Cerpen Agus Noor (Kompas, 23 Juli 2017)

Lelucon Para Koruptor ilustrasi AG Rama Dalem - Kompas
Lelucon Para Koruptor ilustrasi AG Rama Dalem/Kompas

Ada yang tak disampaikan ketika ia masuk penjara: mesti menyiapkan banyak lelucon. Mungkin Join Sembiling SH lupa soal itu. Pengacara yang menangani kasusnya itu hanya mengatakan kalau ia tak usah terlalu khawatir selama menjalani 8 tahun masa tahanannya karena segala sesuatunya sudah ada yang atur dan urus. “Percayalah, penjara bukanlah tempat yang menyeramkan bagi koruptor,” katanya setengah tertawa.

Kehilangan kebebasan, bagaimanapun membuatnya merasa tertekan. Ia membayangkan kehidupan yang begitu membosankan dan akan mati kesepian. Tapi pengacara berpenampilan perlente itu, yang sudah menangani puluhan kasus korupsi, menenteramkannya, “Anggap saja kau hanya pindah tempat tidur. Kau tetap bisa menjalankan bisnismu dan menikmati hal-hal yang kau sukai seperti biasanya.”

Ia kini benar-benar percaya dengan semua yang dikatakan pengacaranya. Ia tak perlu pusing memikirkan kebutuhan hidup bulanan istrinya karena sudah ada yang menanggung, juga biaya sekolah anak-anaknya. Kawan-kawan dan atasan yang merasa diselamatkannya—karena ia tak menyebutkan nama mereka selama persidangan—telah diatur oleh Join Sembiling SH agar membantu semua kebutuhan rumah tangganya sebagai “ucapan terima kasih”. Bahkan, ia masih bisa berkomunikasi dengan mereka, dan istrinya bisa sewaktu-waktu menemuinya bila memang ia membutuhkan untuk “menyelesaikan hasratnya”. Bila merasa bosan dan pengin sedikit refreshing berjalan-jalan di luar, semua “prosedur formal akan dibereskan dengan biaya secukupnya”. Bila kangen makanan kesukaan, tinggal telepon dan akan segera ada yang mengantarnya.

Yang menggelisahkan justru karena ia mesti menyiapkan lelucon. Ini ia ketahui setelah dua minggu dalam penjara. Ia diundang mengikuti pertemuan dengan para penghuni lama. “Ini pertemuan yang rutin diadakan tiap malam Rabu,” ujar Sarusi, kawan satu selnya, anggota dewan yang tertangkap tangan karena kasus suap reklamasi. “Kau bisa berkenalan dengan orang-orang terhormat di sini. Kesempatan langka, yang mungkin tak akan bisa kau dapatkan bila kau masih di luar sana.” Sarusi tersenyum. “Siapkan saja satu lelucon paling lucu yang kau punya, yang bisa menentukan martabatmu.” Ia bingung saat itu.

***

Advertisements