Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 06 Agustus 2017)

Asam Garam ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Asam Garam ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

MASAKAN istriku selalu asin dan di warung kopi orang-orang ngomong soal harga garam bakalan naik. Aku tidak mau ambil pusing dengan obrolan mereka. Yang lebih kupikirkan istriku. Dia minta aku nikah lagi.

Kopiku datang dan alasan istriku seperti dibuat-buat. Tapi, selama ini dia adalah orang yang paling serius. Dia bahkan sudah memberiku berbagai tawaran perempuan-perempuan yang layak dimadu.

Saat awal kenal dan dia tidak tahu seperti apa pohon kacang panjang, maklum tinggal di kota besar, dan kukatakan pohonnya seperti pohon ketapang, menggelantung kacang panjangnya, dan dia percaya. Waktu sudah menikah dan ke desa, ibuku mengajak istriku memetik kacang panjang. Bersikap sebagai menantu yang baik, bekerja sebelum diperintah, istriku siaga membawa tangga. Buat apa? Tanya ibuku.

Istriku bilang bahwa kataku kacang panjang pohonnya tinggi seperti ketapang.

Ibuku, antara haru, lucu, dan tentu saja jengkel padaku yang bercanda pada orang seserius istriku. Pohon kacang panjang itu merambat, lalu dirambatkan di bambu-bambu setinggi tubuhmu, jadi tidak perlu anak tangga, kita lihat saja, kata ibuku kemudian.

Meski begitu, istriku tetap saja serius menanggapi semua hal dariku berikutnya. Terlalu banyak kalau harus kuceritakan padamu. Yang paling terkini, waktu masakannya terasa selalu asin, bahkan asin sekali.

Solusinya sederhana, kataku, jangan pakai garam. Selama beberapa hari, kami masak tanpa garam, eh, tetap saja asinnya bukan kepalang.

“Mungkin aku pengen nikah lagi, jadinya selalu asin seperti ini,” jawabku sekenanya.

“Memang begitu, ya?”

“Mitosnya orang Jawa begitu. Kalau waktu pacaran, katanya pengen nikah, kalau sudah nikah tetap saja asin terus, artinya pengen nikah lagi.”

“Kalau begitu, Mas harus menikah lagi,” ujarnya serius yang kukira sebenarnya hanya pura-pura.

Aku sudah melupakannya dengan mengemasi barang-barang yang besok pagi harus kukirim pada pembeli. Banyak yang pesan lemari model bongkar pasang. Lama-lama, kupikir, semua benda bisa dibongkar pasang dengan mudah termasuk sandal dan sepatu. Istriku muncul dari dalam kamar. Dia masih memakai mukena. “Aku sudah shalat istikharah, Mas, hatiku mantep, Mas harus menikah lagi.”

Aku mulai curiga bahwa dia benar-benar serius. Kecil kemungkinan orang seperti dia bercanda setelah shalat. Apalagi, bercanda dengan membawa-bawa shalat. Kuhalau pikirannya. Kubilang, tadi aku hanya bercanda. Apa kita yang berpendidikan percaya pada mitos?

Soal asin itu tidak masalah, aku bisa menambahkan gula yang banyak setelah itu, meski rasanya menjadi tidak karuan, tidak apa-apa, atau kita bisa beli sayur matang di warung. Jadi, di rumah cuma masak nasi.

“Tapi, Mas, apa kata tetangga kalau kita beli sayur matang di warung untuk selama-lamanya.”

“Kalau begitu cukup satu tahun atau setengah tahun saja belinya, sambil kita pikirkan jalan keluar yang lain, selain menikah.”

“Tidak bisa, Mas, di masa depan apa kata anak-anak kita. Lagi pula, bagaimana kalau ada tamu, ada saudara, kemudian menginap, atau perlu dijamu, kita perlu masak. Apa kata mereka kalau masakanku sangat asin. Mas sendiri yang malu. Mas akan dituduh gagal mendapat istri terbaik. Aku juga akan gagal menjadi istri terbaik. Mereka akan pulang dengan gosip yang cepat menyebar. Sampai akhirnya, saudara yang lain dan teman-teman Mas tahu bahwa aku ini sangat kurang sebagai perempuan. Padahal, perempuan harus bisa masak sebaik-baiknya. Minimal tidak terus-menerus keasinan. Omongan mereka akan lebih menyakitkan hatiku dibanding Mas harus menikah lagi, hingga penyakit masak asinku hilang, Mas.”

“Coba berpikirlah dengan tenang. Itu hanya rasa takutmu. Aku bisa masak sendiri. Bisa juga masak untuk keluarga, saudara, atau teman yang datang.”

“Tidak, Mas. Lebih baik aku berbagi suami daripada berbagi penderitaan sama orang-orang lain.”

“Jangan bicara begitu. Cobalah berdoa lagi.”

“Iya, Mas, serius. Belum lagi, ayah Mas, mertuaku sendiri yang kucintai, punya penyakit darah tinggi. Ini maaf, lho, Mas, tapi harus kusampaikan sebagai waspada, bagaimana kalau pas berkunjung, mencicipi makananku, lalu darah tingginya naik dan berbahaya bagi jiwanya? Aku tidak mau jadi menantu durhaka, Mas. Pikirkanlah baik-baik.”

Aku berpikir di warung kopi dan orang-orang ngomong harga garam. Istri satu saja susah, apalagi istri dua. Gampangnya kalau pas tidur, kalau sudah bangun perlu ini-itu.

Aku pulang jalan kaki, karena dekat tentunya, dan di gang gelap, tiba-tiba ada orang dari belakang membekap mulutku sambil mengancam minta uang. Ya Tuhan, asin sekali telapak tangannya. Kujurus dia dan kubanting, lalu lari aku menuju rumah dalam perasaan sangat gembira. Kuminta istriku mengulurkan tangannya. Kuciumi telapak tangannya. Tidak terlalu asin. Kuminta dia menggerak-gerakkannya agar berkeringat.

Ya Tuhan, asin sekali rasanya. Ini sumbernya, dia berkeringat berlebihan saat memasak, dan keringat itu adalah jenis keringat langka yang diderita orang-orang tertentu.

“Jadi, solusinya sarung tangan atau menikah lagi?” tanyaku menggoda dan istriku jadi tersipu-sipu malu.

 

(2017)

Advertisements