Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 2017)

Wabah ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Wabah ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

BELAKANGAN ini, Kamirun sering murung. Semula, dia lelaki periang. Teman-temannya berdatangan saat petang. Tapi kini, dia hanya seorang diri mengurung diri dalam kamarnya. Tubuhnya yang hanya terbalut kaus oblong bolak-balik melihat layar ponselnya. Sudah sekitar empat hari Kamirun tak ramah dengan tetangga dan teman-temannya, apalagi pada keluarganya. Tak heran bila mereka menjauh selain masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri: penting dan tak penting.

Suminah yang merasa aneh dengan kelakuan suaminya, setiap malam merasa kesepian. Uang belanja untuk mengepulkan asap di dapur harus bertarung dulu dengan Kamirun untuk mendapatkannya. Anak-anaknya juga jarang di rumah. Mereka takut pada Kamirun yang beberapa kali memukuli ibunya saat minta uang belanja.

“Kenapa sih Bapak empat hari ini berubah drastis? Pemarah. Pendiam. Pemurung!” kata Suminah pada dirinya sendiri di dekat Kamirun.

“Kamu tak usah memanas-manasiku, Sum!” bentak Kamirun dengan mata melotot dan ludah bermuncratan. “Kamu tak tahu urusan bangsa!”

Suminah bergegas menuju dapur. Dia khawatir percekcokan dengan suaminya berujung cerai. Padahal, di dapur dia hanya mengelap piring yang sudah bersih dan mencuci kembali sendok-sendok yang tak perlu dicuci. Beras sudah tak ada. Uang belanja tak diberi oleh suaminya. Piring-piring dan beberapa perobat dapur mungkin bisa menepis emosinya. Pikirannya terus menjalar memikirkan tingkah suaminya yang aneh bagai rotan yang tak mau mati: terus menjalar.

Tiba-tiba, sebuah piring porselin melayang dan mengena dinding dengan suara yang menggema di sudut dapur. Seketika, tangan Suminah bergetar dan parasnya mulai memudar. Dia tak berani memalingkan wajah ke arah sumber piring terbang mengena dinding di sampignya. Kamirun berteriak-teriak.

“Istri tak becus. Pagi-pagi masih belum memasak!” katanya. “Tak bisa ngurus suami dan anak-anak!”

Lalu Kamirun keluar rumah dan pergi. Para tetangga Suminah berdatangan. Dia hanya terisak tangis di dapurnya ditemani dua anaknya yang baru siap berangkat sekolah. Suminah memeluk dua anaknya seperti kucing menyusui. Dua anaknya mengusap-usap matanya yang mulai ikut menangis karena Suminah menangis.

“Ada apa toh, Sum?” tanya Suharti yang masuk ke dapur Suminah. “Suamimu kenapa kok marah pagi-pagi?”

Suharti mengganti-alih dua anak Suminah dan menenangkannya. Dengan terbata, Suminah menceritakan kelakuan lakinya yang aneh. Belakangan diketahui, Kamirun ikut-ikutan marah gara-gara ormas yang didukung oleh sebagian orang dibubarkan. Padahal, dia tidak terlibat aktif di dalam ormas itu. Dia hanya terlibat adu komentar di ponsel pintarnya dengan beberapa orang yang membenci ormas itu.

Kelakuan Kamirun memang berlebihan. Dia yang tidak terlibat dalam ormas itu harus menelantarkan keluarganya dan menyalahkan istrinya sendiri. Hingga dia harus memukul Suminah gegara gagasannya ditentang oleh beberapa orang di media sosial dalam ponselnya.

Sesenggukan Suminah masih meledak-ledak. Pariyanto yang bergegas menyusul istrinya juga menampakkan batang hidung di ambang pintu rumah Suminah. Orang-orang sudah melenyapkan diri setelah tahu Pariyanto datang.

“Ya, Kamirun memang tak bisa menyikapi persoalan,” kata Pariyanto. “Apalagi di media sosial. Kemarin, aku saja hampir terbawa emosi membaca postingan-postingan beberapa netizen. Tapi, ya apa gunanya kita ikut-ikutan marah, toh itu bukan urusan utama kita.”

Suharti masih memberikan pundaknya untuk Suminah yang tak mau berhenti dari tangis. Tapi, setelah mendengar perkataan Pariyanto, dia mulai berusaha melepas sandaran bahu Suharti. Air matanya diusap. Dia ingin mendengar lebih jauh perkataan Pariyanto.

Tak hanya berhenti di sana Pariyanto bercerita. Dia pernah diajak demo oleh rekannya melalui akun media sosial. Waktu itu, dia memang benar-benar hampir ikut dan meledakkan emosinya. Tapi, dia berpikir kembali, jika ikut-ikutan hanya akan membawa konflik baru di antara mereka. Dia pun menenangkan diri dan berpikir lebih jernih untuk menetapkan pilihannya. Kini Kamirun terkena dampaknya. Persoalan yang bukan urusannya, malah dia terkena impas ledakan emosinya yang membabi buta.

“Kejadian itu sudah menjadi wabah,” kata Pariyanto. “Orang-orang yang tidak punya kepentingan terkena dampaknya. Mereka bermusuhan hanya karena beda pendapat dan saling caci. Tak mungkin orang yang menginginkan kebaikan malah saling mencaci dan menuduh yang bukan-bukan pada orang lain.”

Rumah Suminah semakin hening. Hanya suara pembicaraan Pariyanto yang mengalun landai menyerupai pertunjukan drama monolog. Tapi, Suminah mendengarkan dengan begitu tajam. Tak ada gunanya merespons suaminya sendiri yang sudah terkena wabah kebencian dari media sosial yang diikuti dan dibaca.

Mereka sudah tak peduli lagi dengan kepergian Kamirun yang entah kemana. Mungkin mereka tak mau terbawa oleh kemarahannya yang bisa menjadi wabah saat itu. Kamirun sendiri sudah tak berani diajak berembuk. Dia semakin tertutup oleh kemarahannya. Sehingga, dia tidak bisa melihat dengan jelas orang-orang yang sebenarnya tidak perlu disalahkan dan orang-orang yang seharusnya diperjuangkan. q– g

 

*) Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Menulis resensi, opini-esai.

Advertisements