Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 30 Juli 2017)

Perempuan Itu ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Perempuan Itu ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Tanah perkuburan itu masih basah dan gembur. Jejak langkah para peziarah bahkan belum sampai tersapu, dan kemuning yang tertancap ragu-ragu rubuh. Di bawah mereka ada jazad yang baru semayam, beberapa waktu lalu berpulang.

Hening masih tetap hening. Tiada terjerat isak, tiada terbelenggu duka nestapa. Sementara Buyung lelap dalam dekap. Belum melepaskan puting yang sejak tadi dia isap. Itulah yang menjadi senjata bagi Hening untuk tidak ikut mengantar sampai dekat pusara. Pada detik ini, kesetiaan dia akhirnya teragukan. Betapa tidak? Selama ini tak ada yang percaya perempuan itu benar-benar menaruh cinta. Mereka menganggap segala macam tindakan dia dusta belaka.

Hening tak mau ambil pusing. Orang yang membenci dia akan selalu benci, mengorek kesalahan yang dia lakukan, tak mau tahu seperti apa pedih segala macam rasa yang dia panggul selama ini. Mereka tak mengerti Hening sudah begitu tabah. Semua bentuk pahit yang terjejalkan dia telan sukarela. Hunjam demi hunjam perih tiap malam tak pernah sekali saja dia ungkapkan. Sekali tak membuat orang tertarik, selamanya tak menarik. Tak tersentuh seperti buku yang terabaikan. Hening sadar itu dan menerima.

Hidup adalah umpama. Sekuat apa pun mengelak, orang akan berkomentar hidup perempuan itu tak ubahnya pelelangan; dia satu-satunya “barang” yang mesti terjual. Dengan harga berapa saja, asal berpunya pada akhirnya. Sementara dia hanya menunggu di dalam kamar, selagi Bapak dan Ibu terkekeh-kekeh sampai menemukan keputusan final, dan orang-orang itu bersalaman setelah menemukan kesepakatan.

Setidaknya bukan dia yang mereka tuduh telah menghabisi sang suami. Mas Danar lelaki baik, Hening setuju. Mana mungkin dia tega merenggut hak Mas Danar untuk hidup, sementara selama ini hak dia sudah terpenuhi oleh lelaki itu, tanpa sekali saja Hening meninggalkan kewajiban.

Kini, yang tersisa dalam ingatan Hening adalah ketika Mas Danar memeluk erat, mencium tengkuknya seraya berkata, “Berikanlah cintamu kepadaku, Ning. Aku mencintaimu apa adanya.”

***

“Hening, tamu-tamu ingin pamit pulang.”

Hening masih rebah di atas tempat tidur bersama Buyung yang sudah pulas dan puas menyusu. “Sebentar lagi aku keluar, Bu. Ibu tunggu sebentar di luar.”

Perempuan tua, yang matanya masih menyimpan ketidakrelaan akan kepergian si anak itu, mengangguk pasrah. Menutup pintu, kemudian berlalu. Seperti biasa, dia tak pernah banyak bicara, menurut saja. Perempuan Jawa yang lembut dan santun.

Hening patuh kepada ibu mertuanya, setidak cinta apa pun dia kepada anak perempuan itu. Tak selang lama, Hening keluar mengenakan kerudung selempang hitam milik ibunya.

“Hening, kami pulang dulu. Kamu sabar ya. Jaga anak-anak dengan baik. Semoga kalian selalu mendapat perlindungan Yang Kuasa.”

Perempuan itu tersenyum dan mengangguk. Menyalami satu per satu mereka yang melempar pandangan iba sekaligus tak percaya. Sungguh, tak ada satu tetes saja duka mengalir dari kedua telaga Hening yang teduh.

***

“Hening, kau mau anak berapa?”

“Terserah Mas Danar.”

Hening meletakkan teh tawar kesukaan sang suami di meja dekat tempat tidur.

“Aku sayang kamu, Hening.” Mas Danar mengecup kening perempuan itu. “Perempuan yang bisa memenuhi semua kebutuhanku. Ibu dari anak-anakku. Terima kasih ya, Sayang.”

Hening tak kuasa menjawab. Semua yang Mas Danar butuhkan, benar selalu dia cukupkan. Dari memasak, mencuci pakaian, sampai menunggu sang suami pulang. Hening tak pernah sekali saja absen.

“Itu kewajiban. Lakukanlah. Kita berutang budi kepada dia sekeluarga.” Kalimat itu yang selalu Hening ingat saat dia berkeluh kepada Ibu atau Bapak.

“Hening.”

Perempuan itu menoleh, menatap Mas Danar.

“Besok tidak usah masak. Kita makan di luar bareng anak-anak.”

***

“Hening. Kau datang.”

“Anakku sekarang tiga.”

“Yang satu milikku.”

“Ya, yang pertama.”

“Kan sudah kuminta kau bersabar.”

“Kalau saja kesabaran yang kautawarkan tak lantas membuat Ningsih mbrojol dari kandungan. Kesabaranku berbatas, Mas.”

“Tapi bahkan sampai kau kemari pun, aku merasa kau belum mencapai batas yang kaubuat. Batas macam apa yang kaubicarakan?”

“Dan kesabaranmu?”

“Jauh lebih panjang dibandingkan dengan suamimu yang menunggu kau melayani dia atas nama cinta.”

“Biadab! Jangan bawa-bawa orang yang sudah tinggal jasad!”

“Tapi benar begitu kan?”

Hening tidak menjawab. Bayangan Mas Danar sekelebat masuk ke dalam ingatan. Sampai detik ini dia belum pernah melihat kubur itu. Mendoakan pun masih ragu-ragu. Terlepas dari pertanyaan apakah Mas Danar menunggu dia, karena Hening malu, Mas Danar pasti sudah tahu tak ada cinta bersemayam di jantung hati Hening untuk dia.

“Masuklah dulu, kita bicarakan di dalam.”

***

Sekuat apa pun mengelak, Hening tak bisa menahan gejolak cinta yang selalu dia rasa ketika berhadapan dengan sepasang mata Dalhar. Mata itu adalah satu-satunya surga di dunia yang bisa Hening cecap, terlepas dari kesadaran bahwa dia tak pantas tinggal di surga bersama sang suami kelak. Sadar bahwa bersama Dalhar, dia justru akan mendekam di jahanam. Namun lagi-lagi Hening tak mampu menahan cinta.

“Heningku sayang. Sudah lama aku memenjara rinduku kepada kamu.”

Hening tak berkutik, menikmati tiap sentuhan Dalhar. Kecup demi kecup seolah pembebasan dari kesadaran bahwa selama ini jiwa raga dia terpasung oleh cinta Mas Danar yang suci.

“Umur Ningsih berapa sekarang?”

Hening mendesah nikmat. Untuk apa pula percakapan itu hadir di atas ranjang? “Apa pedulimu? Kau bahkan tak pernah datang pada kami sekali saja.”

“Kau sudah bersuami,” jawab Dalhar sambil memeluk erat tubuh berkulit halus itu dan mengecup mesra kening perempuan itu.

“Tak jadi alasan kalau kau benar-benar mencintai kami.”

“Aku kira kalian bahagia di sana.”

“Dia bahagia, aku tersiksa. Tidakkah kamu membayangkan harus melayani orang yang tidak aku cinta? Betapa perih hunjam demi hunjam yang aku tanggung setiap kami melakukannya.”

“Maafkan aku. Sekarang aku milikmu.”

Hening terpejam, menikmati setiap gerak Dalhar. Merasakan betul lembut tangan Dalhar yang mengusap punggung. Tak pernah ada yang bisa menguras cinta Hening seperti Dalhar lakukan. Hening balas memeluk laki-laki itu erat, mengecup pundak kekar itu yang terbalas dengan ciuman ke tengkuk Hening.

Mesra Dalhar berujar, “Berikan lagi cintamu padaku, Ning. Aku akan mencintaimu. Apa adanya.”

Sejurus kemudian Hening membuka mata. Ada sesuatu yang seolah membentur hati dan pikiran begitu mendengar kalimat itu. Menggulung batas antara ingatan, kenangan, dan perasaan kehilangan Mas Danar.

“Mas Danar,” ucap dia lirih nyaris tak terdengar sambil melepaskan pelukan. Tiba-tiba saja ada rindu menguat, memeras perasaan Hening.

“Aku mencintaimu, Ning,” ucap lelaki itu lagi.

Hening tak menjawab. Terngiang tangisan Buyung yang dia tinggalkan bersama Ningsih di rumah. Ya, Tuhan, sudah pukul berapa sekarang? Mereka bahkan belum makan. Perempuan itu tak tenang, sementara Dalhar tidak melepaskan peluk dan mengecup lembut bibir merah delima Hening yang justru mengelak dan mendorong lelaki itu menjauh.

“Aku harus pulang,” ucap dia seraya bangkit, mengenakan kembali baju yang tergeletak di lantai, kemudian tergesa-gesa keluar kamar.

“Ning, kamu kenapa? Kita bisa bersama sekarang?”

“Lalu anak-anakku?”

“Ningsih akan tinggal bersama kita?”

“Anakku empat.”

“Biarkan yang lain tinggal bersama simbah mereka.”

Sesak hati Hening mendengar jawaban Dalhar. Laki-laki tak punya hati yang hanya menginginkan tubuh dia. Tak lebih dari itu. Perempuan itu geram. Setelah membanting pintu kamar, dia berlalu pulang.

“Bu, Dik Buyung bangun,” ucap Ningsih sambil menenangkan si adik dalam pelukan.

Hening mengambil alih Buyung, membawa bocah itu ke kamar dan menidurkan ke kasur yang masih menyisakan aroma tubuh Mas Danar. Entah bagaimana, hati perempuan itu tiba-tiba saja dingin. Tidak ada satu pun laki-laki setulus Mas Danar yang mau menerima Hening lengkap dengan sperma orang lain yang bersarang dan berkembang dalam rahimnya.

“Mas, aku kangen.” (44)

 

Banaran, 4 Juni 2017: 13.22

Rahmy Madina, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. Dia menulis puisi dan cerpen. Kini, tinggal di Semarang.

Advertisements