Cernak Muhammad Fauzi (Suara Merdeka, 30 Juli 2017)

Apel Pak Thomas ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka.jpg
Apel Pak Thomas ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Di Desa Laprika, hanya Pak Thomas yang memiliki pohon apel. Pohon apel merah itu tumbuh subur di depan rumah Pak Thomas. Buahnya sangat banyak. Saking banyaknya, buah apel itu merunduk hampir menyentuh tanah.

Sayangnya, Pak Thomas pelit! Ia tidak mau berbagi dengan tetangganya. “Pak Thomas, boleh saya minta apelnya? Satu saja! Saya sedang hamil tua, Pak!” pinta Bu Soraya sambil mengelus perut besarnya.

“Tidak bisa, Bu Soraya. Saya membeli bibit apel ini di kota. Merawatnya juga tidak mudah. Sebaiknya Bu Soraya membeli sendiri bibit apel di kota,” jawab Pak Thomas.

Melihat kejadian itu, Bu Thomas, istri Pak Thomas, menggelengkan kepala.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Pak Thomas tidak boleh dimintai buah apelnya. Pernah seorang anak kecil merengek pada ibunya karena menginginkan apel itu. Tapi lagi-lagi Pak Thomas tidak memberikannya dengan alasan sama.

Malam ini, Pak Thomas tidur lebih awal. Karena besok ia akan memanen apel-apelnya. Pak Thomas ingat, ada tujuh puluh buah apel di pohonnya. Ia menghitungnya setiap hari. Karena ia tak ingin apel itu hilang satu pun.

“Tidak mungkin kita mampu menghabiskan semua apel itu, Pak. Kita berikan saja sebagian kepada tetangga,” usul Bu Thomas saat makan malam.

Pak Thomas tertawa, kumisnya ikut bergerak.

“Ingat perjuangan saya saat merawat pohon apel ini, Bu? Rasanya sangat disayangkan jika saya membaginya secara cuma-cuma.”

Lagi-lagi Bu Thomas menggelengkan kepala. Tiba-tiba Bu Thomas mendapatkan ide.

***

Pak Thomas bangun pagi-pagi sekali. Ia berniat memanen apel-apelnya. Tiba-tiba mata Pak Thomas terbelalak. Ia sangat terkejut melihat apel-apelnya hilang.

“Istriku, apel-apel kita hilang! Kamu tahu siapa yang mencurinya?” teriak Pak Thomas sambil mencari Bu Thomas di dalam rumah.

Pak Thomas semakin geram karena Bu Thomas tidak ada di rumah. Pak Thomas memutuskan untuk mencari pencuri apel-apelnya.

“Pencuri kurang ajar!” gumam Pak Thomas marah. “Berani sekali mencuri apel-apelku. Awas saja kalau ketemu,” Pak Thomas mengepalkan tangannya.

Pak Thomas berjalan bingung ke sana kemari. Ia tak tahu harus mencari si pencuri apelnya ke mana lagi.

“Kelihatannya, gelisah sekali, Pak Thomas. Kenapa?” tanya Bu Soraya.

“Apel-apel saya hilang!” jawab Pak Thomas lesu.

“Hah?! Kok bisa, Pak?” tanya Bu Soraya heran.

“Hmm, kalau begitu beruntung sekali saya, ada bidadari cantik yang memberi apel segar ini,” lanjut Bu Soraya sambil menunjukkan apel di tangannya.

Pak Thomas sangat terkejut. “Siapa dia?”

Bu Soraya menaikkan pundaknya. :Saya tidak kenal, Pak!”

“Di mana dia?”

“Bidadari cantik itu berjalan ke arah utara. Ia cuma berpesan agar biji apel ini ditanam. Ia juga mengajarkan cara menanam dan merawat pohon apel.”

“Pasti dia yang mencuri apel-apelku,” gumam Pak Thomas.

Pak Thomas berjalan ke utara. Namun, bidadari cantik itu sudah tidak ada. Karena lelah, ia memutuskan beristirahat. Tiba-tiba Pak Thomas terbangun mendengar suara anak kecil.

“Apelnya segar sekali, Bu,” kata Ben kepada ibunya.

“Jangan lupa bijinya ditanam!” seru Bu Sarah.

“Bidadari itu baik ya, Bu.”

Pak Thomas mendekati Ben dan Bu Sarah.

“Dari mana apel itu?” tanya Pak Thomas. “Dari bidadari cantik. Sekarang dia berjalan ke timur,” jawab Ben. Pak Thomas meneruskan langkahnya. Ia berbelok ke arah timur. Namun, bidadari itu tidak ada.

Tiba-tiba, Pak Thomas sangat terkejut saat melihat kerumunan orang sedang makan apel merah.

“Wah, sayang sekali, Pak Thomas terlambat. Bidadari yang membawa sekeranjang apel merah sudah pergi,” kata Pak Kevin.

“Sepertinya dia berjalan ke arah selatan. Mungkin dia akan ke rumah Pak Thomas untuk membagikan apelnya,” ujar Pak Mike.

Tanpa berpikir panjang, Pak Thomas lari menuju rumahnya. Dari kejauhan, ia melihat perempuan bergaun ungu dan wajahnya bercadar. Di samping perempuan itu ada keranjang rotan. Pak Thomas mempercepat langkahnya.

Pak Thomas sangat terkejut ketika sampai di depan rumahnya. Perempuan itu membuka cadarnya, ternyata Bu Thomas. Jadi, bidadari cantik yang membagikan buah apel itu, Bu Thomas?

“Suamiku, maafkan aku. Kalau minta sama kamu, pasti kamu marah. Separuh dari buah apel di pohon, aku bagikan kepada warga. Separuhnya lagi aku simpan di lemari untukmu.”

Mata Pak Thomas terbelalak.

“Biar warga sekitar ikut merasakannya. Aku menyuruh warga untuk menanam biji apel itu. Aku juga memberitahu cara menanam dan merawat pohon apel yang benar. Cara yang selama ini kamu rahasiakan. Aku ingin Desa Laprika menjadi desa penghasil apel.”

Pak Thomas pun tersadar dan tersenyum haru. “Kamu memang istriku yang berhati bidadari.”

Bu Thomas tersenyum, membuatnya semakin cantik. Bu Thomas tahu, suaminya sangat bahagia. (58)

Advertisements