Dongeng Muhammad Fauzi (Suara Merdeka, 23 Juli 2017)

Rolly Penjaga Hutan ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Rolly Penjaga Hutan ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Wali Kota Kurcaci memberikan pekerjaan baru kepada Rolly kurcaci sebagai penanam pohon di hutan. Wali Kota prihatin karena pohon di hutan semakin berkurang. Akibatnya, cuaca menjadi panas. Warga kurcaci juga mengeluh pada Wali Kota karena debu dan asap yang menyesakkan dada.

Dengan senang hati Rolly menerima pekerjaan barunya. Setiap pagi, Rolly bergegas menuju hutan sambil membawa gerobak dorong berisi bibit pohon. Agar tidak bosan, Rolly bekerja sambil bernyanyi.

“Hai, Rolly…”

Tiba-tiba ada yang menyapa Rolly. Rolly mencari asal suara itu. Ternyata Pak Wood, si kurcaci penebang pohon. Selain menebang pohon, Pak Wood juga pandai membuat perabotan rumah tangga dari kayu.

“Selamat pagi, Pak Wood. Ada berapa pohon yang Pak Wood tebang pagi ini?” tanya Rolly.

“Aku akan menebang tiga pohon, Rolly. Ini untuk membuat lemari pesanan Nyonya Tarra,” jawab Pak Wood sambil memotong pohon menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dibawa pulang.

“Baiklah, Pak Wood. Aku akan menanam lagi tiga pohon di hutan ini. Sampai bertemu lagi, Pak Wood,” Rolly bergegas pergi meninggalkan Pak Wood.

Setelah berjalan cukup jauh, langkah Rolly terhenti saat mendengar suara pohon yang ditebang. Rolly menajamkan pendengarannya sambil berjalan. Ternyata Pak Topan kurcaci dibantu kedua anaknya sedang menebang pohon.

“Selamat siang, Pak Topan. Berapa pohon yang Pak Topan butuhkan hari ini?” tanya Rolly.

“Sepertinya aku membutuhkan banyak pohon, Rolly. Besok aku akan membangun rumah baru di tepi danau. Rumah lamaku sudah rusak. Mungkin aku membutuhkan 10 pohon hari ini,” jawab Pak Topan.

“Baiklah, Pak Topan. Aku akan menanam 10 pohon di hutan ini. Selamat bekerja kembali, Pak Topan,” Rolly segera mengambil bibit pohon dari gerobak dorongnya. Satu jam kemudian, Rolly berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

***

Sebulan bekerja, Rolly mulai bosan. Ia merasa pekerjaannya tidak menguntungkan. Sejak Rolly bekerja menanam pohon, banyak kurcaci yang menebang pohon sesukanya. Akibatnya, pekerjaan Rolly semakin berat.

Seharian berpikir, Rolly akhirnya menemukan ide. Diam-diam Rolly tidak akan menjalankan tugasnya sebagai penanam pohon. Rolly jengkel karena pohon yang ditebang setiap hari semakin bertambah.

“Itu, kan sudah menjadi pekerjaanmu, Rolly,” jawab Wali Kota ketika Rolly menyampaikan idenya.

“Aku capai, Pak Wali Kota. Para kurcaci semakin ganas menebang pohon. Kita lihat saja reaksi warga setahun lagi. Aku yakin mereka akan segera sadar,” kata Rolly.

“Baiklah Rolly, aku mengerti maksudmu.”

***

Baru dua bulan Rolly berhenti bekerja, para kurcaci sudah mengeluh pada Wali Kota karena cuaca panas. Mereka protes karena tempat tinggal mereka yang dulunya sejuk menjadi gersang.

“Sepertinya Rolly tidak menjalankan tugasnya dengan baik, Pak Wali Kota,” lapor Pak Wood kesal.

“Sekarang hutan mulai gundul karena Rolly tidak menanam pohon lagi.”

“Betul, Pak Wali Kota. Rolly harus bertanggung jawab,” timpal Pak Bullo.

“Kami sebagai penebang pohon, bingung memilih pohon yang akan ditebang. Semua pohon di hutan masih muda. Kualitas kayunya tentu tidak sebagus kayu yang sudah puluhan tahun. Kalau Rolly tidak menanam pohon lagi, bagaimana nasib kami selanjutnya?” ucap Pak Topan geram.

Wali Kota yang bijaksana itu menjawab, “Seharusnya hutan menjadi tanggung jawab kita semua. Namun alangkah baiknya jika kita yang menebang pohon, wajib menanam kembali pohon di hutan. Bukannya membebankan tugas kepada Rolly. Ini semua memang salah saya. Sekarang, kalian semua sudah tahu pentingnya menjaga hutan. Mulai sekarang, yang menebang pohon wajib menanam pohon juga. Bagaimana, setuju?”

Para kurcaci tertunduk malu sambil mengangguk. Sekarang mereka sadar betapa pentingnya menjaga hutan. Rolly yang sejak tadi mengawasi di balik pagar, akhirnya bisa tersenyum lega. (58)

Advertisements