Oleh Setta SS (Eramuslim, 10 Juli 2009)

Memaknai Waktu Luang
Memaknai Waktu Luang ilustrasi www.bergoiata.org

SAYA masih duduk bertafakur di masjid setelah menunaikan shalat Isya malam itu. Ketika tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas tanpa permisi di benak ini.

Apa yang menghalangimu untuk menunaikan dua rakaat ba’diyah Isya?

Hening. Masjid sudah sepi dari para jamaah, menyisakan saya dan dua orang jamaah lain di belakang saya yang juga masbuk. Suara putaran tiga kipas angin yang terpasang di dinding dan langit-langit masjid mengisi sepi yang mulai merayap pasti.

Belum sempat syaraf di otak saya memproses sebuah jawaban, pertanyaan berikutnya sudah menghampiri.

Bukankah kau ingin diakui sebagai umat Rasulullah Saw. kelak di hari Kiamat?

Ibnu ‘Umar r.a. berkata, “Aku hafal 10 rakaat (shalat sunah) Nabi Saw., yaitu 2 rakaat sebelum Zhuhur, 2 rakaat setelah Zhuhur, 2 rakaat setelah Maghrib di rumahnya, 2 rakaat setelah Isya di rumahnya, dan 2 rakaat sebelum Shubuh.” (H.R. Bukhari)

Betul sekali.

Bahkan saya sangat sangat ingin diakui sebagai bagian dari umat Rasulullah Saw. kelak pada hari dimana manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Pada hari ketika ruh dan malaikat berdiri bershaf-shaf, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan hari di saat orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah saja.”

Adakah alasan untuk mengabaikannya?

Saya teringat ketika lebih tujuh tahun ke belakang masih sering mudik ke kampung halaman di Sumatera dengan menggunakan bis AKAP yang memakan waktu di jalan hampir 40 jam. Bunda tak pernah lupa mengingatkan saya untuk tidak usah berlama-lama ketika menunaikan shalat selama di perjalanan karena berbagai alasan yang dikhawatirkannya.

Saya bisa memakluminya, karena shalat wajib pun dianjurkan untuk diqashar dan sekaligus dijamak selama di perjalanan. Sedangkan sekarang ini, saya tidak sedang menempuh perjalanan jauh dan tak ada urusan mendesak untuk dikerjakan. Tidak dalam kondisi gawat darurat karena perang sedang berkecamuk atau dingin yang sangat, dan sehat wal afiat pula.

Tapi kan hukumnya sunah, bukan wajib, sisi hati saya yang lain menyumbangkan argumennya.

Lantas kapan kau akan mulai mengerjakannya? Semoga kau masih punya kesempatan sebelum nafasmu sampai di kerongkongan!

Buk!

Seperti bogem mentah yang menyodok telak keengganan-keengganan saya selama ini. Dan saya pun menyerah.

Ya Allah, bantu aku untuk meneladani jejak-jejak Rasul-Mu di sisa usiaku. Amin.

***

Jika setiap diri meyadari betapa berharganya waktu luang, tentu tidak akan pernah terjadi seorang pelajar atau mahasiswa menerapkan cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) saat masa ujian tiba. Tidak akan terjadi kelak di Hari Pembalasan sebagian manusia berteriak minta dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal kebaikan.

Mahasuci Allah yang telah menurunkan surat Al-‘Ashr dan Rasulullah Saw. yang telah mengingatkan kita tentang lima perkara sebelum datang lima perkara yang sebaliknya. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dikarunia kepekaan untuk mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan ini.

Allahu a’lam bish-shawaab. (*)

 

Yogyakarta, 29 Juni 2009 10:08 p.m.

Advertisements