar lagi. Padahal tanah dalam pot masih terlihat basah.”

Si oranye kemudian menjelaskan bahwa tanah yang hanya disiram air belum tentu subur. Tanah yang subur itu harus ada cacingnya sebagai penggembur tanah.

“Di dalam pot ini juga ada cacingnya,” lanjut si oranye.

Setelah mendengarkan penjelasan itu, si kuning menjadi sadar. Ia menyesali perbuatannya karena telah mengusir si coklat. Walaupun wajah si coklat buruk rupa, ternyata sangat berguna untuk pertumbuhan bunga sepatu miliknya.

Si kuning lalu berpamitan untuk mencari si coklat. Setelah beberapa jam mencari, ia akhirnya menemukan si coklat sedang menangis di bawah pohon tetean.

“Si coklat, maafkan aku ya,” ucap si kuning sembari memeluknya. Ia kemudian mengusap air mata si coklat dan berjanji akan menjadi sahabat untuk selamanya.

Kini si kuning menyadari bahwa dengan wajahnya yang cantik, bukan berarti harus sombong dan menjelekkan binatang lain yang buruk rupa. (58)

Advertisements