Cerpen Dul Abdul Rahman (Fajar, 23 Juli 2017)

Lelaki Tomanurung dan Seorang Perempuan Setia ilustrasi Fajar Makassar (1).jpg
Lelaki Tomanurung dan Seorang Perempuan Setia ilustrasi Fajar

Seolah bersekutu dengan matahari pagi, seorang lelaki berada di pematang memandangi bulir-bulir padi. Matanya menyapu hamparan persawahan yang membentang luas diantara lereng pegunungan. Tanah yang landai membuat pemandangan sawah seperti anak tangga yang menjulur ke bawah. Lelaki itu berdiri tepat di pematang paling atas. Matanya tak pernah berkedik. Sepertinya ia takut kehilangan panorama hamparan sawah yang indah walau sedetikpun.

Ia berdiri tegak. Seperti memberi hormat kepada sang dewi padi, Dewi Sri, agar bulir-bulir padi padat berisi. Ia mematung. Mutung. Angin pagi yang hanya sepoi-sepoi mengibarkan helai rambutnya yang mungkin tak pernah tersentuh sisir. Wajahnya tirus. Mungkin tak terurus. Kelihatan pakaiannya agak basah. Embun pagi telah memandikannya.

Aku mengawasinya dari jauh. Aku teramat ingin tahu tentang lelaki itu.  Tapi aku tak berani mendekatinya seorang diri. Aku hanya berpindah dari pematang ke pematang.

“Apakah orang itu waras?” tanyaku pada seorang petani yang baru saja tiba di lokasi persawahan.

“Yang mana?”

“Lelaki yang di ujung sana.”

“Lelaki yang menghadap ke timur itu?”

“Benar.”

“Oo…ma…masyarakat disini mengenalnya sebagai lelaki tomanurung,” petani itu menjawab geragapan. Kerongkongannya seperti dicegat sebaris rahasia.

“Lelaki tomanurung?”

“Lelaki penentu baik-buruknya hasil panen padi petani.”

“Hah! Berarti lelaki itu jelmaan dewa, atau jelmaan Tuhan?”

“Sa…saya tidak tahu,” petani itu nampak pucat dan ketakutan. Aku bisa memahaminya, membicarakan lelaki sang penentu nasib bisa-bisa merugikan nasib sendiri.

“Coba tanya kepada orang itu,” petani itu menjauh sambil menunjuk seseorang tetua yang datang ke pematang tempat aku berdiri.

Rupanya yang datang adalah seorang lelaki tua yang cukup disegani di kampung itu. Aku mengenalnya sewaktu ia dan kepala desa datang menjemputku di kantor kecamatan saat acara penjemputan penyuluh pertanian. Dari raut wajahnya, jenggot yang sudah memutih dan memanjang, aku bisa meraba-raba seperti apa orang tua itu. Seorang ponakan kepala desa pernah bercerita kepadaku, lelaki tua itu menguasai ilmu gaib.

Lelaki tua itu semakin mendekat. Syukurlah. Ada tempatku bertanya mengenai lelaki tomanurung penentu nasib petani tersebut.

“Sudah tujuh hari aku melihatnya mematung di situ, Pak.”

“Memang baru seminggu kamu berada di desa ini, Nak.”

“Maksud Bapak?”

“Lelaki itu sudah bertahun-tahun disitu.”

“Bertahun-tahun?”

“Sudah tujuh tahun.”

“Setiap hari?”

“Yah, setiap hari disaat padi berbuah,” orang tua berjenggot itu mendesah, “Tetapi lelaki itu hanya datang bersamaan munculnya bulir-bulir padi. Ia datang menjelang matahari terbit. Lalu menghilang ketika matahari naik sepenggalah. Esoknya datang lagi lalu menghilang. Terus menerus. Hingga menjelang panen, ia benar-benar menghilang. Tapi musim berikutnya, ia akan muncul bersamaan munculnya bulir-bulir padi.”

“Apakah orang-orang disini tidak takut, Pak?”

“Ada yang takut, ada juga tidak.”

“Jadi?”

“Jadi begitulah. Biasanya petani yang takut akan turun melihat sawahnya selesai sholat dhuha disaat lelaki itu sudah menghilang. Bagi yang tidak takut tetap seperti biasa. Mereka menganggap biasa lelaki itu.”

“Tapi mengapa orang disini tidak berusaha mengusir lelaki itu, Pak?”

Diam. Orang tua itu hanya mengangkat jari telunjuk ke mulutnya. Aku tahu maksudnya. Orang tuaku berlaku serupa bila aku menanyakan hal-hal yang berbau pamali. Aku juga diam. Beberapa jenak kemudian, orang tua itu melanjutkan ceritanya dengan suara yang melemah.

“Nak! Kami sudah menganggap lelaki itu sebagai lelaki tomanurung, ia adalah utusan Dewi Sri, ia penentu hasil panen kami.”

“Dewi Sri?”

“Ya, bahkan seandainya ia seorang perempuan, kami pasti sudah menganggapnya jelmaan Dwi Sri.”

“Mungkin Dewa Sri, Pak.”

Aku tak bisa menahan keceplas-ceplosanku. Tapi kulihat orang tua itu tak terpengaruh dengan omonganku. Ia melanjutkan ceritanya. Aku semakin tertarik mendengarnya. Amat tertarik. Gaya bertutur orang tua itu mengingatkan aku pada almarhum kakekku yang bijaksana. Tidak seperti sosok almarhum ayahku, yang setiap ucapannya bagaikan titah dan sabda bercampur pamali.

“Kami benar-benar menganggapnya tomanurung utusan Dewi Sri, Nak.”

“Pernah dulu kami bermufakat untuk mengusir lelaki itu. Tapi kami baru berencana, lelaki itu sudah menghilang. Semusim lelaki itu menghilang. Tapi kami semua beroleh celaka. Selama musim itu panen kami gagal total. Padi diserang hama yang mengganas. Burung pipit, wereng, pun tikus memorak-morandakan padi kami. Kami tak bisa mengatasinya meski kami melakukan penjagaan ketat. Lalu…” Orang tua itu kelihatan sedih mengingat masa-masa gagal panen.

Aku turut bersedih.

“Musim selanjutnya kami berkumpul memohon kepada Sang Patatoqe agar panen kami tidak gagal lagi. Agar kami tidak kelaparan lagi. Kami berjanji akan menjadi warga yang baik, tidak mengusir siapa saja yang datang ke kampung kami, akan menjaga kelestarian alam kami. Akhirnya kami semua bersyukur, panen padi kami semakin melimpah seiring dengan munculnya juga lelaki itu. Kami benar-benar berterima kasih pada lelaki itu.”

Orang tua itu melirik kepada lelaki yang berdiri mematung di sana. Aku juga melirik. Kami sama-sama kaget.

“Matahari memang sudah naik sepenggalah.”

Aku mengerti maksud orang tua itu. Tapi aku masih sedikit penasaran dengan lelaki itu. Seberapa hebatkah ia, lalu bisa menentukan baik-buruknya hasil panen. Mungkinkah aku bisa mengenalnya? Mengapa penduduk disini tidak berusaha mendekati dan mengenalnya. Aku memang sudah membaca dongeng Dewi Sri sebagai dewi padi, dewi kesuburan. Tapi bukankah itu hanya dongeng?

“Nak! Saat-saat seperti ini, ketika matahari naik sepenggalah, penduduk akan turun memeriksa sawahnya, membersihkan rumput yang tumbuh di pematang, termasuk saya, Nak.”

“Tapi mohon waktunya sebentar lagi, Pak.”

“Apa belum jelas tadi, Nak?”

“Begini Pak, apakah aku boleh mengenalnya secara dekat. Kalau boleh biarlah besok atau mungkin lusa aku langsung menemuinya saja.”

“Hush!”

Sekali lagi orang tua itu meletakkan telunjuk di mulutnya. Orang-orang memang sudah mulai berdatangan ke sawah. Bahkan sebagian perempuan terlihat menjinjing rantang yang berisi lauk-pauk untuk bekal makan siang suami mereka.

“Nak! Lelaki itu tak mungkin didekati. Ia akan menghilang kalau kita mendekatinya. Ia hanya nampak dari kejauhan.”

“Seperti pelangi, Pak?”

“Mungkin saja, Nak. Tapi jangan coba-coba berniat mendekatinya, nanti kau beroleh celaka.”

Orang tua itu menjawab sambil bergegas meninggalkan aku. “Ih!” Aku juga bergidik mendengar cerita orang tua itu.

Matahari telah merangkak lewat sepenggalah. Ramai orang bekerja di hamparan sawah itu. Ada yang mencabuti rumput. Ada yang mengecek lubang, takut kalau ada tikus yang bersarang. “Akh!” Pantas saja desa ini surplus beras karena penduduknya tiap hari mendekam di sawah.” Aku membatin memuji sambil meninggalkan area persawahan yang luas itu.

Aku begitu menikmati profesiku sebagai penyuluh pertanian di Desa Sangiasserri ini. Senang rasanya aku bisa bergaul kembali dengan lingkungan pedesaan.

Sepuluh tahun berjalan aku tinggal di Desa Sangiasserri. Aku begitu bahagia. Lahan-lahan pertanian menghijau, menghampar luas. Benarlah kata orang-orang Eropa sana, apapun yang ditanam di negeriku akan tumbuh subur. Ya benar.

Desa Sangiasserri memang tidak pernah berubah. Sejak dulu selalu surplus beras. Selain sebutan surplus beras, satu lagi belum berubah di kampung ini. Kuasa orang tua terhadap anak gadisnya masih mengcengkeram. Meski surplus beras, lelaki lajang tetap tak berdaya. Uang panai semakin tak tergapai. Tetapi sebagian lelaki lajang tak mau terperdaya, mereka memilih jadi TKI di Sabah Malaysia, lalu menikah di sana dengan biaya yang tak menyiksa. Lalu kembali ke kampung halaman.

Alhasil, Desa Sangiasserri dibanjiri oleh perempuan-perempuan berumur yang gigit jari. Kekasih mereka terpaksa lari ke lain hati, ke lain desa, karena mereka tak menjangkau uang panai yang dipatok oleh orang tua sang perempuan. Dari perempuan-perempuan berumur itulah, aku mendapat cerita asal mula lelaki tomanurung versi lain. Konon, lelaki tomanurung itu adalah jelmaan lelaki yang terpaksa bunuh diri di pematang sawah tujuh belas tahun silam. Musabab lelaki itu bunuh diri, ia tak mampu memenuhi uang panai yang dipatok oleh orang tua kekasihnya. Versi lain kudengar, lelaki itu berusaha bunuh diri bersama kekasihnya, tetapi perempuan itu bisa diselamatkan, bahkan perempuan itu akhirnya pindah ke kota. Ada yang menambahkan, perempuan setia itu bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Warga Desa Sangiasserri, terutama kaum perempuan berumur, memang pandai berkisah. Belum juga aku meninggalkan desa itu, mereka sudah mencipta kisah tentang diriku: Ibu penyuluh sang perawan tua.

 

Tomanurung      = orang yang turun dari langit.

Sang Patotoqe   = Sang penentu nasib, dewa tertinggi dalam kepercayaan Bugis Kuno

Uang panai        = uang belanja, uang mahar bagi masyarakat Bugis-Makassar