Cerpen A Warits Rovi (Media Indonesia, 06 Agustus 2017)

Burung-burung Ababil di Langit Kota ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Burung-burung Ababil di Langit Kota ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ARDI kembali menyingkap gorden, kaca jendela yang transparan menampakkan lanskap langit malam dengan bulan sabit yang temaram dikepung jutaan bintang, di atas rerimbun hitam pepucuk daun dan ujung tower, di atas gedung-gedung pongah yang bertanduk penangkal petir.

Seperti malam-malam sebelumnya, Ardi mendekatkan wajahnya ke kaca jendela sembari mendongak. Bola matanya lirik tajam ke atas, seperti sedang mengamati sesuatu di bentang langit. Ia lebih dekat lagi ke jendela, hingga keningnya menyentuh kaca. Beberapa saat kemudian, apa yang ia tunggu benar-benar datang; sekawanan burung yang paruhnya menjepit bara, terbang melesat-lesat di atas tiang listrik, kadang lebih tinggi hingga di atas lantai teratas sebuah apartemen. Kadang menukik dan terbang rendah di antara pohon-pohon di taman kota. Semua itu Ardi lihat dari balik jendela kamarnya sejak tiga malam sebelumnya.

Ardi lekas menutup gorden, ia balikkan badan, bersandar gemetar ke tembok, seraya meraba dadanya yang dipatuk detak jantung sangat kencang. Ia ketakutan. Wajahnya pucat dan keringatnya memburai ke setiap lekuk tubuhnya. Jam menunjukkan pukul 23.00. beruntung keadaan tak begitu sunyi, karena di kamar ibu Ardi yang bersisian dengan kamarnya, masih terdengar hentak musik hard rock beserta denting gelas dan tawa-tawa lepas. Udara bau alkohol, mungkin dari percik salinan botol bir ke gelas-gelas yang baru saja Ardi dengar dari kamar sebelah. “Ibu masih melayani tamunya,” gumam Ardi ditingkah suara detak jarum jam, dan klakson kendaraan yang masih terdengar sesekali.

Tangan Ardi kembali menjimpit sudut gorden, ia bermaksud menyingkapnya untuk melihat burung-burung ajaib itu sekali lagi. Tapi sejenak ia terdiam, pikirannya bertarung antara takut dan penasaran. Akhirnya ia lepas jimpitan gorden itu, berjalan setengah tertatih menuju ranjang. Sambil duduk di tubir ranjang, ia teringat cerita guru ngajinya, Kiai Maskur;

“Abrahah dan bala tentaranya yang mengendarai gajah adalah contoh di antara kaum jahiliah. Mereka hendak menghancurkan ka’bah. Tapi Allah mengutus burung ababil untuk menghancurkan mereka. Burung ababil itu mengambil kerikil neraka Sijjil yang membara, lalu dilontarkan ke pasukan Abrahah, hingga semuanya terkapar tewas dan luluh-lantak seperti daun-daun yang dimakan ulat. Peristiwa itu diabadikan Allah dalam surat al-Fiil,” tutur Kiai Maskur suatu saat—di petang lengang menuju isya, ketika Ardi dan teman-temannya selesai mengaji. Cerita itu kini bagai kecambah menemu hujan di kepala Ardi. Tumbuh, berputar-putar, menari-nari, membentuk sebuah opini di sel otaknya.

“Aku yakin burung yang sering terbang malam-malam membawa bara api di langit kota ini adalah burung ababil,” ucap Ardi pelan, bersamaan dengan suara derit pintu kamar yang didorong dari luar, Luna, ibu Ardi berdiri di pintu, rambutnya terurai keperakan disorot cahaya lampu, bedak dan lipstiknya masih kental, seirama dengan baju dan celananya yang begitu nicis seperti anak muda, dan seorang lelaki berjaket hitam berdiri di belakangnya dengan lotot mata lurus ke dalam kamar.

“Mengapa kau belum tidur, Ardi?”

“Oh, belum ngantuk, Bu.”

“Ayo sekarang cepat tidur! Ibu pergi dulu.”

Lalu terdengar suara keras daun pintu yang ditutup. Beberapa saat disusul suara motor dinyalakan, menjauh dari halaman, Ardi kembali ke jendela, menyingkap gorden, ia melihat ibunya dibonceng lelaki itu di jalan utama, menuju arah barat. Tanpa ia sadari, seketika mata Ardi melihat kembali burung-burung pembawa bara api itu masih beterbangan di langit kota. Ardi menutup gorden. Ia balik menuju ranjang dengan langkah yang cepat. Rebah sambil memeluk bantal. Bocah seperti dirinya yang semestinya harus tidur dalam peluk ibu, telah berjuang melawan kerasnya hidup sendirian. Ia berandai, jika ayahnya ada, mungkin akan tidur bersama ayahnya ketika ibunya tiada, apalagi di saat-saat rasa takut datang seperti malam itu, hanya saja ia tidak tahu ayahnya siapa dan ke mana, setiap ia menanyakan itu kepada ibunya, jawaban yang didapat hanya bentakan kasar dan sepasang mata yang melotot murka.

Ardi memejam mata sambil berdoa agar burung itu tak melontarkan bara api ke kotanya.

***

Sepulang sekolah, Ardi duduk di teras rumahnya—sambil menunggu ibunya bangun, memandang bentang jalan raya yang dipijak gedung-gedung bertingkat dengan banjar papan reklame dijambak terik matahari. Udara kota yang panas tetap tak mampu mengusik tidur ibunya yang masih mendengkur di kamarnya.

Ardi alih mengamati keadaan rumah yang masih acak-acakan. Sampah dan botol bekas berserakan, tumpukan pakaian sesak di bak karet, putung rokok berserakan di lantai, padu dengan plastik bungkus snack yang berhambur di mana-mana. Begitu yang ia temui setiap hari, tamu ibunya selalu menyisakan sampah dan hal lain yang tak menyenangkan. Kadang Ardi bertanya dalam hati “Kenapa ibunya selalu kedatangan tamu setiap malam? Apa sebenarnya pekerjaan ibunya itu?” Tapi ia tak berani mengutarakan tanya itu lagi, setelah bibirnya terluka lagi oleh hak sepatu yang sengaja dipukulkan oleh ibunya beberapa waktu lalu, saat dirinya bertanya tentang itu.

“Jika ibu tidak melayani tamu-tamu itu, kita tidak bisa makan,” tukas ibunya terakhir kali setelah ia berhasil melukai bibir Ardi dengan sepatunya. Matanya terbelalak penuh ancaman.

Sejak saat itu Ardi hanya bisa menangis, mengelus dada, pasrah pada jalan hidupnya yang serba tak jelas itu. Setiap hari ia hanya bisa berdialog dengan batinnya sendiri; bahwa ia seperti anak buangan, ia tidak tahu asal-usulnya, yang ia ingat tiba-tiba tumbuh menjadi bocah di tempat itu, di tempat yang selalu bau alkohol, yang selalu didatangi laki-laki, yang selalu ramai dengan hentak musik hardrock dan denting gelas, yang aturannya ketat dalam soal sekat tak boleh berkumpul antara ibu dan anak, kecuali hanya pada saat makan, itu pun bila ada nasi. Beruntung ibunya masih sedikit baik hati, Ardi disekolahkan dan diberi kesempatan mengaji di musala Kiai Maskur. Di sanalah ia bisa meneguk air sejuk kehidupan ketika ia berinteraksi dengan teman-temannya. Walaupun tetap ada satu hal pahit yang tersisa; teman-teman Ardi tidak sudi bila diajak bermain ke rumah itu karena alasan kotor, jijik, tempat pelacur.

Setelah ibunya bangun dan membuka pintu, wajah murung Ardi berubah agak binar, sesungging senyum membuat baris giginya tampak begitu putih. Ia tak sabar untuk bercerita tentang burung-burung pembawa bara api kepada ibunya, ia berharap semoga ibunya mau mendengar cerita itu baik-baik, tidak seperti teman-temannya di sekolah yang malah menertawakan Ardi, karena ceritanya dianggap lelucon. Ia berharap ibunya akan merespon positif cerita Ardi, sehingga malam-malam berikutnya Ardi tidak lagi ketakutan dengan peristiwa ajaib itu.

Ibu Ardi sudah duduk di sebuah kursi, sepasang kakinya berselonjor ke atas meja, punggungnya rapat bersandar, sengaja mengulur posisi kepalanya agar nyaman seperti tengah berbantal, hingga rambutnya menjuntai ke belakang kursi, ujungnya hampir menyentuh lantai. Mata ibu Ardi kembali dipejamkan, seolah ia ingin tidur lagi dalam posisi duduk. Tapi kemudian mata itu terbuka, sedikit memicing. Wajahnya masih kusam belum tersentuh air.

Ardi memberanikan diri mendekat dengan langkah pelan, duduk di kursi yang ada di samping ibunya, tangannya labuh di betis ibunya, memijatnya pelan-pelan. Ibunya mengangguk-angguk menandakan suka.

“Bu! Ardi menyaksikan peristiwa yang harus saya ceritakan kepada ibu.”

“Apa itu?”

Sejenak Ardi terdiam, mengalihkan pandangannya ke beberapa sudut, rasanya ia berat untuk menceritakan peristiwa itu.

“Tadi malam saya melihat burung-burung membawa api, terbang di langit kota ini,” kata Ardi sambil menatap wajah ibunya. Sedang ibunya seperti tertampar, ia tersinggung dengan cerita Ardi. Wajahnya memerah. Giginya rapat bergemeretak. Tangannya mengepal kuat.

“Terus?” ia masih bisa menahan amarah.

“Burung-burung itu datang setiap malam, Bu..”

“Pyarrr!”

Tamparan keras tangan sang ibu mendarat di pipi Ardi saat ia tak tuntas bercerita. Ardi tersentak diam—tertunduk. Ibunya berdiri dengan wajah beringas dan menakutkan.

“Kau juga berasal dari burung itu, anak jadah! Kalau ibu tidak kedatangan burung-burung itu, kita pasti tidak punya uang. Kau bisa makan dan sekolah, karena orang pemilik burung itu memberi uang kepada ibu, tentu setelah ibu melayani burungnya. Awas! Jangan kau ulangi cerita itu!” ancam ibunya, sambil melengos pergi. Sementara Ardi semakin tidak paham dengan kata-kata ibunya. Rupanya mereka punya pemahaman beda dalam mengartikan burung.

***

Dini hari Ardi terbangun. Ia tidak bisa tidur lagi meski sekuat mungkin berusaha untuk memejamkan mata. Malam teramat senyap, angin bergelesar, menggesek kaca jendela dan di kamar ibunya, terdengar suara lirih dan desah yang berulang.

Malam itu Ardi teringat lagi kepada burung-burung ababil yang suka terbang di langit kota. Akhirnya ia turun dari ranjang, antara takut dan penasaran, ia beranjak ke jendela, menyingkap gorden, mendekatkan wajahnya ke kaca sembari melirik ke atas. Betapa Ardi sangat terkejut, di bawah cahaya purnama, tepat di atas atap rumahnya, ia melihat puluhan burung-burung pembawa api itu terbang berputar-putar, seolah hendak menjatuhkan api itu ke rumah Ardi.

Ardi ketakutan, berlari cepat keluar kamar, menuju kamar ibunya dengan panik. Tapi pintu kamar ibunya terkunci. Ardi menjinjit hingga kepalanya setara jendela, ia ingin mengintip ibunya melalui jendela, dari jendela yang kebetulan gordennya tersingkap itu, Ardi melihat ibunya sedang memegang seekor burung, berbulu hitam.

Ardi semakin terkejut dan ketakutan, ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, napasnya tersengal-sengal, dadanya naik-turun. Setelah melihat kejadian itu—sebagai bocah yang sudah kelas VI SD—ia mulai tahu siapa ibunya itu, dan siapa dirinya.

“Pantas burung-burung ababil itu datang lagi, karena kehidupan jahiliah lagi,” ucap Ardi pelan, bersamaan ketika seorang lelaki keluar dari kamar ibunya, sambil merapikan ikat pinggang.

 

Dik-kodik, 07.17

A Warits Rovi ialah guru bahasa Indonesia di Mts di Sumenep, Madura. Sejumlah karyanya telah dimuat di sejumlah media massa.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements