Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 12-13 Agustus 2017)

Surat-surat Lenin Endrou ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo.png
Surat-surat Lenin Endrou ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Aku telah hidup lebih dari lima tahun bersama seorang wanita yang membuat kuyakin bahwa ada sesuatu yang tak dapat diungkapkan di balik semua yang dapat kita lihat. Veronika bagaikan teori dasar pengetahuan yang maha besar yang tak dapat kutemukan namanya. Dirinya membuat aku terus bertanya akan rahasia alam semesta, membuat aku menginginkannya lagi dan lagi hingga ia juga melihat dunia yang mungkin dihuni olehnya di dalam diriku. Kami terus berusaha menjaga gejolak itu tetap pada tingkat yang memabukkan hingga aku dan Veronika tak menyadari betapa membosankannya hidup kami, karena waktu berlalu dan sesuatu yang menyenangkan menjadi rutinitas semata.

Veronika selalu bangun lebih awal dariku, ia akan membangunkanku dengan cara yang sama; senyumnya yang hangat dan aroma kopi di pagi hari. Tak ada yang perlu kukhawatirkan, setelah selesai dengan teh hangat dan roti di meja makan, Veronika akan bergegas melewati beberapa blok perumahan menuju halte bus. Dari sana ia naik bus hingga pusat kota, turun pada pemberhentian bus yang tak jauh dari patung bergaya surealis yang tak dapat kugambarkan bentuknya. Dari patung itu ia harus melewati beberapa kafe dan sebuah toko buku yang selalu terlihat hangat dengan cahaya kuning kecokelatan. Sebelum tiba di gedung tempatnya bekerja, Veronika akan melewati kedai es krim yang tidak terlalu luas. Jika aku dapat menyelesaikan pekerjaanku lebih awal, aku akan menjemput Veronika dan menghabiskan beberapa waktu di kedai es krim tersebut. Pistasio dan kayu manis adalah rasa kesukaanku.

Pagi ini Veronika membangunkanku. Aroma kopi meruap di udara, aku menatapnya dan ia tersenyum. Setelah Veronika menyelesaikan sarapan, ia menciumku dan bergegas melakukan rutinitasnya. Aroma parfumnya yang lembut menggantung di udara dan tak mau pergi. Aku mengikuti Veronika dengan mataku, mengantarnya hingga menghilang di balik pintu. Satu minggu yang lalu aku tak sengaja masuk ke dalam ruang kerja Veronika—di rumah kami memiliki ruang kerja masing-masing—beberapa surat tergeletak dekat tempat sampah. Awalnya tak ada yang menarik dari tumpukan surat itu, semua amplopnya berwarna serupa dan jumlahnya cukup banyak. Aku khawatir mungkin Veronika memiliki pinjaman di bank atau suatu beban yang tak ingin ia beritahukan kepadaku. Akhirnya aku memungut surat-surat itu, meski aku tahu perbuatan ini tidak sopan, tapi tak akan kubiarkan rasa ingin tahu membunuh apapun. Terlebih lagi mengganggu Veronika. Tak ada keterangan nama bank atau apapun. Tanpa berpikir panjang aku buka satu amplop. Tampak tulisan tangan yang rapi dengan garis yang ditarik menyamping. Surat itu diawali dengan nama Lenin Endrou di pojok kanan atas, isinya cukup membingungkan. Surat pertama yang aku baca berisi pembahasan tentang gangguan tidur:

“Nona, apakah kau memiliki gangguan tidur? Hal itu sering terjadi pada manusia di dunia ini, ya. Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama hidupnya. Ada sekitar 17% orang dewasa memiliki gangguan tidur yang serius. Jika kau mengalami gangguan tidur percayalah bahwa itu terjadi karena kau telah menjadi orang dewasa. Aku mengatakan ini karena Kaplan dan Sadock menuliskannya di dalam buku mereka. Jika kau mengalami gangguan tidur kau tak perlu khawatir, mungkin itu bukan hal yang serius, kau hanya perlu melihat kembali apa yang mengganggu tidurmu. Di sini beberapa orang mengalami gangguan tidur karena persoalan psikiatri, depresi, dan dimensia.”

Lenin menulis banyak hal tentang gangguan tidur dalam surat itu, mulai dari penyebabnya, persentase penderita gangguan tidur, klasifikasi gangguan-gangguan tidur, dan cara mendiagnosis gangguan tidur yang dapat dilakukan secara pribadi. Selain itu, ia tak lupa menjelaskan tahapan-tahapan tidur. Pada bagian Non Rapid Eye Movement (NREM) tahap ketiga ia selalu melihat mimpi-mimpi yang sama, di mana ia mengawasi Veronika melalui jendela persegi yang menggantung di atas kamarnya. Kemudian dengan kikuk ia mengatakan, “Nona, itu hanyalah sebuah mimpi. Kau tak perlu khawatir akan hal itu. Semua orang pernah bermimpi, maksudku bermimpi saat tertidur. Kau tak perlu khawatir, tentu aku tak akan mengganggu tidurmu seperti kau mengganggu tidurku.”

Di suratnya yang lain Lenin berbicara tentang tanaman, hewan, dan manusia.

“Nona, kau pasti telah banyak mendengar ocehanku tentang hal-hal yang tak masuk akal. Maafkan aku. Kali ini marilah kita berbicara tentang “kita”, maksudku kita sebagai makhluk hidup, kita manusia, hewan, dan tumbuhan, tahukah kau bahwa tanaman juga tertidur? Ya, mereka juga tertidur seperti kita, tapi aku ragu apakah mereka bisa bermimpi atau apakah mereka memiliki gangguan tidur. Lalu apakah yang bisa membangunkan tanaman dari tidurnya? Tahukah kau bahwa tanaman juga memiliki Ritme Sirkadian mereka sendiri? Ya, mereka memiliki Ritme Sirkadian tanaman, sebuah siklus fisiologis harian, ritme ini mencakup tidur/bangun, suhu tubuh, tekanan darah pada manusia. Pada tanaman dan hewan hal ini juga berlaku. Jika ada ritme, tentu saja harus ada yang menyesuaikan, bukan? Ritme Sirkadian pada semua makhluk hidup juga disesuaikan oleh faktor eksternal yang lebih banyak dikenal dengan istilah Zeitgebers. Kau pasti tahu bahwa banyak hal yang dapat mempengaruhi ritme ini pada manusia. Tapi hanya ada satu hal yang dapat mempengaruhi ritme ini pada semua makhluk hidup, yakni cahaya. Ya, kita semua membutuhkan cahaya. Selain berbagi air, udara (oksigen dan karbondioksida), dan tanah, kita juga harus berbagi cahaya. Selain tumbuh, bermetabolisme, berkembang biak, kita juga memiliki Siklus Endogen yang sama. Oh bukankah itu menakjubkan? Betapa kita dekat satu dengan yang lainnya.”

Walaupun isinya selalu berubah, ada beberapa hal yang selalu sama dari surat-suratnya. Lenin selalu mengawalinya dengan beberapa baris yang sama, “Selamat pagi, Nona. Dari balik jendela persegi ini aku dapat melihatmu. Kau tampak baik, semua yang ada di sekitarmu baik. Jiwa dan ragamu baik, dan tentu saja aku berharap kau baik-baik saja.” Dan ia juga selalu mengakhiri suratnya dengan kalimat yang sama, “Masih banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu, tapi sudah saatnya obat-obat diedarkan. Obat harus masuk ke dalam tubuh yang sakit. Lampu juga harus dimatikan. Aku akan memikirkan hal yang lebih menarik untuk kuceritakan padamu.”

Tanpa sadar aku jadi menikmati surat-suratnya. Beberapa kali aku mengisi kembali gelas kopiku. Banyak hal yang menarik perhatianku. Selain isinya yang tak pernah kuduga, caranya menyampaikan rasa sungkannya juga cukup mengherankanku. Caranya menjelaskan apa yang ingin disampaikannya, kadang terasa bagaikan seorang anak laki-laki yang baru belajar menjabarkan bentuk sebuah pesawat terbang. Namun tak jarang ia juga menulis dengan sangat indah, layaknya seorang filsuf yang telah bertahun-tahun merenungkan kehidupan dan tak bisa bebas darinya.

Saat sedang berjalan sore hari kata-kata Lenin berputar di dalam pikiranku. Di salah satu suratnya ia mengatakan bahwa Veronika tak pantas disandingkan dengan kecantikan apa pun yang ada di alam semesta ini. Ia mengatakan bahwa tak perlu dekat dengan keindahan Veronika karena ia bisa menikmati keindahan itu dari balik jendela persegi. Menurutnya, tak ada gunanya berada di tempat yang indah jika kita berada di sana tidak untuk menikmati keindahannya.

Sekarang aku memegang satu-satunya surat yang belum kubaca,

“Nona, sekarang aku ingin berbicara tentang mereka yang ada di sekitarku. Banyak orang baik yang mengelilingiku, sungguh. Mereka para dokter dan perawat yang hangat dan perhatian. Tapi aku tahu, kadang mereka bosan dan marah. Di sini banyak orang yang memiliki gangguan atau tepatnya pengganggu yang membuat mereka unik atau keluar dari kenormalan. Seseorang yang tidur di sebelahku misalnya. Setiap hari ia hanya berbaring dan meyakini dirinya telah mati. Hidup menurutnya adalah ilusi yang menyiksa, ia selalu berkata bahwa ia ingin kebohongan hidup lenyap dari tubuhnya dan membusuk selamanya. Tapi perawat merawatnya dengan baik. Tak pernah kuhirup aroma busuk dari tubuhnya. Sungguh ia adalah kematian yang hidup. Menyenangkan memiliki teman sepertinya. Ia tak banyak bicara dan tak pernah berbicara tentang keindahan hidup, hingga ia tak pernah terlihat terganggu dengan penderitaan yang diderita orang lain di sekitarnya. Ia tak mengada-ada akan kematian yang ia yakini. Para dokter menyebut gangguannya sebagai Sindrom Cotard. Ada lagi yang menarik di sini, apakah kau pernah mendengar Sindrom Klinefelter? Jika kau belum pernah mendengarnya, aku akan dengan senang hati menjelaskan ini kepadamu. Kau boleh pergi menuangkan kopi lagi ke dalam gelasmu jika kau mau. Baiklah, aku lebih suka menyebut ini sebagai kreativitas dari rekombinan kromosom dalam tubuh penderita. Laki-laki normal memiliki kromosom XY di dalam tubuh, sedangkan wanita XX, aku yakin kau telah mengetahui ini kan? Lalu apa yang terjadi pada penderita di sini? Mereka memiliki kromosom yang lebih banyak, XXY. Tahukah kau apa yang terjadi akibat satu tambahan kromosom itu? Ya, tubuh laki-lakinya akan memiliki payudara—maafkan aku—, ya itulah yang terjadi. Kemudian kesehatannya akan terpengaruh karena hormon-hormon reproduksi yang begitu penting bagi tubuhnya akan terganggu juga. Terganggunya sistem hormon dapat mengakibatkan penyakit lain yang bahkan lebih buruk, seperti dimensia, misalnya. Oh Nona, begitulah dunia yang ada di hadapanku. Begitu indah dan berwarna. Mungkin saatnya untuk tidur sekarang. Aku akan tidur, tentu saja.”

Surat terakhir Lenin tidak berbunyi serupa dengan suratnya yang lain. Setelah surat itu, tak ada lagi surat dengan amplop yang sama seperti yang kutemukan sebelumnya. Aku bertanya-tanya apakah ia lelah karena tak pernah mendapatkan balasan dari Veronika? Kemudian aku putuskan untuk mencarinya. Kuperhatikan setiap detail pada amplopnya dan menemukan lambang rumah sakit yang kutahu berada tak jauh dari tempat Veronika bekerja.

Saat berada dalam bus aku tak dapat menjelaskan dengan pasti apa yang sedang aku rasakan. Aku berdebar dan tak tahu harus mengatakan apa jika Lenin menemuiku. Haruskah aku mengaku bahwa aku membaca semua suratnya dan aku sangat menyukai semua yang dibicarakannya? Bus berhenti tepat di mana Veronika biasanya mulai berjalan dan mengitari patung bentuk surealis yang masih tak dapat kugambarkan bentuknya itu. Dari sana aku memutar dan mengambil jalan bercabang dan melihat sebuah jendela besar menghadap gedung tempat Veronika bekerja.

Seorang perawat menyambutku dengan ramah. Kukatakan padanya bahwa aku mencari Lenin Endrou. Raut wajah perawat itu berubah dan menyarankan aku untuk bertemu dokter di lantai yang lebih tinggi. Setelah cukup lama menunggu, dokter itu mempersilakanku masuk. Ia berbicara banyak dan menjelaskan padaku bahwa Lenin adalah laki-laki baik. Sindrom Klinefelter telah membunuhnya satu minggu yang lalu. Aku tercengang mendengar itu.

Senja sudah turun saat aku menaiki bus kembali ke rumah. Di dalam bus aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku merasa kehilangan seseorang dan entah bagaimana itu membuatku sedih. Saat tiba di rumah aku melihat Veronika memasak untuk makan malam kami. Ia tersenyum, cantik seperti biasanya. Wajahnya menambah berat perasaanku. Apa yang harus kulakukan dengan-surat-surat Lenin? Dengan perasaan cintanya kepada Veronika yang begitu lembut dan terhormat? Kesedihan membuncah dalam hatiku. Aku memeluk Veronika dan menangis di pundaknya.

 

Maywin Dwi-Asmara lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Tahun 2014 mendapat research fellow dari universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset.

Advertisements