Cerpen Rika (Kompas, 13 Agustus 2017)

Pena ilustrasi Loli Rusman - Kompas.jpg
Pena ilustrasi Loli Rusman/Kompas

Subuh itu aku dilahirkan di ranjang perjudian. Orangtuaku adalah penjual lotre di sebuah kota kecil. Tante, om, tetangga, dan semua yang dekat dengan keluargaku juga senang berjudi. Saat aku lahir di sebuah rumah sakit, sebuah gelang dilingkarkan di pergelangan mungilku, sebagai tanda aku adalah anak dari ibuku. Gelang itu berisikan angka-angka. Dan semua angka-angka itu dipasang di meja lotre. Tak hanya sampai di situ saja, tanggal lahir, jam dan menitnya pun diikutsertakan. Siapa yang menyangka, mereka semua riang gembira atas kemenangan angka-angka itu. Tujuh hari berturut-turut angka-angka itu bergantian keluar menjadi pemenang. Disebutlah aku sebagai anak perempuan pembawa berkah! Saudara ayahku yang terlibat dalam salah satu keberuntungan waktu itu menceritakan padaku dengan senyumnya yang rekah dan mata yang berbinar mengingat kejadian itu.

Apakah agama mengajarkan mereka seperti itu, aku pun tidak tahu. Salah dan benar, benar menjadi salah, salah menjadi benar, kelihaian manusialah mengotak-atiknya dengan tingkah dan kata-kata, begitu susah untuk percaya pada manusia, hanya yang Maha Tunggallah yang kelak akan memberi kebenaran sesungguhnya.

Saat itu mereka memberiku nama Pena. Ayah dan ibuku berdebat mengenai arti namaku tapi sepakat atas pilihan nama itu. Menurut Ayah, Pena bisa berarti aku seseorang yang pintar menulis, termasuk menulis hidupku sendiri. Menurut Ibu, jalan hidupku sudah dituliskan, bahwa akulah pembawa keberkahan, dalam hidupku dan keluargaku. Mereka terus berdebat, padahal kedua-duanya baik menurutku. Tak ada yang keliru. Jika saat itu aku sudah mampu berbicara, maka aku akan menyela dan membuat mereka berdamai. Sejak itu aku berpikir, bahwa orang dewasa memperdebatkan hal-hal yang begitu gampang untuk disepakati, tapi mereka begitu angkuh dengan persepsi mereka masing-masing. Bagaimana nanti saat aku dewasa? Apa mungkin aku akan memperjuangkan pikiranku juga?

Musim panas berganti musim hujan, berulang-ulang demikian, tahun-tahun berganti, umurku sudah empat, dan aku mulai bersekolah. Aku disekolahkan di sebuah TK. Untuk tingkatan pertama memulai sekolah, saat itu aku ditempatkan di TK Nol Kecil, kegiatannya hanya bernyanyi-nyanyi, menari-nari, bermain-main, dan tepuk tangan, sedangkan aku tidak pandai bernyanyi, apalagi menari. Kalau bermain dan tepuk tangan aku rasa aku bisa melakukannya di rumah. Sejak saat itu aku mulai mengerti, kenapa orang dewasa senang berdebat, karena mereka memiliki kemampuan untuk berpikir. Saat otak mereka berpikir, tentunya sesuatu dari luar tidak begitu gampang dan cepat dapat diterima oleh si pemilik tubuh, yaitu pikiran itu sendiri. Maka mereka akan melakukan penerimaan atau pun penolakan. Saat sesuatu mereka rasa tidak sesuai keinginan gerak tubuh, maka ada penolakan yang besar terhadap sesuatu itu, dan itulah pertama kalinya aku tidak ingin melakukan hal yang menurutku membosankan. Aku lebih suka membaca dan menulis. Lalu karena aku pandai berunding dengan ayah dan ibu, mereka mencari akal agar aku tetap mau bersekolah.

Akhirnya orang dewasa mampu mengatasi keinginan anak kecil dengan sedikit rumit memang, mereka berdiskusi dengan sesama orang dewasa, agar memaklumi keinginan seorang anak kecil yang belum mampu berpikir dengan baik, agar menyetujui begitu saja pilihanku agar tetap mau bersekolah, bukankah mereka telah keliru menilaiku saat itu? Padahal aku rasa aku telah memikirkannya dengan baik untuk pendapatku yang satu itu. Ibu, ayah, dan kepala sekolahku yang cantik setuju, aku dinaikkan satu tingkat, aku akan masuk kelas TK Nol Besar. Kegiatannya tepat seperti apa yang aku inginkan, membaca dan menulis. Saat itu aku hanya punya tiga teman, dua perempuan dan satu laki-laki. Aku tidak suka bergaul dengan banyak orang, bahkan kadang di saat istirahat aku lebih suka sendirian. Temanku Nilam dan Lita mereka suka membicarakan hal-hal yang menurutku tak perlu untuk dibicarakan, apalagi membicarakan tentang keburukan orang lain. Sedangkan Tomi, selalu mengajak kami bermain-main di taman dan berlari-lari, aku sedikit lelah dan tak ingin bajuku menjadi basah dan bau karena keringat.

Biasanya Ayah selalu menjemput dan mengantarku sekolah. Ibu menungguku di rumah dan menyiapkan makan siang untukku sambil mengurusi jahitannya. Ibuku seorang penjahit. Ibu dan Ayah sudah berhenti menjadi penjual lotre, pekerjaan ini menurutku lebih baik.

Ada suatu hari, di mana Ayah tidak menjemputku, tapi kakak sepupuku yang rumahnya dekat dengan rumahku ditugaskan Ayah untuk menjemputku pulang dari sekolah. Ia tidak begitu tua, usianya hanya berbeda sepuluh tahun dariku. Ia menjemputku berjalan kaki, karena rumahku dan sekolah jaraknya tidak begitu jauh. Saat itu sesampainya di rumah, Ayah dan Ibu ternyata belum pulang, mereka pergi ke acara pemakaman rekan Ayah. Saat itu, Dodi menemaniku di rumah. Ia mengajakku bermain dan aku mengiyakan, ia memintaku berbaring dan ia melepas rok sekolahku. Dan sejak siang itu, aku telah kehilangan diriku sendiri. Lama baru aku tahu, apa yang ia lakukan padaku adalah memperkosa! Sialan! Sejak saat itu aku lebih pemalu dan tertutup. Aku semakin takut dekat dengan orang-orang selain Ayah dan Ibuku. Termasuk kakak laki-lakiku. Aku menjaga jarak dengannya. Tapi hidup tak pernah berhenti sampai di situ, saat kau berpikir harusnya tak ada hari esok, ternyata apalah kau manusia, tak mampu mengaturnya. Matahari tetap bersinar, dan aku pun menyambutnya.

Aku ceritakan kejadian buruk itu pada Ibu, berharap tak pernah lagi bertemu dengan sepupuku itu, tetapi anehnya aku tidak mengerti kenapa orang dewasa marah tidak pada tempatnya. Ibuku, segera memukuliku dan memandikanku, ia membersihkan seluruh tubuhku dengan kasar, dan kemudian terus memukul tubuhku, sambil air mata terus-menerus membasahi pipinya dan ia terisak-isak. Aku benci melihatnya seperti itu. Ia boleh memukulku, tetapi tidak boleh menangis. Bukankah yang bersalah adalah kakak sepupuku, bukan Ibu.

Hari-hari berlalu, aku merasakan kesepian dalam hatiku, aku mengingat kenangan yang buruk. Bagaimana bisa aku menjadi perempuan yang menarik untuk seorang lelaki? Umurku baru 4 tahun. Sebelum tidur malam, aku mencari botol susu, tanpa mengedot aku tidak akan bisa tidur. Pernah suatu malam, dotku digerogoti oleh tikus yang jahat, tapi aku juga tidak berhak mengatakan tikus itu jahat. Bisa jadi tikus itu sedang haus dan lapar, atau juga memang tempat tinggalku yang begitu kumuh. Aku tidak dapat memilih sebab mana yang membuat tikus itu menghabisi dotku. Yang jelas aku begitu tergantung pada dotku. Dan apakah wajar, seseorang laki-laki menginginkan anak kecil yang masih sangat tergantung dengan botol susunya? Dan dia pun aku rasa belum cukup dewasa untuk melakukan hal itu padaku. Aku rasa dia orang gila.

Tidak hanya kali itu aku menemukan lelaki “gila” dalam hidupku. Saat aku berumur 8 tahun, aku punya tetangga baru. Mereka semua orang dewasa. Ada satu yang paling aku benci, yang kepalanya botak dan aksen bicaranya begitu mencolok. Ia yang paling sering aku pergoki mengintipku di kamar mandi saat aku mandi. Kamar mandiku dindingnya hanya dilapis oleh seng usang yang banyak lubang-lubangnya. Kamar mandiku tepat bersebelahan dengan rumah sebelah, hanya seng usang penuh lubang itu sebagai pembatas. Aku tidak hanya diintip saat mandi, tapi juga saat buang air. Aku mendengar mereka tertawa-tawa senang dan mengataiku dari dinding sebelah. Setiap kali aku ingin mandi dan buang air tanpa suara agar tidak diintip oleh mereka, tapi bagaimana caranya?

Aku semakin bingung dan menceritakannya kepada Ayah dan Ibu. Mereka hanya tertawa dan mengatakan, “Siapa yang mau mengintip anak kecil sepertimu? Ibu saja tidak pernah diintip.” Mereka tak percaya ceritaku. Maka aku pun mencari cara sendiri. Setiap mandi aku selalu memakai baju, dan saat buang air berjongkok aku menggunakan handuk menutupi kemaluanku dari depan, yang menjengkelkan adalah, mereka memberi lubang di belakang closetku! Sialan! Aku ketakutan dan bingung. Sejak saat itu aku mengutuk para lelaki yang matanya tak bisa mereka jaga dengan baik! Aku mengutuk setiap lelaki yang menyiksa perempuan dengan matanya! Aku membenci lelaki seperti itu! Seandainya saja aku bisa membunuh semua lelaki yang mengintipku, ingin rasanya aku melakukannya, tetapi aku tidak dapat. Mereka telah mencuri hak hidupku! Yaitu kebebasanku mandi dan buang hajat. Mereka patut menderita selamanya karena mata mereka! Mata yang jahat! Mata yang telah membuat seorang perempuan menderita dan terluka!

Tapi aku manusia yang tidak akan menyerah untuk melindungi diriku. Aku terus mencari cara, hingga akhirnya satu cara yang terbaik telah kutemukan. Aku menjebak mereka. Aku pura-pura buang air. Pintu kamar mandi sengaja kubuka lebar-lebar. Saat itu beruntung sekali lubang di belakangku tempat mereka mengintip itu semakin besar dan semakin terlihat dengan jelas tidak hanya mata tapi sebagian wajah. Ibuku tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi, dan melihat mereka mengintipku juga mendengar suara mereka cekikikan! Akhirnya! Sejak hari itu, ayahku memperbaiki seluruh kamar mandi. Ibu memarahi mereka dan meminta orang-orang itu segera pindah dari tempat itu. Kalau tidak, ia akan lapor polisi. Mereka pun takut dan kemudian pindah dari tempat itu.

Itu adalah satu hari terbaik dalam hidupku. Tapi hari-hari buruk yang pernah kulalui, telah terekam selama aku hidup. Aku terus mengingatnya. Aku menjadi sangat marah dan sekaligus menabung rasa takut dalam diriku.

Apa sebenarnya arti namaku? Apakah takdirku begini sialnya?

Saat aku duduk di bangku SMP ketakutanku terhadap laki-laki semakin menjadi-jadi. Aku merasa lebih aman dekat dengan perempuan. Bagiku lelaki punya senjata tajam yang tiap saat bisa saja sangat melukaiku. Aku memutuskan sejak hari itu ingin jatuh cinta pada perempuan saja. Dan aku berhasil membuat diriku menjadi seorang lesbian. Lama aku hidup dalam kekeliruan besar itu, hingga suatu hari aku merasa agama dan adat tak mengajarkan demikian. Setajamnya senjata laki-laki bagiku pada akhirnya aku tetaplah perempuan yang membutuhkan semua itu. Semakin dewasa dan berpengetahuan, aku menyadari segala hal itu. Hingga akhirnya aku berusaha membebaskan diriku dari belenggu ketersesatan ketakutanku sendiri.

Aku ceritakan pada ibuku. Dia memelukku. Suatu hari, saat aku dinyatakan lulus dari SMA, Ibu memberi tahu aku harus menikah untuk menjadi perempuan normal dan hilang dari rasa takutku. Seorang laki-laki yang baru saja bercerai dengan istrinya ingin melamarku. Ibuku menerimanya berdasarkan beberapa pertimbangan, aku pun tak jua menanyakan apa pun selain menyetujuinya. Aku ingin mengikuti segala keinginan Ibu dan ada dendam yang harus diselesaikan. Lelaki itu bernama Dodi. Malam pertama aku tak lagi menikmatinya, aku ingat rasanya sama seperti 13 tahun yang lalu, saat aku masih TK. Hanya saja kurasakan tubuhnya yang lebih besar dari yang dulu, karena ia orang yang sama, orang yang telah mencuri keperawananku sebelum waktunya. Seandainya dia sedikit bersabar, aku mungkin akan jatuh cinta tanpa rasa takut. Tapi tak apa, ada sebilah belati yang telah kuselipkan di bawah bantalku, yang sudah kuasah seminggu terakhir. Aku yakin belati itu sangat tajam, akan mampu memusnahkan dendamku.

 

Rika, menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Peserta Kelas Cerpen Kompas 2017 dengan mentor Linda Christanty, Joko Pinurbo, dan Putu Fajar Arcana. Beberapa buku karya Rika adalah Kertas Bintang (kumpulan cerpen dan puisi-2011), Istri Muda (novel-2016), Jane Fara (novel pada tahun 2017), dan Matahari dalam Hujan (antologi puisi-2017).

Advertisements