Oleh Setta SS (Kotasantri, 31 Mei 2009)

Menunggu Hujan Reda ilustrasi google.gif
Menunggu Hujan Reda ilustrasi www.gph.is

RASYID, sang imam shalat Ashar sore itu, baru saja mengucapkan salam kedua dan menolehkan kepalanya ke arah kiri saat butiran air hujan jatuh satu-satu menimpa atap seng di tempat wudlu masjid. Beberapa saat kemudian, jarum air itu semakin rapat menghunjam bumi, terdengar dari ritme khas yang terpantul pada atap seng itu.

Tak lama berselang, saya beranjak keluar masjid dan berniat hendak langsung pulang. Pantalon bagian bawah saya lipat hingga hampir menyentuh lutut. Tapi ternyata hujan semakin deras. Dan saya tidak membawa payung.

Saya maju mundur antara pulang saat itu juga atau menunggu hingga hujan sudah benar-benar reda. Tempat kos saya sekitar seratus meter dari masjid. Itu artinya, kemeja dan pantalon saya pasti akan basah kuyup jika memaksakan diri pulang. Tentu bukan sebuah keputusan yang bijak merelakan begitu saja pakaian saya basah dengan sengaja. Kecuali ada keperluan penting yang memaksa saya untuk segera tiba di kos.

Pada akhirnya, saya lebih memilih menunda pulang dan mencoba menikmati hujan deras sore itu. Hujan adalah sebagian dari rahmat-Nya, bukankah demikian adanya?

Saya berdiri menyandarkan punggung ke salah satu dinding di beranda masjid yang sekaligus menjadi dinding sebuah ruang kelas TK Islam yang menyatu di sisi kanan dan kiri masjid. Di dalam masjid, beberapa jamaah nenek-nenek masih khusyu melanjutkan zikirnya. Sebagian jamaah putra duduk-duduk di pintu masjid dan di sebuah bangku panjang dekat papan informasi dalam hening. Seorang bapak setengah baya berdiri mematung dekat tiang besi penyangga atap beranda. Dua orang remaja tampak berbincang di sudut yang lain. Sementara seorang teman saya duduk termangu di sebuah ayunan TK yang sedang bergoyang. Ya, halaman depan masjid seluas 14 x 9 meter persegi di mana terdapat ayunan dan beberapa alat permainan kreatif milik TK Islam itu berada di bawah atap permanen.

Angkasa semakin disesaki jarum air. Tak ada suara petir sore itu. Hanya jutaan ton air tumpah ruah dan seketika menggenangi tanah.

Masih ingatkah bagaimana hujan terbentuk?

Sebagian kecil air yang ada di lautan, danau, waduk, sungai atau sumber air lainnya akan menguap di siang hari. Uap mengalami kondensasi (pemadatan) dan terbentuklah awan yang bergerak tertiup angin. Kumpulan awan membentuk gumpalan awan yang semakin membesar. Gerakan udara ke arah vertikal mengakibatkan gumpalan-gumpalan awan menyentuh atmosfer yang bersuhu lebih rendah hingga terbentuklah butiran-butiran air atau es. Di saat angin tak sanggup lagi menopang butiran air yang semakin menyesaki awan, jatuhlah ia sebagaimana yang kita kenal dengan hujan atau hujan es.

Sejalan dengan apa yang dideskripsikan-Nya dalam ensiklopedi ilmu pengetahuan terlengkap, Al-Qur’an.

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya.” (Q.S. Ar-Ruum [30] : 48)

“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung.” (Q.S. An-Nuur [24] : 43)

Hampir tiga puluh menit berlalu, belum juga ada tanda-tanda hujan akan segera mereda. Seorang nenek berdiri memegangi payung kecilnya sambil memandangi lelehan air yang jatuh dari atap beranda. Teman saya yang duduk di ayunan TK dan beberapa jamaah lain tampak sudah kehabisan kesabarannya. Dengan muka kesal mereka menerobos derai hujan dan genangan air setinggi di atas mata kaki. Tak peduli lagi pakaian mereka akan basah kuyup saat sampai di kediamannya nanti.

Subhanallah! Sesungguhnya segala sesuatu sudah ditetapkan ukurannya masing-masing. Begitupun dengan hujan deras sore itu. Karena tak lama kemudian, jutaan jarum air itu hanya tinggal menyisakan gerimis yang semakin jarang.

Sambil melangkahkan kaki meninggalkan pelataran masjid, hati saya berbisik lirih, “Mungkinkah ujian kesabaran itu seperti menanti hujan reda sore ini?” (*)

 

 Yogyakarta, 27 Mei 2009 03:04 p.m.

Advertisements