Cerpen Agus Noor (Koran Tempo, 05-06 Agustus 2017)

Saksi Mata ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo
Saksi Mata ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

SEPERTINYA, di antara berbagai macam kegilaan yang pernah terjadi, tak ada yang lebih ganjil dari apa yang akan kuceritakan ini.

Jenderal Ortega Galgado tak hanya mati tragis, tetapi juga menyedihkan. Ditemukan di semak belukar, mayatnya telah membusuk dalam keadaan bugil, berlepotan tai dan penuh luka bacokan serta sayatan. Tentu saja itu bukanlah cara mati yang pantas bagi Jenderal Besar dengan sederet bintang penghargaan, yang tempat pemakamannya saja sudah disiapkan di Taman Makam Pahlawan kelas VVIP dengan fasilitas lengkap, termasuk pendingin udara agar jasadnya bisa terbaring tenang di alam kubur.

Polisi tak kunjung mampu mengungkap pembunuhan itu, hingga banyak yang percaya bahwa itu adalah konspirasi tingkat tinggi. Terlebih-lebih setelah muncul desas-desus keterlibatan Jenderal Ortega Galgado dalam skandal korupsi yang melibatkan puluhan petinggi negara. Agar kecurigaan tak semakin liar, pemerintah merasa perlu membentuk pengadilan khusus yang langsung dipimpin Hakim Agung, agar menggelar sidang terbuka dengan memanggil saksi mata peristiwa pembunuhan itu.

Celakanya, satu-satunya saksi mata yang dianggap bisa mengungkap pembunuhan itu ialah seekor anjing. Dan anjing itu buta.

Bagaimanapun, nama baik dan martabat Jenderal Ortega Galgado harus dibersihkan, karena itu Hakim Agung tak perduli dengan segala macam sindiran dan kecaman hingga tetap berkeras memanggil saksi mata itu. “Ia harus memberikan kesaksiannya di bawah sumpah di hadapan hukum, karena itulah satu-satunya cara agar kita bisa mengetahui siapa pelaku pembunuhan yang mengerikan itu,” tegas Hakim Agung. Kau pasti sudah terlalu sering mendengar persidangan yang berlangsung aneh dan ganjil, tapi kau mungkin tak pernah membayangkan pengadilan semacam ini.

Keheningan terasa mencekam ketika Saksi Mata itu digiring masuk oleh dua petugas. Semua ternganga, antara takjub dan merasa begitu bodoh, ketika Saksi Mata itu melenggang tenang dengan ekor bergoyang-goyang. Wajahnya nyaris begitu datar, dengan hidung yang teramat pesek dan lebar, seperti anjing Pug, tetapi dengan kepala lonjong panjang dan leher pendek, seakan-akan ia campuran Buston Terrier dan Pomeranian tetapi dengan ekspresi yang sangat kampungan dan tubuh kudisan, hanya saja matanya yang hitam buta itu terlihat kosong tetapi begitu jujur tetapi juga terkesan tolol, hingga siapa pun yang bertatapan dengannya merasa begitu kasihan.

Advertisements